www.wikipedia.com

Tuesday, January 27, 2009

SUDUT PANDANG 2


"New"UIN Malang

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Presiden No.50 tanggal 21 Juni 2004. bermula dari sebuah Fakultas Tabiyah, cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berdiri pada 1961, lembaga ini beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang pada pertengahan 1997, bersamaan dengan beralihnya status kelembagaan semua fakultas cabang di lingkungan IAIN se-Indonesia yang berjumlah 33 buah melalui Surat Keputusan Presiden No.11 Tahun 1997. Sejak saat itu pula STAIN Malang lepas dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ketika menjadi STAIN pernah diberi nama UIIS (Universitas Islam Indonesia Sudan) yang diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Sudan1. Dan pada 27 Januari 2009 kemarin siang , UIN Malang bermetamorfosa menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan diresmikan langsung oleh Presiden ke-6 RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka "Peresmian Gedung dan Pemberian Nama" yang berlangsung khidmat dan meriah digedung Sport Center UIN Malang.
Sebagaimana tercantum dalam Statuta Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Nomor 137 Tahun 2008, Universitas ini memiliki visi menjadi universitas Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional, dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang bernafaskan Islam serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat2.
Peresmian gedung universitas ini tidak hanya sekedar penyerahan simbolis antara Presiden RI kepada Rektor UIN Malang semata (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo), namun tantangan besar yang tak dapat diprediksi telah siap menghadang tanpa disangka-sangka sedang dan akan datang. Dan untuk mewujudkan idealisme itu semua, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah mentahbiskandirinya sebagai kampus integrasi, antara kedalaman spiritual dan keagungan akhlak (Islam) dengan keluasan ilmu serta kematangan profesional jauh-jauh (IPTEK) hari, harus benar-benar membuktikan pada dirinya bahwa ini bukanlah perkara yang mustahil diraih dan dicapai kedepan guna menjawab tantangan zaman yang berlandaskan ajaran Islam yang rohmatallil’ alamin (tak lapuk dimakan dimensi ruang dan waktu).
Disisi lain, nama Maulana Malik Ibrahim (w.1822/1419) Sang Sunan Gresik, Jawa Timur bukanlah nama yang asing ditelinga Umat Islam di Indonesia, beliau adalah sosok Ulama’ Agung generasi pertama yang telah berjasa besar menyebarkan agama Islam di Jawa Timur khususnya bersama para Wali Songo di bumi Jawa. Apalagi jika dikaitkan dan disematkan pada sebuah lembaga pendidikan tinggi, layaknya UIN Malang yang berusaha sekuat tenaga untuk mencetak dan mempertahankan kader-kader muda yang tidak hanya jenius dibidang ilmu umum tapi juga dahsyat di bidang agama, artinya secara khusus UIN Maulana Malik Ibrahim berusaha merubah dan meluruskan kembali dikotomi keilmuan sekuler yang memisahkan ajaran agama Islam dengan ilmu pengetahuan yang harus ilmiah (empiris) agar kembali pada sirkuit hakikat ilmu pengetahuan sesungguhnya, sebaliknya malah UIN Maulana Malik Ibrahim ingin menegaskan bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang bermanfaat di dunia guna menuju akhirat.

Junaidi Abdillah
27 Januari 2009


DEMI SANG PRESIDEN 
(MENTAL-MENTAL DEADLINE)


