www.wikipedia.com

Tuesday, March 16, 2010

Futsal, Ngopi, dan PS-an


Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat kata pepatah kuno Yunani. Disadari atau tidak, banyak dari kalangan Mahasiswa dan Pelajar Kota Malang khususnya memanfaatkan waktu senggangnya dengan olahraga futsal, nongkrong di warung kopi, pergi ke rental playstation guna menyegarkan kembali fisik dan psikisnya yang sedang lelah setelah kuliah atau sekolah.
Gayungpun bersambut, semakin hari arena futsal menjamur dimana-mana dengan fasilitas dan tarif beragam, warung kopi tradisonal hingga hot-spot sudah menjadi keseharian, belum lagi sewa antar jemput PS telah menjadi simbiosis mutualisme antara Gamer dan Renter PS.
Beberapa diantara tempat-tempat tersebut diatas memiliki daya tarik tersendiri, salah satunya adalah lokasi futsal yang unik letaknya. Kalau anda sedang bepergian lewat Landungsari dalam tengoklah di tengah-tengah terminal angkutan kota JDM, lapangan futsal cukup megah dan lengkap telah tersedia disana. Lain lagi di Sukun ada warung kopi ASNGOJA (asyiknya ngopi aja) yang diprakarsai oleh alumni Santri Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Faiq namanya, posisinya 150 m ke arah Gadang kanan jalan, dia terinspirasi novel sufistik “Kedai Sufi Kang Luqman” karya KH. Luqman Hakim. Dia ingin menjadikan warung kopinya menjadi sebuah kedai ilmu bagi seluruh lapisan masyarakat, apapun warnanya, kulitnya, agamanya, dan seterusnya. Beda lagi dengan sewa antar jemput PS satu ini, Abi-Umi namanya beralamatkan di Sumbesari gang 2 sekaligus komisariat organisasi ekstra mahasiswa non politik. Awalnya yang empunya usaha PS ini adalah penggila PS, namun lambat laun dia menjadikan hobinya itu sebagai sebuah peluang usaha guna menjadikan dirinya lebih mandiri dan bertanggungjawab dari sebelum-sebelumnya.
Dari contoh diatas kesemuanya (mahasiswa, pelajar, masyarakat) hanya ingin menjadikan dirinya sehat secara jasmani dan rohani sebisa mungkin, selain banyak lagi alternatif lain tentunya. Apalagi jika futsal, ngopi, dan PS-an tersebut tidak melulu fokus pada kuantitasnya saja, tetapi juga bagaimana mengasah dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan hal-hal yang disukainya. Misalnya saat bermain futsal tidak hanya asal main begitu saja menedang bola, tetapi bagaimana lewat futsal itu bisa belajar mengendalikan diri untuk tidak egois, marah-marah, kerjasama tim. Sewaktu ngopi tidak sekedar menyeruput kopi semata, andaikata diselingi dengan diskusi, membaca buku, membuang jauh-jauh ide untukl browsing-online untuk hal yang tidak penting. Terlebih saat PS-an, andaikata diniati untuk dzikir (mengingat Alloh SWT) selain belajar sabar dan strategi mengalahkan diri sendiri, tentunya sedikit banyak kita bisa belajar banyak dari sesuatu yang nampaknya secara kasat mata itu hanyalah sebuah permainan, namun ternyata kita mendapat lebih dari bayangan pepatah kuno Yunani diatas. Indah bukan?

*Pernah nongol di koran SURYA Senin, 8 Maret 2010

Junaidi Abdillah

"ANAK INDONESIA BUTUH LEBIH DARI SEKEDAR IPIN & UPIN"


ALASANNYA:
1. (Jujur) Saya suka....banget menonton aksi seri Ipin & Upin di layar kaca TPI.
2. Bangga...bisa menjadi bagian dari sejarah pemirsa yang menyaksikan film kartun berkualitas nan sederhana ditayangkan dan dicintai jutaan penonton (mungkin).
3. Cemburu...kok hanya bisa bisa menjadi penikmat impor dari negeri jiran Malaysia (bukan sentimen).
4. Butuh...selanjutnya keseriusan para senias kartun Indonesia menjadi tuan rumah yang baik yang mampu menciptakan tandingan vitamin film-film kartun yang bergizi dari sekarang, sederhananya SDM dan SDA kita tak terbatas (mari kita buktikan idemu).

UNTUK GENERASI HIJAU INDONESIA KEMUDIAN YANG PENUH SENYUM, PELANGI, INDAH, BERETIKA,BERAGAMA, DAMAI DAN DIBERKATI TUHAN YANG TERMAHA SEMPURNA.

BISU

Kau bisu
Bukan karena kau tak punya mulut
Juga bukan karena kau tak ada suara
Tapi kau diam seribu bahasa
Bahasa yang tidak semua orang
paham bahasa kau
bahasa gemerak gigimu
bahasa lirikan matamu
bahasa kecongkakan tubuhmu
bahasa kerdipan alismu


bahasa jidatmu
bahasa gerak telunjukmu
bahasa hentakan kakimu
kau bisu
bukan karena kau tidak punya nafsu
juga bukan karena kau tak lagi bernafsu
tapi kau bisu karena hatimu
yang lagi lumpuh
lumpuh dari kebenaran
lumpuh meneriakkan keagungan
lumpuh dari cahaya
bukan lumpuh karena kau tidak berkaki
atawa tidak punya kaki
atawa kakimu lagi berbisul

bisu
adalah pilihan dari sekian pilihan ketidak berdayaan

Telaah Kritis Terhadap pendapat orientalis

Kamis, 11 Maret, 2010
07:50
Halimi Zuhdy

Al-qur’an yang merupakan kitab suci yang sangat unik, dengan melalui proses sejarah yang panjang, tetap dapat dijaga kemurniannya. Walaupun masih banyak disana-sini pengkritisan dan bantahan-bantahan bahwa al-qur’an yang sudah berumur berabad-abad sudah mengalami beberapa perubahan yang dapat dibuktikan dengan ketidak samaannya dalam bacaan dan penulisan, sehingga mengakibatkan ketidak samaan dalam memutuskan dan menetapkan sebuah hukum. Maka al-qur’an tidak dapat dipercaya keorisinilannya, dan tidak wajib untuk diikuti.
Untuk membuktikan bahwa al-qur’an bukan hasil rekayasa dan penciptaan para imam, terutama dalam qira’at al-qur’an dan juga untuk menulak ketidak benaran pendapat para orientalis tersebut, penulis kemukakan bentahan para ulama terhadap pernyataan mereka, yaitu antara lain sebagai berikut :



a) Sejarah mencatat, bahwa Qur'an termasuk qira'ahnya telah dihafal oleh sahabat sejak masa Abu Bakar, dan sebelum dibukukan oleh Usman bin Affan, hafalan tersebut berlanjut sampai masa imam Qiratus al-Sab'ah.
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Qira'ah al-Qur'an bersumber dari periwayatan dan pendengaran yang sanad-nya bersambung pada Nabi, perbedaan bacaan bukan karena tidak adanya tanda baca atau tanda huruf.
b) Seandainya yang menjadi penyebab perbedaan Qira'ah al-Qur'an itu karena ketiadaan tanda huruf dan tanda baca, tentu setiap Qira'ah al-Qur'an yang memungkinkan dibaca sesuai dengan rasm al-mushhaf, akan diakui eksistensinya sebagai Qira'ah. Akan tetapi kenyataanya tidaklah demikian.
َوقُرْاناً فرَقْنَاهُ لِتَكْرَأَهٌ عَلَى النَّاسِِِ عَلَى مُكْثِ (الإسراء/ 102. 17 )
Menurut ketentuan bahasa Arab, rasm (مكث ) bisa dibaca (مَكْثٍ ), bisa dibaca (مِكْثٍ ), dan juga bisa dibaca (مُكْثٍ ). Akan tetapi semua ahli qiraah tidak membacanya selain (مُكْثٍ ). Demikian juga (مللك ) yang terdapat dalam tiga surat (al-Fatihah, ali-'Imran, an-Nas).
c) Seandainya perbedaan Qira'a al—Qur'an itu karena tidak adanya tanda huruf dan tanda baca dalam mushhaf. Dan setiap Imam Memiliki versi sendiri tentang bacaan maka yang akan terjadi adalah al-qur'an bukan lagi Kalam Allah tetapi hasil rekayasa manusia, dan didalamnya ada campur tangan manusia, namun yang terjadi tidak demikian. Dan jikalau setiap imam memiliki versi sendiri tentang pembacaan al-qur’an, sudah berapa banyak cara baca al-qur’an mulai sejak al-Qur’an itu diturunkan.
d) Dalam (QsYunus/10:15) Allah menegaskan bahwa nabi mmuhammad tidak berhak mengubah,menambah, dan mengurangi, tidak mempunyai wewenang untuk mengubah suatu huruf dengan huruf lain. (قل ما يكون لى ان ابدله من تلقاء نفسي ) Apabila nabi sendiri dilarang keras mengubah, menambanh atau mengurangi yang menyangkut lafazd atau huruf al-Qur'an, maka terlebih lagi para sahabat, tabi'in ataupun yang lainnya.
e) Allah SWT. Telah berjanji dalam al-Qur'an bahwa Ia akan memelihara al-Qur'an dari hal-hal yang memungkinka terjadinya perngubahan, pergantian, dan lain-lain (Qs. Al-hijr/15:9) dan juga tidak akan terjamah oleh tangan-tangan kotor atau pemalsuan-pemalsuan (Qs. Fushshilat/41:41-42).
f) Al-Qur'an yang merupakan kitab samawi berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang mengalami perombakan, perubahan karena tangan-tangan jahil dan tangan kotor para tokoh kafir. Sehingga kitab-kitab samawi yang ada sekarang tidak murni lagi, berbeda dengan al-Qur'an yang diriwayatkan secara mutawatir melalui sanad yang sahih. Adil lagi dlabith dari generasi kegenerasi berikutnya. Ia langsung diterima oleh Nabi SaW. Huruf demi huruf, lafaz demi lafaz, kalimat demi kalimat.
Nabi muhammad hanya bertugas menyampaikan kepada sahabat dan kaum muslimin di kala itu. (Qs. Al-Maidah/5;67)
Pendapat para orentalis terhadap Qira'atul Qur'an bermaksud untuk menghilangkan keorisinalan al-Qur'an, dengan berpedapat bahwa al-Qur'an hasil olah tangan manusia, ada campur tangan manusia dan hasil rekayasa muhammad. Sehingga al-qur'an yang diyakini oleh umat Islam dengan seperangkat hukum-hukum yang ada didalamnya tidaklah dapat dipercaya. Oleh karena itu al-Qur'an yang merupakan rujukan umat Islam, tidaklah murni dari Tuhan dan tidak perlu dipercayaai atau diikuti.
Mengapa Qira'atul Qur'an bisa berbeda, tidakkan dengan perbedaan tersebut membuktikan bahwa al-qur'an hanya rekayasa dan hasil olah ahli qiraah, serta disesuaikan dengan keinginan mereka. Dan adanya formalisasi qiraah yang ada sekarang karena fanatisme belaka, hal itulah yang sering muncul di kalangan para pemuda dan mahasiswa muslim, karena mereka belum mengetahui tentang sebab-sebab perbedaan cara baca al-qur'an sehingga muncul beberapa versi, versi yang diakui ada 7 bacaan, yang terkenal dengan Qira'atus Sab'ah mereka itu adalah Abu 'Amr, Nafi,. 'Asim, hamzah, al-Kisa'I, Ibn 'Amir dan ibn Kasir.
Untuk mengetahui sumber perbedaan Qira'atul al-Qur'an, maka harus mengetahui latar belakang, mengapa Qira'atul al-Qur'an bisa berbeda.
Dalam Bukunya hasanuddin (1995) bahwa berdasarkan pengamatan terhadap berbagai qira'ah yang al-Qur'an yang ada, para ulama seperti Ibnu Qutaiybat, al-fakhr al-Razi dan ibn al-Jaziri berkesimpulan, bahwa pada garis besarnya perbedaan Qira'atul al-Qur'an itu dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a) Berbeda harakat atau syakl, tampa danya perbedaan dalam maksud ataupun bentuk tulisan, seperti dalam contoh-contoh berikut.
وأشهدوا اذا تبايعتم ولايضار كاتب ولاشهيد (البقرة/ 2:382)
Kata (يُضَارَّ) dalam ayatbtersebut bisa dibaca يُضَارُّ)) tampa berubah maksud ataupun tulisan.
b) Berbeda harakatatau syakl, berubah makna, akan tetapi bentuk tulisannya tidak berubah, seprti dalam contoh :
فتلقى ادمُ من ربه كلماتٍ (البقرة / 2: 37)
Ayat tersebut bisa dibaca :
فتلقى ادمَ من ربه كلماتٌ
c) Berbeda huruf, berbeda makna, akan tetapi bentuk tulisannya sama, seprti dalam contoh :
و انظر الى العظام كيف نُنْشِزُهَا ثم نكسوها لحما
Kata (نُنْشِزُهَا) dalam ayat diatas bisa pula dibaca dengan (نَنْشُزُهَا).
d) Berbeda huruf, berbda tulisan, akan tetapi tidak berubah makna, seperti dalam contoh berikut :
وتكمن الجبال كالعهن المنفوش
Kata ( العهن ) dalam ayat tersebut dapat di baca ( الصوف) sehingga bunyi tersebut menjadi :
وتكمن الجبال كالصوف المنفوش
Akan tetapi maknanya tidak berubah.

Selain diatas ada beberapa pendapat ulama tentang sebab perbedanya qira’ah al-Qur’an. Bahwa perdeaan qira’ah al-Qur’an disebabkan karena Qira’ah NabiSAW, Artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya , beliau membacakannya dalam berbagai versi qiraah.
Ada yang mengatakan bahwa dengan adanya Taqrir nabi terhadap bacaan kaum pada waktu itu. Hal tersebut menyangjut perbedaan dialek kebahasaan diantara mereka dalam mengucaokan lafadz-lafadz tertentu dalam al-Qur’an. Juga ada ulam yang mengatakan bahwa perbedaan tersebut dikarenakan berbedanya qira’ah yang di turunkan Allah kepada Nabi melalui malaikat Jibril.

Tuesday, March 2, 2010

Menapaki Jejak Gus Dur


BUKU berjudul Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam yang ditulis KH Zainal Arifin Thoha ini adalah buku yang mengulas jejak langkah, pemikiran-pemikiran dan gerakan Gus Dur. Mulai gerakan kultural (sebagai ketua umum PB NU) sampai pada struktural (menjadi presiden keempat RI).

Dalam buku ini dikatakan bahwa Gus Dur adalah sosok kiai yang cerdas, karismatik, dan jenaka. Dia selalu bersikap i'tisar, yakni menyenangkan orang lain dengan selalu bersikap akomodatif dan demokratis, serta mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam hal ini, banyak anak muda dan tokoh nonmuslim yang terinspirasi, baik dari tulisan maupun pernyataan-pernyataan Gus Dur.

Resonansi kekiaian Gus Dur juga tidak hanya dirasakan kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan umat agama lain. Itu sebabnya, kepergian Gus Dur tidak hanya ditangisi oleh kalangan umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Hal ini terbukti dari maraknya acara doa lintas iman dan keyakinan yang dirapalkan di berbagai daerah di Indonesia, baik untuk kesembuhan Gus Dur semasa sakit maupun untuk ketenangan arwah Gus Dur yang kini sudah dipanggil ke hadirat-Nya.

Ulama Aktivis

Seperti dikatakan Abdul Moqsith Ghazali (2010) bahwa semasa hidup, Gus Dur bukan hanya tokoh pemikir dan ulama yang bertafsir dan berteologi dari atas menara. Dia adalah seorang aktivis yang terlibat dalam kerja-kerja advokasi, terutama terhadap kelompok-kelompok tertindas, baik dari agama, etnis, maupun gender. Gus Dur akan hadir, misalnya, ketika buruh dan pedagang kaki lima mengalami ketidakadilan. Dia bersumpah akan terus membela hak-hak sipil kelompok Ahmadiyah tatkala hak-hak mereka dirampas. Dia akan datang begitu ada rumah ibadah yang dibakar. ''Manusia perlu dibela, Tuhan tidak,'' kata Gus Dur. Upaya seperti itulah yang membedakan Gus Dur dengan banyak tokoh lain.

Bagi kita, barangkali eksistensi Gus Dur telah menerbitkan tantangan tersendiri, bahwa siapa saja dan di mana saja bisa bangkit dan berdiri seraya melakukan perubahan-perubahan (mulai dari diri sendiri) untuk masyarakat, bangsa dan dunia, yang memiliki arti penting bagi nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kemajuan. Bagi Indonesia, eksistensi Gus Dur telah menerbitkan angin segar yang penuh kebaruan dan harapan bahwa negara bukanlah suara entitas mistis, sakral dan tak terjamah. Sebaliknya, negara tidak lain hanyalah satu entitas dari pluralitas entitas, yang masing-masing (seharusnya) memiliki independensi, yaitu saling menerima dan memberi tanpa intervensi. Dengan demikian, betul-betul tercipta civil society atau kewarganegaraan yang mandiri.