Hampir satu bulan ini di UIN Malang khususnya seluruh civitas akademikanya pontang-panting menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya masing-masing laksana Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang, tanpa kenal henti mengejar deadline jelang kunjungan presiden SBY ke Malang (27 Januari 2009).
Panitia penyambutan telah dibentuk, seluruh gedung telah dipermak habis-habisan, rumput dan taman-taman dirapikan serta dipercantik disudut-sudut tertentu dan tempat-tempat strategis. Lembaga kajian mutu terus berbenah mengoreksi kekurangan dan kelebihan masing-masing fakultas hingga rektorat, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa-mahasiswi berprestasi dikumpulkan dan dilibatkan sebagai tamu kehormatan sang presiden, datang, duduk diam memakai jas almamater kebanggaan guna mendengarkan visi-misi beliau.
Andaikata Presiden SBY datang tanggal 5 Januari 2009 lalu, tentunya akan sangat lain, mungkin saja jin Aladin yang akan disewa oleh pihak Universitas. Sebab banyak sekali detail-detail bangunan kampus yang belum selesaikan dengan baik dan hal-hal rumit, yang khusus jadi konsumsi pejabat kampus. Alhasil, sangat tidak mungkin jika tiba-tiba menyewa ribuan tukang bangunan atau pakar untuk menyelesaikannya dalam semalam.
Sampai kemarin siang, pasca turun hujan lebat di kawasan kampus, gladi resik dan hal-hal kecil terus berusaha diselesaikan dengan sempurna. Puluhan aparat Kepolisian, TNI, dan Satpam Universitas saling koordinasi dan berjaga-jaga menyiapkan langkah tepat dan waspada demi keamanan dan kenyamanan mantan jendral sekaligus presidennya di titik-titik penting.
Pertanyannya adalah apakah saat ada kunjungan resmi presiden semata, kita berlari kencang, beringas, teliti, spontan, kerja keras, obsesi, antusias, takut, ambisi, total, semangat, pantang mundur berikan yang terbaik dari yang terbaik untuk orang nomor satu republik ini?. Setelah itu, kita seperti manusia yang kekurangan darah dan oksigen, terbujur kaku dan lemah disudut atau posisi yang kita pijak, lemes, belajar dan bekerja sekedarnya saja, miskin motivasi dan impian berarti, mengawali membangun negeri dari diri sendiri, keluarga, masyakat, bangsa dan negara yang sedang kusut ini.
Tidak bermaksud menyerang atau menyindir siapapun atau apapun yang ada bahkan yang telah tiada. Senyampang mental-mental kita adalah mental-mental takut dealine yang biasanya serampangan dan sedikit-banyak ngawur dalam menunaikan tugas, lambat-laun negeri ini akan menjadi negeri yang selalu sibuk setiap harinya tapi nol hasilnya, sebab dalam proses penggodokannya dikerjakan asal-asalan, dan sebelumnya hanya berleha-leha dan berpangkutangan, sambil berkata: "Santai, Belanda masih jauh, tak mungkin kembali ke Indonesia lagi", nah!.
Dan sudah seharusnya kita menjadi Sriwijaya dan Majapahit yang pantang menyerah menjadi bangsa yang tangguh dan berkarakter, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bukan suatu yang mustahil kita kembali menjadi negara yang lebih beradab dan berbudaya dari segi akhlak dan bhinneka tunggal ika-nya serta memiliki visi misi tajam kedepan yang brilian dan damai untuk Indonesia serta dunia. Bukan malah, sungkan atau takut inspeksi resmi presiden karena bangunan kampusnya belum mboiz (Jawa: bagus, baik) dan tetekbengek-nya, dan sudah sewajibnya kita lebih takut lagi kepada Raja Di Raja yang telah menciptakan presiden.

25 Januari 2009
Djibril Ahmad

Thursday, January 15, 2009

Heaven In The Earth


…I AM PALESTINA…

Halo Zionis-Israel how’s life today?
Are you tired?
Are you stress?
Are you frustration?
What a pity u are, Fucking Gun!
Where is your bomb, tank, F-16, and everything u have?

Come on baby, slowly but sure…
Listen…me
Go to hell now!
If Bush die, if Ehud Olmert suicide, if Obama can’t help u
Come to Indonesia
I wanna give u something
What is that?
Peace, love, unity, respect, and freedom and than…more
Hmm..but I can’t believe you ker!
Because Musa Alaihissalam never believe u too…

14 Januari 2009-J.Abdillah

Puing II
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 & Mata Dewa 1989 )


Perang perang lagi
Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan
Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa
( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
( Tentang ibunya yang mati )
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar


Friday, January 2, 2009

GHAZAL-GHAZAL 3




FUCK ISRAEL !!!