Sang ''Pamomong''

Gus Dur memang sang ''pamomong". Dia figur yang memiliki watak mengayomi, membimbing, serta memperteguh kasih sayang atas sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang status sosialnya. Sikap yang ditunjukkan kepada pejabat, misalnya, atau bahkan kepada presiden sekalipun, tidak berbeda dengan sikap yang diberikannya kepada wong cilik. Itu sebabnya, setiap kali mengadakan open house di kediamannya, Gus Dur tetap saja ramah dan penuh kasih sayang kepada siapa saja yang datang. Gus Dur juga seolah telah ditakdirkan oleh sejarah untuk selalu ''zig-zag''. Karena itu pula, barangkali, dia diemong oleh sejarah untuk menjadi jembatan antar berbagai kepentingan.

''Zig-zag'' itu terlihat betapa Gus Dur kecil yang lahir di Pesantren Denanyar, Jombang, kemudian harus pindah ikut orang tuanya ke Jakarta, yang memperkenalkannya dengan khazanah dunia modern. Kemudian dia harus pindah ke Jogjakarta, kembali pada dunia pesantren, termasuk ke Magelang. Lalu dia mengenal dunia Timur Tengah, juga beberapa negara Eropa, lalu kembali ke Jombang, dan pindah serta menetap di Jakarta. Dengan ''zig-zag'' seperti itu Gus Dur menjadi banyak mengenal pluralitas budaya.

Sebagai pamomong, Gus Dur memang memiliki banyak warna. Sebagai figur seorang ulama, dia dikenal dengan wacana ''pribumisasi Islam''-nya. Sebagai negarawan, Gus Dur dikenal dengan gagasan-gagasan ''demokrasi''-nya. Sebagai politikus, Gus Dur dikenal dengan ''politik zig-zag"-nya. Sebagai pemimpin masyarakat, Gus Dur dikenal sebagai ''king makers"-nya. Sebagai budayawan, Gus Dur dikenal dengan ''humor-humor cerdas''-nya. Sebagai cendekiawan dan intelektual, Gus Dur dikenal dengan pemikiran ''liberal''-nya; dan sebagainya. Inilah gambaran sosok sang pamomong, sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-tawadluan sekaligus kebebasan; sosok yang memerankan diri laksana ''bandul jam'' yang terus bergerak dinamis, dari kutub ke kutub yang lain, lalu menciptakan keseimbangan (hlm. 28).

Oleh karena itu, kepergian Gus Dur sesungguhnya adalah kehilangan besar bagi bangsa ini. Terlebih di tengah keprihatinan yang ditimbulkan oleh kecenderungan kuasa untuk merobohkan tiang demokrasi yang sejak lama diperjuangkan Gus Dur. Dalam situasi demikian, seperti dikatakan Yudi Latif (2010), tugas intelektual untuk ''berkata benar pada kuasa'' penting dipancangkan sebagai penjaga kewarasan bangsa. Keberanian berkata ''benar'' inilah warisan kepahlawanan Gus Dur yang teramat mulia untuk dijunjung tinggi tunas pahlawan masa depan.

Ali Ibn Abi Thalib, salah seorang sahabat Nabi Saw, pernah berkata bahwa ''jika seorang pahlawan alim meninggal, terjadilah lubang dalam komunitas yang tidak tertutupi hingga datang alim lain yang menggantikannya''. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kita tengah berada dalam transisi pencarian figur-figur ''Gus Dur'' baru untuk melanjutkan perjuangannya.

Oleh karena itu, hadirnya buku Jagadnya Gus Dur ini setidaknya bisa menggugah hati kita untuk mengetahui, memahami, dan meneladani jejak langkah, pemikiran, dan gerakan Gus Dur, dan selanjutnya mampu meneruskan perjuangannya. Semoga. (*)

*) Puji Hartanto , Pemerhati Sosial dan Budaya. Pengelola PP Hasyim Asyari Jogjakarta

Judul buku: Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam

Penulis : KH Zainal Arifin Thoha

Penerbit : KUTUB, Jogjakarta

Cetakan : Januari 2010

Tebal : xvi + 276 Halaman

Sumber: www.jawapos.com [Minggu, 14 Februari 2010]

Mencegat Lompatan-Lompatan GUS DUR


Tinjauan Sufisme Al-Hikam
Oleh: Muhammad Luqman Hakim
Banyak pihak dan banyak cara untuk memahami pola pikir dan spirit KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak ia terlibat dalam Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Satu-dua pendekatan saja, terutama pendekatan sosiologis empirik, akan “terperangah” oleh hasil final dari realitas gerakan.Gus Dur dalam memimpin NU,atau Gus Dur sebagai pribadi. Kalau toh menggunakan pendekatan komprehensif, maka Gus Dur adalah totalitas ekspresi dari keseluruhan akumulasi NU itu sendiri, baik dari khazanah intelektual, kultural, politik dan harakah organisatoriknya.

Tidak banyak yang meninjau Gus Dur dari dimensi esoterik, sufistik, bahkan perenialistik. Padahal untuk memandang Gus Dur, ucapan tindakan dan manuvernya, harus pula melihat sisi fundamental yang menjadi pijakan spiritualistis Gus Dur, dan tentunya sangat mempengaruhi strategi-panjang pendek, universal-parsial, sakral-sekuler, ideal-real, nasionalisme-internasional
isme, dan sebagainya, bagi kepentingan NU, kebangsaan dan kemanusiaan dunia.

Dengan mengenal lebih dekat “hati” Gus Dus, akan mudah memahami lompatan-lompatan kultural kedepan, sehingga pasca Gus Dur kelak bisa lebih bisa melakukan antisipasi secara visional, tanpa harus membubarkan tatanan yang bertahun-tahun telah distrukturkan dalam piramida besar NU, sehingga para penerus Gus Dur tidak canggung bahkan menemukan spirit optimisme yang “suci” pasca Gus Dur.

Hati Gusdur
Hati Gus Dur adalah “Rumah Ilahi” atau "Arasy Allah”. Rumah yang dipenuhi dengan jutaan dzikiri dan gemuruh musik surgawi, setiap detik, setiap saat, setiap berdiri. bergerak (qiyaman) dan duduk diam (qu’udan) serta ketika tidur dalam kefanaan (‘alajunubihim). Rumah Ilahi selalu terjaga (mahfudz) dari segala godaan duniawi, prestisius, dan segala hal selain Allah, peringatan-peringatan Ilahi dan teguran-teguran-Nya, senantiasa “turun” ketika Gus Dur akan berbuat kesalahan, ketika Gus Dur “frustasi”, ketika Gus Dur terbuai oleh “iming-iming”, atau ketika Gus Dur terlalu bermimpi.

Itulah untungnya jadi Gus Dur, tapi juga demikianlah risiko besar yang harus diterima, manakala Gus Dur menyimpang dan dimensinya, melesat dari Rumah Ilahi, Berat sekali beban Gus Dur menjaga Rumah Ilahi, lebih berat ketimbang menjaga “rumah besar” NU, yang konon sebagai “rumah tua yang berwibawa” ini. Sukses Gus Dur menjaga Rumah Ilahi dalam kalbunya, adalah sukses besar NU. Karena itu di mata Gus Dur sendiri, menurut hati nuraninya - memimpin NU atau tidak, nilainya sebanding. Gus Dur bukanlah tipikal seorang yang berambisi menaiki tahapan derajat duniawi maupun berambisi mendapatkan megamat ruhani-ukhrawi, yang dalam dunia tasawuf disebut dengan al-Murid. Tetapi Gus Dur adalah sosok yang diburu, dikejar dan dikehendaki Oleh tahapan-tahapan tersebut, dicari poleh massa dan organisasi, bahkan secara radikal dalam sufisme ia adalah tokoh yang “dicari Tuhan” (al-Murad).

Gus Dur “dicari” Tuhan, dan ditemukan di lorong-lorong kebudayaan, diketiak orang-orang miskin, dalam aliran derasnya keringat para buruh. Allah menemukan Gus Dur dalam alunan musik klasik, digedung-gedung bioskop dan di tengah-tengah supporter sepak bola. Gus Dur diburu Tuhan, ketika berada disela-sela kolom surat kabar dan majalah, bahkan diburu sampai ke Israel dan Bosnia. Dan Gus Dur “ditangkap” Allah, ketika pandangan matanya sudah setengah buta, ketika merunduk tersenguk-senguk dimakam para Auliya. Sayang, Allah memeluk Gus Dur ketika Gus Dur sudah “gila”, dan memimpin arisan orang-orang yang “gila” kepadanya.

Benar kata Khalil Gibran, "Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras".

Gus Dur dikatakan "gila" oleh masyarakat gila yang merasa waras. Dan ia disebut sebagai paling waras ditengah-tengah orang-orang "gila" yang tidak ingin waras. Kebudayaan "gila" dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan sebutan sebagai orang paling gila.

"Kegilaan" Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila oleh kegilaan. Sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami "keterasingan" di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah¬tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga nahdhiyin-nya.
Dia Sendiri Adalah Al-Hikam
NU sebenarnya adalah organisasi paling banyak jumlah kaum 'arifin-nya dibanding organisasi keagamaan yang lainnya. Karena itu NU memiliki derajat sebagai satu-satunya organisasi "Yang Diridhai", atau mungkin yang lain sekedar diakui, disamakan, atau "terdaftar" saja dalam catatan lembaran langit.

Kehadiran Gus Dur untuk mereformasi secara puritan melalui "Khittah 1926" adalah bentuk perenialisme NU dalam matra zaman yang lebih luas. Bukannya upaya memutar gerak jarum jam sejarah ke masa Ialu. Tetapi, mundur untuk melompat ke depan lebih jauh. Lompatan-Iompatan dalam visi Gus Dur ketika menerjemahkan Khittah 1926, merupakan lompatan "spiritual NU" yang kemudian berakses kepada lompatan moral, politik, kebudayaan dan tradisi intelektual serta sosial-ekonomi. Lompatan-lompatan ini bisa dilihat dari dimensi paling sederhana, namun merupakan dimensi paling dalam. Yakni dimensi sufisme yang menjadi "akhlak" ulama salaf dan ulama-ulama generasi pendiri NU.

Hal yang tidak bisa dipungkiri, adalah kesatuan para ulama pendiri NU dan Gus Dur sendiri, dengan wacana-wacana Corpus Tassawuf yang ditulis oleh Taajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atba'illah as-Sakandari, yakni kitab Al-Hikam. Hampir seluruh pesantren salaf di Indonesia, mengkaji kitab tersebut, dan sekaligus menjadi pijakan moralitasnya.

Kitab Al-Hikam, merupakan magnum corpus kaum sufi, yang mengandung mister-misteri spiritual dan sekaligus bisa digunakan untuk memprediksi gelombang pasang surut spriritual keagamaan semacam. yang terjadi dalam tubuh NU, Gus Dur sendiri yang hafal di luar kepala setiap wacana (matan) kitab Al-Hikam ini, tentu memahami secara lebih massif dan universal bagi kepentingan historis NU. Dalam bahasa yang paling "tradisional" kembali ke Khittah 1926, berarti kembali ke dalam dimensi "Al-Hikam" tersebut. Karena itu sebelum memimpin NU, Gus Dur telah menyatu dengan "Al-Hikam", yang kelak ketika memimpin NU, Al-Hikam menjadi instrumen "penggugat" dalam intern NU. Sayangnya, ribuan pesantren di Indonesia dewasa ini, telah merasa asing dengan kitab ini. Sebab, kitab ini merupakan kitab instrospektif, kitab yang bisa menusuk diri sendiri, kitab yang "ditakuti" oleh para kiai. Akhirnya, dari 6.000 pesantren yang ada, hanya beberapa gelintir saja yang masih mengkaji kitab ini. Fakta ini pula yang membuat gerakan moral ulama yang dilakukan Gus Dur banyak terhambat.

Matan Al-Hikam, Khittah 1926 dan Pasca Gus Dur
Coba kita renungkan sukses besar para. pendiri NU ketika mendirikan NU tahun 1926. kesuksesan ini erat dengan matan pertama dari Al-Hikam:

"Di antara tanda bersiteguh terhadap amal, adalah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika terjadi tindakan dosa".

Para Ulama pendiri NU dan Gus Dur tidak pernah mengajak warganya untuk bersikap menggantungkan diri pada upaya dan amalnya, dengan asumsi bahwa amal itu bisa menyelamatkannya. Kerj a organisasi, perjuangan, aktivitas nadhiyin, harus terjauhkan dari sikap i'timad terhadap amal. Sebab, sikap i'timad seperti itu, hanya melahirkan ketamakan dalam organisasi dan ambisi historis. I'timad terhadap amal, ikhtiar, dan upaya-upaya manusiawi hanyalah bentuk "penghalang" antara hamba dengan Sang Khalik. Amal hanyalah makhluk, bukan Khalik. Membanggakan makhluk adalah bentuk immoral yang jauh dari harapan spiritual yang menghantar sukses besar.

Para mujahid di kalangan ulama NU yang turut menghantar kemerdekaan bangsa ini, sama sekali menepiskan ketergantungannya terhadap amal dan sejarah. Satu-satunya tempat i'timad hanyalah Allah. Karena itu Khittah 1926 dulu jauh dari rekayasa-rekayasa ambisi politik, kalau toh pun ada akan tersingkir oleh sejarah. Ibnu Atha'ilah mengaitkan kebergantungan terhadap amal tersebut dengan tindakan dosa. Dalam konteks Khittah 1926, kembali ke Khittah 1926, tidak harus disertai "rasa bersalah" yang terus menerus, sehingga mengurangi optimisme masa depan (raja') itu sendiri. Sebab siapa pun yang merasa "miris" dan pesimis terhadap rahmat Allah ketika ia berbuat dosa, berarti ia belum bergantung kepada Allah, masih bergantung kepada amalnya. Begitu juga, warga NU yang masih merasa bersalah atas "dosa sejarah" yang mengakibatkan dirinya ekslusif, tersingkir, pesimis, dan bahkan cenderung "membangkang" berarti masih i'timad terhadap upaya amal, bukan i'timad kepada Allah. Sikap demikian inilah yang ingin "diberantas" Gus Dur.

Fakta demikian sesuai dengan wacana Al-Hikam berikutnya:
"Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih memposisikan dirimu pada dimensi sebab akibat (duniawi) merupakan bagian dari nafsu tersembunyi. Dan keinginanmu kembali pada sebab akibat (duniawi), sementara Allah sudah memposisikan dirimu dalam dimensi tajrid, merupakan penurunan (degradasi) dari cita¬cita yang luhur. "

Tajrid merupakan bentuk eskapisme kepada Allah tanpa menghiraukan dimensi selain Allah. Dalam konteks ke-Gus Dur-an, adalah "tidak mau tahu" urusan organisasi, urusan kemasyarakatan, urusan kemiskinan dan kebudayaan, bahkan urusan demokratisasi. Sikap demikian merupakan bentuk eskapisme nafsu yang tersembunyi, bukan eskapisme kesucian Ilahi. Padahal mayoritas warga NU belum sampai ke tahap tajrid ini. Lebih ekstrim lagi banyak tokoh-tokoh NU menggunakan baju tajrid untuk kepentingan pribadinya, kepentingan nama dan perutnya, ya kepentingan nafsunya. Lebih jauh lagi untuk kepentingan. politik kelompok tertentu.

Sebaliknya, mereka yang sudah sampai pada maqam tajrid dalam konteks ke-NU-an- tiba-tiba masih berambisi terjun ke dunia kausalitas NU. Tentu , tindakan demikian merupakan degradasi moral bagi ketokohannya. Para tokoh yang seharusnya “pensiun” dari NU, untuk lebih mendekatkan diri dalam “wilayah muraqabah dan taqarruh Ilahi”, ternyata banyak yang "cawe-cawe" ke dunia empirik, yang membuat keruwetan di tubuh NU. Padahal Allah sudah memberikan "kursi empuk spiritual", malah memilih kursi empuk duniawi. Inilah agenda Gus Dur sampai saat ini. Bahwa transformasi dari tahap kausalitas menuju tahap tajrid dalam NU, adalah tahap perjuangan dari unsur kepentingan menuju unsur "kepentingan Ilahi", dari hal-hal yang bersifat empirik ke esoterik. Sukses besar NU manakala NU mampu melakukan transformasi menuju "tajrid" peradaban yang luhur.

Matan. Al-Hikam. selanjutnya adalah:
"Tercapainya cita-cita tidak bisa mengubah dinding takdir"
Gagalkah Gus Dur? Gagal dan tidak, harus ditinjau dari prespektif yang luas. Ditinjau dari segi Al-Hikam, keberhasilan Gus Dur dengan Khittah 1926, bukan karena Gus Dur atau para pendukungnya. Hakikat keberhasilan Gus Dur yang ada, sama sekali tidak takdir Ilahi terhadap NU.

Ikhtiar, upaya, semangat, jihad, adalah "tanda-tanda" sukses NU, bukannya faktor penentunya. Dalam dimensi tasawuf Al-Hikam, apabila NU ditakdirkan berhasil dan sukses, akan banyak Gus Dur lain yang memiliki visi dan ruh yang sama. Bukan sebaliknya.

Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Banyak tokoh-tokoh NU yang merasa mampu mengubah takdir Allah, dan ketika berhasil menganggap sebagai upayanya sendiri tanpa campur tangan Ilahi. Kecuali kalau gagal, baru mengatakan, “Demikianlah takdir Allah…!”

Karena itulah, Al-Hikam menyarankan pada matan selanjutnya:
"Abaikanlah dirimu untuk ikut campur (urusan Allah), sebab apa yang sudah diurus oleh. selain dirimu berkakaitan dengan dirimu, Anda jangan ikut campur di dalamnya untuk kepentinganmu."