Kenapa kau langgengkan sebutanmu sebagai bangsa jenius-biadab yang banyak bertanya, banyak berdusta? jawab...!
Kau bunuh Nabimu yang diutus khusus untukmu
Kau ingkari Firman-firmanNya demi sepotong bumi Baitul Maqdis
Kau bombardir rasa kemanusianmu layaknya Hyena-hyena buas tuk singkirkan manusia-manusia kecil, ibu yang seperti ibumu, mereka yang ingin terlelap tidur dibuai fajar Gaza


Israel, kau tabuh genderang peperangan yang tidak seharusnya dan selayaknya terjadi dengan alasan apapun dengan nafsu liarmu
Lupakah kau? tanah yang kau klaim dan kau pijak akan runtuh karena kebengisanmu sendiri Bani Isroil!
Tunggulah atom CINTA-NYA
kan hujami Tel Aviv-mu
Sabarlah sejenak Hai pengecut!
balatentara Ababil neraka kan lumat renyah mulutmu yang terkunci rapat

Memang Salahuddin Al-Ayyubi telah pergi

Memang Yaser Ar-Rafat telah mati
Namun bukan berarti kami tak akan kembali

Hijrahkan jiwa, ragamu untuk-Nya wahai Saudara-saudariku Palestina

Karena Surgalah Orchestra nyata hidupmu
Abadan-abadan...amin
1 Muharrom 1430 H

J.Abdillah


"SANG DRUPADI"


Masehi kan tutup tirai ke 2008 nya
Namun belum ku temukan juga Sang Drupadi
Senyampang Indonesia tegap berdiri diantara beling-beling ataupun ranjau
Kami akan terus berlari mengejar montase di ufuk timur hingga ke barat Nusantara
tuk satukan tabib-tabib cinta sebenarnya guna lobati luka-lukaku

Tak terbilang terbayang tarian SEMA Rumi selalu memenuhi otakku yang bangsat!
Arif bijak takkan mampu tombaki jiwamu yang membatu jika kau masih Malin Kundang pada MAHADEWI Sesungguhnya yang datang langsung sebagai PERSEMBAHAN DARI SURGA (maafkan aku Ummi)

25 Desember 08

J.Abdillah

Friday, December 12, 2008

sajak IKa Mudrika

Sajak-sajak IKA MUDRIKA


IBU DAN SENYUMNYA

Senyumnya serupa rembulan yang purnama
Seumpama matahari di titik kulminasi
Layaknya bumi yang tak henti berotasi

Hanya damai yang kurasakan
Tak ada yang bisa menggantikan
Saat senyumnya mengembang
Dari bibir yang penuh kearifan
Dari mata yang memancarkan kehangatan

Malaikat diutus Tuhan untuk senantiasa menjaganya; menjaga Ibu
Menyimpan senyumnya yang pualam
Agar tak sampai kehabisan
Tuhan titipkan kedamaian
Pada tiap-tiap harapan 

Sidoarjo, 4 Februari 2008 

MAAFKAN AKU IBU,,,,,

Aku tak tahu
Apakah lebaran kali ini ku masih bisa menyentuh
Telapak tanganmu yang selalu ku rindu
Telapak tangan yang penuh haru
Haru oleh juangmu
Haru oleh pengorbananmu
Haru oleh tegarmu

Maafkan aku ibu,,,,,,,
Aku tak faham 
Apakah aku masih dalam gelimang dosa?
Karena kali ini ku ulang lagi
Aku tak bisa menjumpaimu
Karena waktu
Karena jarak dan
Karena aku tak bisa menemuimu

Malang, 2007
CATATAN DIPERBATASAN ;
Episode I

Kerang-kerang hanya diam
Bersembunyi dibalik kokoh tiang jembatan
Ikan berenang tak menawan
Pada lautan yang tak dalam

Sementara itu……
Jundi-jundi kecil berlarian 
Telanjang dada dan tanpa alas kaki
Bekejaran, berebut mainan
Tak peduli terik mentari
Lemparkan penat pada alam

Keangkuhan Tidar, Kalimutu, Tirtasakti, Mayang dan kawanannya
Serupa, elok bidadari yang tak tertandingi
Diam, tepekur menunggu para pengantri…..

Kemana mereka akan dibawa pergi
Melewati samudra luas yang tak bertepi?
Mereka….para pengungsi, TKI, penjual roti, anak Bupati dan para pengais rizki?