Selanjutnya Gus Dur pun sering menghimbau kepada para kiai dan ulama, khususnya kalangan NU, agar tidak ikut mencampuri urusan yang bukan bidangnya. Misalnya urusan pencalonan presiden maupun gubernur, ataupun bupati. Urusan tersebut ada yang berwenang menangani. Ikut campur di luar bidangnya adalah bentuk salah kaprah yang fatal, dan menjadi kerumitan dinamika NU. Dan matan berikutnya berbunyi:
"Ijtihad Anda pada hal-hal yang sudah dijamin untuk diri Anda, dan sikap teledor Anda terhadap kewajiban yang harus Anda penuhi, merupakan bukti atas kekaburan mata hati Anda."

Bayangkan, berapa ribuan tokoh-tokoh NU yang mata hatinya kabur, karena etika dan sikap moralnya yang teledor, hanya karena mementingkan tuntutannya dibandingkan mementingkan tugasnya?

Gus Dur tidak pernah putus asa. Walaupun ia di tuntut terus menerus, khususnya pada setiap even dan momen tertentu. Gus Dur hariya bisa kembali sebagaimana wacana Al-Hikam dari matan ke matan berikutnya.

Dan sungguh, matan-matan Al-Hikam, tertib dan strukturnya, mulai awal hingga akhir, yang memenuhi lembaran-lembaran kitab, merupakan kesimpulan dari perjalanan spriritual penempuh jalan sufi, sekaligus juga peristiwa-peristiwa dalam konteks NU yang bakal maujud dalam sejarah NU dan umat Islam, Karena itu membaca NU pasca Gus Dur akan sangat mudah dengan membaca Al-Hikam dengan penafsiran dinamika NU,' karena di sana penuh dengan solusi-solusi langsung dan aktual.

Dalam prediksi matan Al-Hikam, NU pasca Gus Dur adalah pertama-tama NU akan melewati perebutan-perebutan ambisi yang saling menyodorkan alternatif. Sedangkan alternatif yang disodorkan oleh Khittah 1926, sebagai visi Gus Dur, dianggap belum tuntas. Padahal Gus Dur, sebagaimana Al-Hikam, menyandarkan titik akhir sejarah NU hanya kepada “alternative yang terbaik menurut Allah”, alternatif konsepsionalisasi yang direkayasa atau dipaksakan menurut penilaian tarbaik manusia. Kapan dan bagaimana allternatif Ilahi NU teraktualisasi dalam sejarah. Menurut Gus Dur dan Al-Hikam, hanya Allah saja yang tahu kapan aktualisasi historis idealisme itu maujud secara proporsional.

Paling tidak, Gus Dur walaupun belum maksimal telah melampaui tiga matan Al-Hikam di atas, dalam konstelasi ke-NU-annya. Tugas pelanjut Gus Dur adalah menerjemahkan matan-matan berikutnya dan konteks spirit NU masa depan, melalui solusi yang ditawarkan oleh Al-Hikam. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan suatu Syarah Al-Hikam yang konstektual dengan NU modern. Suatu tantangan bagi kaum spiritulis NU yang memiliki "kearifan" dalam sejarah.

Sebagaimana para pembaharu atau mujtahid dalam dunia Islam, pasca mujtahid adalah para komentator, interpretator, dan kreator yang lebih spesialis dan detil. Maka, pasca Gus Dur, adalah Gus Dur-Gus Dur "kecil" yang "cantik" dan "indah" yang mampu mengepakkan sayap-sayapnya menjadi tarian yang rampak. Tarian "Gusduriyah".

Sumber: www.sufinews.com

Petisi Para Bayi


Mbak Anis Pare punya jagoan cowok kecil baru
Bayinya Teteh Yuni Sukabumi udah mulai besar
Eee.. Ning Zakiya Tambakberas nyusul melahirkan
Lalu Ning Maryam Pasuruan anaknya laki-laki melengkapi kuota sebelumnya
Disambung kemudian sahabatku Iin Gresik, semoga sehat semuanya
Alfi kediri juga ga mau kalah dengan putri semata wayangnya
Dan…Zizi yang katanya pulang kampung dari Jogja ke Karangploso Malang Raya demi menanti datangnya si jabang bayi…
Tentunya masih banyak lagi dedengkot para bayi selanjutnya yang menunggu antrian…

Selamat pada para bapak dan ibu dan calon keduanya...saudara/saudari
ku
Semoga bahagia, lancar, barokah, sholeh/sholehah selamanya

22 Februari 2010

J.Abdillah

RUMAH ITU...

Langit, gua, pohon, atap, bertiang, dalam benakku, kokoh, sleeping bag, bersih, suci, banjir, terbakar, tembok, rapuh, laut, gunung, karang, ambruk, kardus, wangi, berdiri, ngangeni, menjijikkan, menakutkan, penuh kenangan, full cinta, rapi, ramai, warna-warni, ungu, biru, dan seterusnya.

Dinoyo, 20 Februari 2010

J.Abdillah

Saturday, February 27, 2010

“Muhammad SAW”: Persembahan Dari Surga (Al-Fiil Dalam Sebuah Lirik lagu)

Cipt. Ahmad Dhani
Album: The Best of The Best Dewa 19


Hai Jibril perkenankan aku melintasi dimensi waktumu
Tuk meraih dirimu-dirimu

Reff:
Kaulah persembahan dari surga berilah aku setitik kuasanya tuk meraih kemenangan bagi yang berhak yang selalu dilindas-lindas tirani yang membawa namanya

Bahwasanya mereka berkuasa diatas tangis dan sebuah kekalahan tapi Dia Yang Maha Berkuasa

Kembali ke Reff

Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh…

Sebarkanlah burung Ababil yang pernah turun kedunia
Lemparkanlah batu api-batu api dari neraka
Hujamkanlah semuanya kepada penguasa lalim
Hujamkanlah semuanya kepada penguasa lalim


Kembali ke Reff

Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh… Muhammadarrasululloh…

Ini bukan episode tentang tema dan isi surat cinta monyet abu-abu putihku sekitar 6 tahun lalu atau ode kesaksian, yang membuat seseorang terpesona atau terlukai. Tetapi ini kisah mengenai “Hari Ulang Tahun” Imamnya Para Rasul yang sangat harum baik nama, tubuh, hati, jiwa dan segala yang dimiliki, diberikan dan dibawakannya diatas catwalk dunia sejak 14 abad lebih sebelum detik-detik dimensi ini…
Berkaitan erat dengan; Panglima Sholahuddin al-Ayyubi, Burdah-burdah Cinta Sholawat al-Barjanzi, Dalailul Khoirot (Asmaun Nabi), Asmaul Husna…Ka’bah Mekkah, Abdul Muntholib Sang Juru Kunci, Pintu Langit, Para Malaikat, iblis-jin-setan corporation, Ethopia, Abrahah, Balatentara Gajah, Burung Ababil yang mengimpor batu api-batu api dari neraka, dan Sayyidah Aminah beserta Putra Terbaik yang pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu…Namanya (Ahmad) Muhammad yang Yatim.
Syahdan lagu diatas pernah dipentaskan secara ciamik DEWA 19 featuring Fadly-Yoyok Padi beserta Syaikh Hisyam Al-Kabbani disalah satu stasiun TV swasta dengan tema “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah ada” menyambut Hari Raya Idul Fitri 2007 lalu.
Hubungan lirik lagu diatas dengan surat Al-Fill sudah sangat jelas dan bisa kita baca, pahami, renungi, dan ambil hikmahnya sesuai dengan takaran versi kita masing-masing tentang sejarah monumental kelahiran Raja Para Nabi Dunia-Akhirat ini…
Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafirun. Nama Al Fiil diambil dari kata Al Fiil yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya gajah. Surat Al Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka'bah di Mekah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan. Pokok-pokok isinya:
Cerita tentang pasukan bergajah yang diazab oleh Allah s.w.t. dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka sampai binasa.
AL FIIL (GAJAH)
SURAT KE 105 : 5 ayat
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

AZAB ALLAH KEPADA TENTARA BERGAJAH YANG AKAN MENGHANCURKAN KA'BAH

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah {Yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah}.
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Surat Al Fiil ini menjelaskan tentang kegagalan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, karena Ka'bah dipelihara oleh Allah s.w.t.

“Allohumma Sholli Alaa Sayyidinaa Muhammadin Abdika wa Nabiyyika wa Rasuulikan Nabiyyil Ummiyyi wa Alaa Aalihi wa Shohbihi wa Sallim Tasliiman Biqodri Adhomati Dzaatika Fii Kulli Waqtiwwahin”…Celebrate of Sholawat Syadziliyyah

Bumi, 13 Rabiul Awwal 1431

J.Abdillah




kekejaman

Kekejaman, seringkali kita identikkan dengan membunuh, melukai, mencincang, mendhalimi, berkata kotor –yang beberapa hari ini, menjadi permasalah public, seperti kasus Luna Maya dll.
Kekejaman itu bisa kita lakukan setiap hari tanpa sadar, meskipun kita tidak membunuh orang atau melukai oranglain baik dhahir atau bathin. Tapi menurut Sufyan Atsauri, 10 macam kekejaman itu ternyata selalu mengitari hari-hari kita, tanpa sadar:

Sufyan Atsauri berkata:"Sepuluh macam daripada kekejaman ialah:"

1.Seorang yang berdoa untuk dirinya sendiri,dan tidak mendoakan untuk anak-anaknya dan kaum mukmin.

2.Seorang yang pandai membaca Al-Quran, tetapi tiap harinya tidak membaca seratus ayat.

3.Seorang yang masuk masjid lalu keluar dan tidak sembahyang dua rakaat

4.Seorang yang berjalan melalui kuburan kemudian tidak memberi salam dan mendoakan ahli kubur.

5.Seorang yang sampai di suatu kota pada hari Jumaat kemudian tidak sembahyang jemaah.

6.Seorang yang di daerahnya didatangi oleh seorang alim, tiba-tiba tidak mahu belajar apa-apa daripadanya.

7.Dua orang yang bertemu di perjalanan dan masing-masing tidak menanyakan nama kawannya itu.

8.Seorang diundang pada jamuan tiba-tiba tidak datang.

9.Pemuda yang tidak ada kerja dan tidak mahu belajar ilmu dan kesopanan.

10.Seorang yang kenyang sedang dia tahu bahawa tetangganya lapar, tetapi tidak diberi dari makanannya itu.


Halimizuhdy81@gmail.com

Monday, February 15, 2010

Sajak Tanpa A, U, E, I, O

Brrr…
Brmm…brmm…brmm
Ck…ck…ck
Drrrr…
Grrrrr…
Hmm…
Hffffff…
Krrrk…krrrk…krrrk
Mmmmm….
Pprrtttt….
Rrrrrrrrr…
Ssssss…
Xbxbxbxb…
Yywwwwwwwwwww…
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…
B,c,d,f,g,h,j,k,l,m,n,p,q,r,s,t,v,w,x,y,z

Ngalam, 2010

J.Abdillah

Thursday, February 11, 2010

Sarjana Ungu

Terseok-seok tanpa arah setelah diwisuda
Lari ke Pare kursus bahasa internasional untuk toefl jenjang S-2 atau cari jodoh?, kabur, penat terserah mawon...
Kerja serabutan di fakultas menyambung hidup yang samar
Nilai-nilai IPK-mu hanya untuk beasiswa
Pantes saja, saat kau menjadi dosen pengajar, pejabat, tokoh masyarakat, rakyat biasa
Nawaitu-mu hanya buat proyek uang dan rebutan jabatan, jare gus Mus: ”Janganlah sampai organisasi atau partai kita membuat kita lupa kepada agama kita dan janganlah sampai agama kita membuat kita lupa kepada Allah, Tuhan kita..”.
Karena selama kuliah yang kau kejar adalah angka-angka KHS-mu agar selalu A dan B, meskipun itu harus mengorbankan kejujuran, sholat, persahabatan, kemanusiaan bahkan Tuhan sekalian alam
Padahal seringkali kau berucap selalu akan memanusiakan manusia
Kata Dhonny Dhirgantoro: ”Ada yang bilang kalau idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh generasi muda...”

Ngalam, 18 februari 2010
J.Abdillah

Wednesday, January 27, 2010

قَصِيْدَة اْلإِعْتِرَاف

إِلٰهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ
وَلاَ أَقْوٰى عَلٰى نَارِ الْجَحِيْمِ

Ya Tuhanku, tidaklah pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka

فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوبِيْ
فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

Maka, terimalah taubatku dan ampuni dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَـالِ
فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَاذَا الْجَلاَلِ

Dosa-dosaku seperti jumlah pasir
Maka terimalah taubatku, Wahai Pemilik Keagungan

وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ
وَذَنْبِيْ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِيْ

Umurku semakin berkurang setiap hari
Sementara dosaku semakin bertambah, bagaimana aku menanggungnya

إِلٰهِيْ عَبْدُكَ الْعاَصِي أَتَـاكَ
مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَـاكَ

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Untuk mengakui semua dosa dan memohon kepada-Mu


وَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذََاكَ أَهْـلٌ
وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ يَرْحَمْ سِوَاكَ

Seandainya Engkau mengampuni, memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Tapi seandainya Engkau menolak taubatku
Lalu kepada siapa aku memohon ampunan selain kepada-MU

Oleh: Abu Nawas

Monday, January 18, 2010

PURNAMA HITAM



Awalnya berkenalan
Lalu berteman
Bersahabat
Kadang menjadi kekasih
Bisa juga menjadi saudara, musuh, guru, raja, ibu, bapak, dan sebagainya
Kemudian terserah saya, kamu, dia atau mereka…

Desember 2009

Djibril Ahmad


Saturday, January 16, 2010

MENUMBUHKAN CINTA KASIH

Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang dapat memberikan sejuta keindahan dan kebahagiaan bagi penghuninya jika ia benar-benar terjaga dan terpeliharaan keharmonisan dan ketentramaannya, namun sebaliknya akan merasa dalam bara jahannan jika tidak mampu menjaganya dengan baik. untuk menjadakan keluarga yang didalamnya selalu tumbuh rasa kasih sayang diperlukan beberapa hal diantaranya :

MENYAPA LEMBUT
Sapaan lembut pada siapa pun pasti memberikan sensasi tersendiri, apalagi pada sang istri atau suami, yang setiap harinya dipenuhi oleh setumpuk pekerjaan dan kadang lupa memberikan sapaan walau hanya sepenggal kata "sayang". Menyapa, berarti memberikan sentuhan kata, jika ia disapa dengan hati, maka ia akan menjawab dengan hati, jika disapa dengan sapaan lipstik ia juga akan demikian, tapi apa pun jenis sapaan yang sudah ditebar padanya, akan memberikan keindahan tersendiri. Misalnya suami menyapa dengan perkataan “lagi ngapain cinta”, sang istri akan tersipu dan akan menggerakkan hati dengan mejawab “lagi…..” dengan penuh senyum dan rona ia merasakan kebahagiaan. Jika ia disapa dengan senyum dan kata-kata yang indah, maka suasana akan berubah menjadi begitu romantis, dan akan ada kejutan-kejutan yang sebelumnya tidan terpikirkan akan berubah menjadi sebuah keindahan. Apalagi sang istri/suami dalam kondisi capek, sumpek, dll….sehingga sapaan lembut akan memberikan secangkir kesegaran padanya.




HADIAH
Hadiah akan menjadi hal yang luar biasa pada pasangan kita, apalagi kita memberikannya pada momen yang tepat. Hadiah yang kita berikan tidak akan dilihat besar kecilnya, karena kecil besar hanya sebuah materi, tapi yang paling berarti dibalik hadiah itu, yaitu kasih sayang. Seseorang yang memeberikan hadiah, berarti ada kata lembut yang menyusup dari hatinya yang kemudiania tanpak lewat hadiah, sapaah itu adalah “saya cinta kamu”, “saya rindu kamu”, “saya sayang kamu”, “saya sangat …..dan lainnya. Adakah seseorang yang memberkan hadiah pada orang yang tidak ia cinta?maka jawabannya pasti tidak ada. Maka, besar kecil hadiah itu tidak menjadi berarti, untuk pasangan, tapi esensi dari pemberian yang memberikan reaksi, reaksi cinta dan kasih. Besarnya hadiah, bukan sebuah kewajiban, tapi pemberian hadiah adalah sebuah keharusan bagi seseorang yang akan memberikan warna cinta dan menumbuhkannya. Bagi seorang petani bisa dengan singkong, bagi seorang pedangang bisa cilok (sejenis bakso), bagi seorang kantoran bisa es jus, atau apalah yang bisa dibuat pulang, dan memberikan suasana berbeda ketika sampai di rumah. Bagi seorang istri biasa, membuat snsasi makanan yang belum pernah dibuat sebelumnya, dan dikhususkan untuk kedatangan suaminya yang akan dating kerumah.

Begitu besarnya pengaruh hadiah dalam menumbuhkan kasih sayang ini ditetapkan oleh sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Bukhari dari di al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah “ تَهَادَوْا تَحَابُوا” (Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling menyayangi).