Sidoarjo, 4 Februari 2008 


PULANGLAH LELAKIKU

Biar mentari yang mengantarmu; aku diam
Biar bintang yang membimbingmu; aku diam
Biar awan yang menemanimu; aku diam
Biar lautan yang menunjukkanmu; aku diam

Malam ini kau pulang
Menerjang aral yang menghadang
Aku tak akan mengantarkanmu
Walau hanya ditepian

Ku hanya bisa bertitip salam
Pada bintang yang mengiringimu
Semoga selamat sampai tujuan 

Malang, 5 Maret 2008 

Monday, December 1, 2008

UNTUKKU BERTUHAN

Tamiiiiiim

Rembulan yang Kini Hadir

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini terbait
Di sela-sela puji-pujian para pujangga yang hilir-mudik
Mewarnai kidung-kidung yang setiap saat singgah
Di medan-medan percintaan
Manusia dan manusia

Merengkuh, mengepal dan menembus batas jiwa
Membungkam setiap peluh yang tertinggal
Dalam nuansa kepedihan yang sengaja dikorbankan

Menanam seribu symbol kerinduan yang terajut
Di awal perjalanan hati
Yang mewarnainya dengan berjuta khayalan
Di setiap jengkal angan-angan
Membuatnya dekat mendekat dalam setiap kenangan

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini terkurung
Di ujung hasrat sebagai kuasa kodrat
Membuat manusia mengulurkan tangan demi
Sebaris makna…cinta

Termasuk juga aku
Yang tiada mampu berbeda dengan mimpi-mimpi
Para pemegang asa
Di gedung-gedung kerinduan
Sampai tiang-tiang mahligai yang sekian lama membendung diri
Menyampaikan beberapa risalah hati
Untuk para rembulan
Yang tiada tahu apakah masih terlelap
atau telah lama pergi membuana menyinggahi para pecinta abadi

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini sulit disebutkan
Terlalu tinggi hingga pujanggapun akan menangis
Jika kekasihnya jadi rembulan


Malang, 2007

Sebersit Kasih Saat Pagi

Hujan pagi ini
Menuntaskan batas kegelapan yang telah berpamit
Meninggalkan peraduan yang membuat satu perjalanan hari terlewati
Oleh dinginnya kesyahduan malam
Oleh derasnya kerinduan mentari

Melintasi sepenggal demi sepenggal jarak
Yang terbentang sebagai awal persembahan waktu
Di pelataran rembulan dan mentari
Jadi saksi atas persalinan hari

Hujan pagi ini
Mengaburkan sepenggal kemesraan
Yang kiranya tak tersadari oleh hati
Antara percik dan embun
Antara ada dan tiada

Maka lingkarilah sepenggal kemesraan itu
Dengan sedikit kata hati
Hingga dapat Kau lihat seberkas kasih
Yang menyelimuti dengan samar
Di balik tajamnya penglihatan

Hujan pagi ini
Membingkai keindahan basah
Yang belakangan ini hilang dari pandangan


Malang, 2007


Karena Debu Ini
Ku ingin menyentuh-Mu

Debu ini menghalangi sepasang mata
Di balik sajadah
Yang tergolek lusuh merayap perlahan
Mengitari tubuh yang memohon syahadah

Pun tiada kata terucap
Menyangga keperihan penyesalan
Yang membuatnya tertancap pasih
Hanya satu tetes dua tetes tiga tetes dan banyak tetes
Yang saling berpelukan
dan menyatu
dan tersungkur

Matanya merah
Merejam riwayat yang membuatnya jadi sampah
Hitam putih
Bertabur aroma kamboja

“Hai Kau yang membuat tubuh
aku mohon padamu
sapihlah air mataku yang jatuh ini
dengan tanganMu
agar kubisa menyentuhMu”


MalanG


DI BALIK AKU DAN DIA

I
Di balik keindahan yang terlahir
Dari dunia yang rapuh
Ku sapa setapak jejak tangis
Kering sepah dalam sejarah dan hati
Mengorek luka dari serpihan kaca yang tercecer

II
Setiap luka terbisik duka
Yang tersuling atas pesan-pesan
Masa depan yang diharap bersih
Menandingi luka yang selama ini diderita

III
Dan pada setiap luka
Tergambar sebuah mahligai
Yang sewaktu-waktu datang
Membawa dua gulungan perban dan sedikit alkohol
Untuk menutup luka
Dan berharap tertutup selamanya

IV
Bila harapan itu tiba
Seusai pelarian sirat
Lembaran-lembaran yang dulu hilang
Pun akan terlebur jadi dua
Aku dan Dia


Malang, 30 April 2007


ANDAIKAN KAU BENAR TENTANG INI

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk mengulang apa yang Kau katakan
Menghafalnya dalam kata
Sambil menutup mata
Dan tersenyum ringai
Tanpa ragu