MENOLONG/MEMBANTU
Seorang Istri seringkali mengerjakan pekerjaan rumah (meskipun itu bukan sebuah keharusan bagi seorang istri) , seperti memasak, mencuci, dll. Tapi, bagaimana kedua belahpihak mengelola kerja, pembagian kerja. Meskipun demikian, seorang istri lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan sang suami bekerja diluar (mencari nafaqoh). Ada sesuatu yang dapat memberikan nuansa yang indah kepada pasangan ketika pasangan itu melakukan hal-hal yang jarang dilakukannya, seperti suami memasak, mencuci piring, ngepel, membuatkan teh istri, memandikan anak, menyetrika pakaian dan lainnya, maka sang istri akan berfikiran bahwa sang suami tidak gengsi, dan menjauhkan dari istilah level –karena ini sering terjadi pada suami-, malah hal-hal seperti ini akan semakin memperindah, dan menambah erat hubungan cinta, suami sitri.

Dari al-Aswad bin Yazid berkata, Aisyah ditanya, “Apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah?” Aisyah menjawab, “Melayani keluarganya. Jika tiba waktu shalat beliau pergi shalat.” (HR. al-Bukhari).
Beliau juga bersabda, أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ,
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.” (HR. at-Tirmidzi dia berkata, “Hadits hasan shahih.”).

MEMBERI PUJIAN
Memuji, kadang menjadi pertaruhan bagi pasangan, apalagi pasangan yang sudah lama, kadang pujian terlalu disederhanakan atau disepelekan. Pujian adalah kata-kata positif yang keluardari hati yang penuh kepostifan, kaetika kata pujian keluar maka ia mengeluarkan energy positif dan akan memberikan dampak positif. Seperti, kau sungguh cantik sayang, kau sungguh baik, kau sunguh tanpan, kau luar baisa, makasakan enak banget, aku belum pernah lihat kamu secantik ini, aku selalu melihat kamu tersenyum, kau memang suami yang shaleh, tangan pun seperti bidadari, dll. maka kata yang sangat sederhana ini akan memberikan ke- pede-an pada sang istri atau suami, dan merasa keberadaannya benar-benar dihargai dan didambakan. Orang yang dipuji akan selalu memelihara pujian itu, misalkan kau selalu cantik, sang istri ketika bertemu dengn suami akan selalu memberikan hal yang terbaik agar pujian itu muncul kembali, atau selalu tersenyum agar pujian yang tadi juga muncul darinya….masakan enak, ia akan selalu memasakan makanan yang paling disukai sama pasangan..mengapa, karena aura postif itu selalu menjaganya.

BERCANDA
Untuk menumbukan cinta kasih pada pasangan banyak jalan dan cara, misalkan dengan BERCANDA –membuat hubungan suami istri bukan hubungan pemerintah dan rakyat, majikan dan pembantu, orang tua dan anak – tapi hubungan suami-istri adalah hubungan kekhasan yang akan menumbukan keharmonisan, yang menggabungkan dari berbagai keindahan, kadang menjadi Bapak/Ibu, kadang menjadi sahabat, kadang menjadi guru, dan kadan menjadi dirinya sendiri sebagai komonitas kecil bahagia. Maka, bercanda dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, dengan bercanda yang kokoh menjadi lentur, yang garang menjadi tersenyum, yang angkuh menjadi cinta, yang marah menjadi bergairah, yang beku menjadi cair, yang keras menjadi lembut, yang deras menjadi pelan, dan semuanya bisa berubah dengan penuh kasih dan sayang.

Bercanda adalah mengisterahatkan hati, pikiran, obat kejenuhan, penawar kebosanan dan penghasil senyuman, bisa kita bayangkan dinginnya hubungan suami istri jika tidak diselingi gurau, suami yang sibuk dengan pekerjaan demi menjaga periuk dapur agar tidak terbalik, lalu istri, kalau ia tidak bekerja di luar rumah, kalau dia bekerja maka lebih-lebih, dengan rutinitas rumah yang tidak bisa dikatakan lebih ringan daripada suami, dalam kondisi seperti ini bagaimana rasanya hubungan keduanya jika tanpa canda dan gurau?

كُلُّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ : مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ...
Segala sesuatu yang dilakukan dan tidak mengingat Allah adalah permainan dan gurauan, kecuali empat hal : adalah laki-laki mencandai (bergurau) istrinya…….

www.Halimizuhdy.blogspot.com
Salam hangat bersemangat
PURNAMA HITAM

Awalnya berkenalan
Lalu berteman
Bersahabat
Kadang menjadi kekasih
Bisa juga menjadi saudara, musuh, guru, raja, ibu, bapak, dan sebagainya
Kemudian terserah saya, kamu, dia atau mereka…

Desember 2009

Djibril Ahmad

NAFSU

Tak dapat dibendung
jika ia telah bergabung
dengan para dedengkotnya

gunung pun dirobohkan
demi sebuah keinginan



hati,tertirai karena menoreh
bak pedang

pikiran,ternoda jika sudah mulai tergoda

tubuh,terkulai jika sudah berenang bersama dusta

nafsu,ia tak mengenal ampun
bagi siapa pun
karena ia hanya ingin untuk menang,dan berpesta!

nafsu menguasa,sudah biasa bagi para penikmat nama.
Nafsu harta,jika alam membisu memberikan ia kuasa.

Kecuali iman di dada,nafsu menjadi pembantu




Harga Sebuah ‘Rangzen’ di Tibet

“Bahwa aku tidak bahagia sebenarnya tidak begitu penting. Aku hanya seorang perempuan. Semua ibu yang mengirimkan anaknya juga mempunyai masalah. Oleh karena itu, keinginan terbesarku adalah kemerdekaan negeri Tibet. Kemudian tanah air kita ini akhirnya bisa memberikan kesempatan sebuah masa depan bagi anak-anak”, dari seorang ibu dari Tibet (hal; 83). Cuplikan kalimat tersebut sedikit dari pengharapan yang sangat dari para wanita (baca: ibu khususnya) dan jamak masyarakat Tibet mengenai kebebasan (rangzen).
Pasca melihat foto-foto anak-anak Tibet yang mati kedinginan yang kebetulan ditemukan oleh pendaki gunung diperbatasan antara Tibet dan Nepal di sebuah majalah, oleh Maria Blumencron (Zazie) wanita berkebangsaan Austria (asli Wina-Vienna) mantan aktris film di sebuah serial televisi yang selanjutnya menjadi inisiator, obsesiator, sekaligus sutradara film dokumenter (2000) mengenai nasib anak-anak Tibet yang dikirim oleh orangtua mereka ke pengungsian untuk tinggal dan dibimbing langsung Dalai Lama ke-14 di Dharamsala (India), kemudian Zazie menuangkan puzzle-puzzle kisah tak tersentuh tersebut dalam sebuah catatan (buku, 2003).
Pemeran utama kisah perjuangan panjang nan nyata-heroik ini ialah 6 bocah dari Tibet; Pema Kecil (gadis kecil 7 tahun dari Provinsi Kham), Tamding (anak laki-laki 10 tahun dari Provinsi Amdo), Chime (gadis kecil 10 tahun dari Tibet Barat), Dolker (adik perempuan Chime, 7 tahun), Dhondup (anak laki-laki 8 tahun putra seorang dokter Tibet), Lhakpa (anak perempuan berumur 10 tahun berasal dari keluarga pengembara), dan Lobsang (biksu berumur 15 tahun asli Provinsi Amdo), serta Nima Sang pemandu yang berhati emas, ditambah dengan Dhamchoe, Suja, Pema Besar, Sotsi, Tempa, Currasco, Si Gigi Emas, Yeti, dan Sang Pelajar.
Mereka berenam adalah miniatur yang benar-benar mini mewakili sosok empiris para pengungsi yang terekam jejaknya oleh dunia luar tentang wajah lain dari keelokan dan kedahsyatan cerita-cerita yang melingkupi misteri Himalaya, karena sebelumnya telah terkubur megahnya kedigdayaan RRC hari ini. Secara fisik dan mental mereka belumlah dikatakan layak untuk melintasi pegununggan Himalaya yang begitu bengis dan sinis bagi siapapun, layaknya neraka kematian karena begitu ekstremnya cuaca maupun medannya yang berselimutkan es abadi, diantara ngarai curam, sungai gletser, badai salju, bintang buas, dan Tangan Tuhan.
Namun, diujung pangkal keputusasaan para orangtua mereka berenam, terbitlah matahari harapan terbesar dan terakhir yang mereka punya, tak lain tak bukan dengan mengirimkan buah hati mereka bersama pemandu terpercaya, handal, penuh kasih sayang dan bertanggungjawab menuju Dharamsala guna mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari para guru asli Tibet dengan bahasa ibu sendiri dan tumbuh besar dalam kebudayaan Tibet, setiap malamnya bisa kenyang sebelum tidur, terutama sekali untuk mewujudkan rangzen bersama pemimpin tertinggi Tibet, yakni Yang Mulia Dalai Lama ke-14 pernah berkata: “Jangan pernah menyerah! Apa pun yang terjadi, jangan pernah menyerah…Nepal, 10 April 2000”, (hal; 193).
Penaklukan Himalaya yang berdiri kokoh (lebih 6.000 meter) diatas permukaan laut itu lebih dari sekedar lukisan luapan emosi kepuasaan ego seorang pendaki sejati atau ketangguhan fisik, kelengkapan peralatan, perbekalan semata para penakluknya dari yang awam atau kawakan, dari yang kecil hingga dewasa, tetapi juga bagaimana Pema Kecil dkk, menaklukkan diri sendiri, entah itu berupa trauma masa lalu, kerinduan pada keluarga, kampung halaman, sahabat, kebencian pada seseorang, meraih mimpi-mimpi diantara ancaman moncong senjata tentara dan polisi China-Nepal serta intaian para mata-mata yang kelaparan. Padahal para ibu mereka berenam juga tahu resikonya, bahwa apakah nantinya mereka bisa bertemu dan berkumpul lagi suatu saat nanti itu merupakan harapan selanjutnya, setelah tahu anak-anak mereka selamat pelarian dari Tibet dan penaklukan Himalaya, belajar menjadi orang Tibet sesungguhnya, dan mampu mewujudkan cita-cita mereka menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh.
“Pada awal perjalanan pengungsian kami tidak saling ramah terhadap satu sama lain. Tapi, kemudian Pema Kecil bertanya kepada kami, apakah kami mau sebagian dari buah-buahannya. Dan begitulah kami menjadi teman. Dan saat aku merindukan mama dan papa, aku membuat orang lain menangis. Yang lainnya juga menangis saat mereka merindukan papa dan mama mereka-di malam hari”, Dhondup (hal; 157). Pada akhirnya uraian air mata, pengorbanan perasaan tak terhingga orang tua dan anak, harta, tenaga demi masa depan gemilang terbayar lunas di Dharamsala. Adalah Zazie-Maria yang mampu memberikan sentuhan keibuannya pada keenam anak angkatnya dari Tibet yang berawal dari salam khas Tibet: “Tashi Delek”. Selanjutnya mereka berenam mampu tumbuh dan berkembang di Tibetan Children’s Village Dharamsala, desa anak-anak pertama yang dibangun Yang Mulia Dalai Lama dengan bantuan kakak perempuannya Tsering Dolma awal tahun 60-an.
Segera setelah berhasilnya pengungsian Dalai Lama (1959), pengungsian anak-anak pertama dari Tibet masuk ke India. Banyak dari mereka yang harus melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orangtua mereka dibunuh dengan kejam oleh orang-orang China. Lalu datanglah saat kelaparan besar melanda Tibet, yang mendorong seluruh keluarga besar pengungsi melalui perbatasan Himalaya. Tetapi, pada masa itu pun sudah sulit bagi orang-orang dewasa untuk membangun sebuah kehidupan di negara berkembang yang padat penduduknya seperti India. Lalu mulailah, hanya anak-anak yang dikirim menuju sebuah masa depan yang lebih baik. Dengan cepat Dalai Lama muda menyadari bahwa harus ada prasarana dibuat untuk anak-anak, sebuah tempat di mana mereka dapat tinggal dan bersekolah. Saat Tsering Dolma (1964) meninggal dunia akibat penyakit kanker, Jetsun Pema, adik perempuan Dalai Lama, mengambil alih pemeliharaan ratusan anak-anak pengungsi diusianya yang ke-24 (hal; 293-294).
Hari berganti hari, film dokumenter ini mendapatkan penghargaan di berbagai ajang film nasional dan internasional, berbanding lurus dengan ocehan, nyanyian Pema Kecil dkk, yang asyik bermain batu aupo. Walaupun di Jerman sendiri film dokumentasi biasanya diputar di televisi larut malam sehingga mayoritas warganya sudah terlelap.
Alangkah semakin mesranya pembaca dengan Pema Kecil dkk ini lebih dalam lagi selanjutnya, jika tersedia glosarium mumpuni untuk ber-tashi delek tentang budaya Tibet dan sekitarnya dari bahasa ibunya, atau setidaknya bahasa universal, guna memberikan gambaran yang utuh dan kabar teraktual dari kaki Himalaya pada masyarakat dunia. Namun, hadirnya buku ini minimal memberikan sebuah pemahaman besar bahwa harga kebebasan (rangzen) di Tibet itu teramat mahal untuk dibayar para anak-anak.


Judul buku: Escape Over The Himalayas
(Diterjemahkan dari Fluch uber den Himalaya, Tibets Kinder auf dem Weg ins Exil)

Penulis: Maria Blumencron
Penerjemah: Siska Isabella

Penerbit: Imania, Jakarta

Cetakan: I, Oktober 2009

Tebal: xiv+319 halaman


Junaidi Abdillah


Wednesday, December 23, 2009

TAK LAGI

Tak lagi
dapat ku mengenal sosok
karena kabur di antara jurang nestapa
tak lagi
ku dapat tersenyum
karena kaku bibir
membuai dusta
tak lagi
ku melihat
mataku buta karena ma'siat



tak lagi
dapat ku berkata
lidahku kelu membuai mesra
tak lagi
ku menjamah tanganku
terbelenggu
kemunafikan yang memburu
aduh,ku hanya mengadu rindu
pada Dzat yang selalu memberi pintu!tuk masuk ke rumah rindu
bertaubat,membelai cinta
pada Maha Pecinta

Hidup Bukan Untuk Diri Sendiri

MERASA TERGANGGU, itu terkadang yang kita rasakan ketika kita harus konsentrasi untuk melakukan pekerjaan, yang mungkin mendesak dan harus selesai dengan waktu tertentu. Tetapi, seringkali, ketika kita harus membaca, menulis, kontemplasi selalu ada cobaan untuk membuyarkan konsentrasi , dan pekerjaan terlambat dan tidak sesuai dengan harapan (waktu yang ditentutan), karena ada
pekerjaan lain yang harus kita lakukan. Kadang kita merasa mangkel, jengkel, dan merasa tidak akan pernah cerdas dan sukses kalau hal selalu terjadi. Ketakutan-ketakutan itu mungkin wajar, bagi mahasiswa, dosen, karyawan dll yang selalu ingin belajar dan belajar, selesai dans elesai. Tapi, hal itu bisa tidak menjadi wajar, jika hal tersebut berlarut-larut untuk dipikirkan sehingga mengganggu untuk menjadi kreatif dan produktif.


Kemudian, saya berfikir bahwa kesuksesan itu adalah perspektif, ada yang merasa sukses jikalau ia sudah menerbitkan buku, ada yang mersa sukses jika ia sudah dapat membahagiakan orang lain meskipun dirinya tidak terlalu banyak diuntungkan, ada yang merasa sukses dengan sekedar apa yang dapat diberikan pada orang lain, ada yang merasa sukses jika dapat memberikan taushiyah pada orang lain dan ia senang menerima tausiyah itu, ada yang mersa sukses dengan kesibukannya di ladang, di kontor, di bank meskipun konstribusinya pada masyarakat tidak tampak. Itulah, maksud saya bahwa kesuksesan itu perspektif.


Abu bakar dan Umar misalnya, keduanya adalah sahabat Rasulullah yang cukup disegani dan dihormati, dia menjadi tokoh panutan setelah Rasulullah meninggal dunia. Keduanya, merasa sukses ketika dapat bersanding dengan Rasul, mengembirakan orang lain, dan dapat membantu orang-orang faqir. Dengan seperti itu beliau sudah merasa nikmat. Ada yang merasa nikmat dan sudah menjadi makanan setiap hari, yaitu menulis. Ini bagi orang-orang yang doyan menulis, seperi Azyumardi Azra, Cak Nun, Cak Nur, Kunto Wijoyo, Komaruddin Hidayat dan lainnya. Mereka menikmati hari-harinya dengan membaca dan menulis. Ada yang menikmati hari-harinya sebagai da’I, sehingga tidak sempat untuk menulis apa yang ia bicarakan. Imam Syafi’e, Imam Hambali, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Ibnu Taimiyahi dan tokoh-tokoh sekaleber dia, mereka mampu berbicara dimana-mana dengan lugas dan tangkas, sehingga diburu oleh jamaah, untuk mendengarkan ceramah-ceramah beliua, namun mereka tidak hanya mencukupkan dengan berbicara. Akan tetapi, keproduktifitasnnya diakui dengan merangarangnya beberapa kitab yang samapi sangat ini menjadi rujukan oleh umat Islam.

Terkadang saya berfikir apalah arti hidup, jika saya tidak bermanfaat bagi orang lain. Mereka pada masa hidupnya, bermanfaat bagi orang lain, dan setelah wafat juga kemamfaatannya masih juga dirasakan oleh banyak orang. itulah berkat ketekunan, kesabaran, dan keproduktifitasannya. Mereka selain produktif, juga ahli ibadah bahkan masuk pada jajaran sholihin. Betapa nikmatnya hidup bagi mereka, yang antara hubungan fertikal dan horizontal tidak pernah lepas.