Menyebutnya berkali-kali
Hingga tak kuingat lagi sampai mana jalan ini kutapaki
Hanya cinta
Hanya pasrah

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk berpikir tentang apa yang Kau katakan
Memilah-milah makna abadi
Dari gambar kebenaranMu
Yang seringkali menunduk malu
Atau hanya tak punya waktu untuk membuka mata

Ia terlalu lugu
Hingga untuk menampakkan diri dalam
Kaburnya petuah beliau, beliau dan beliaupun
Ia masih menunduk

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk melakukan apa yang Kau katakan
Sambil membaca basmalah
Ku buka mata perlahan
Dan ku coba injak duri yang selama ini menjilati kakiku
Agar ku tahu sakitnya
Atau ku tahu senangnya menginjak
Walau mataku terus berair

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk menganggapmu benar
Dan menunjukkannya pada waktu


Malang, 02 Mei 2007



SENYUM
Andai dunia menganggapmu


Kalau saja singgasana keindahan manusia
Terpenuhi sejumput senyum “tulus”
Maka dunia tak ‘kan kehilangan damai
Dari alamat tuan hingga gubuk tua sang pedati
Segala niscaya akan terukir dalam benak
Yang mungkin bukan mengadu, tapi mengaku
Pintu-pintu pun dan apapun akan senang hati
Membuka diri pada semua abdi

Tak ‘kan ada hati yang mati
Tak ‘kan ada diri yang tersakiti
Bahkan mungkin tak ‘kan ada yang bunuh diri
Seisi bumi akan menyanyi lagu-lagu hati
Di sela-sela keluhuran nurani dengan mahkota mungil
Yang siap menyapa setiap pejalan kaki
Yang mungkin lewat di depan imaji

Kilau jari-jari embun di sekujur perjalanan waktu
Pun tak ‘kan menari ragu
Dengan bekal-bekal keindahan,
Bahkan keharuan syahdu-syahdu yang termangu
Di balik keabadian rindu.

Wahai senyum yang rekah
Abadikan damai dalam bingkai cinta
Tampakkan surga di dua sisi mata
Hingga “mereka” tertarik
Hingga “mereka” tak sabar masuk ke duniamu
Hingga suatu saat tak tersisa “mereka” tanpamu



Malang, 13 November 2006

Friday, November 28, 2008

Cakrawala Cerpen

PENGUASA SUBUH

Azizah hefni*


Jauh sebelumnya, ayahku, seorang laki-laki berkulit putih yang terlahir dari tanah timur, bercakap-cakap denganku. Sambil mengelus-elus batok kepalaku, dia bilang, “Nak, manusia itu harus siap hidup dimanapun, dengan siapapun, dan bagaimanapun,”

Bibirnya yang pucat tersenyum pelangi. Kemudian, ia kembali berkata, “Yang terpenting, manusia adalah manusia, bukan masalah ia besar atau kecil, laki-laki atau perempuan,” Nafasnya semakin pelan, “Kamu tergolong manusia itu, nak. Paling sempurna dibanding ciptaan manapun,” bisiknya.

Laki-laki dari timur itu menguliti sepasang mataku yang lugu. Dikecupnya keningku, lalu ditariknya aku ke dalam pelukannya. Lamat-lamat, kudengar ia menangis sangat pelan. Bau tubuhnya, bau balsem. Batuk yang kabur, muncul di sela-sela perbincangan. Laki-laki dari timur, yang merasai sesuatu itu, melepas pelukannya “Tapi, manusia, sekalipun paling sempurna, sangat rapuh hatinya, nak. Ia muda terpedaya. Jadi, berlindunglah kamu dari kejahatan yang tak terduga. Mintakan pula perlindungan untuk ibumu selalu. Terjagalah tengah malam, dan jangan tidur sampai subuh benar-benar datang. Mintalah perlindungan pada Penguasa subuh.”

Itulah terakhir kalinya. Setelah itu, memang tak pernah lagi. Laki-laki dari timur pergi. Sudah bahagia ia di sebuah tempat. Di sana, di keabadian para manusia berikutnya. Dan pembicaraan terakhir itu, begitu kuat menancap dalam otakku. Seterusnya, hingga saat ini.

Ibu, perempuanku yang bertahi lalat di dagu, menangis tersedu-sedu saat kematian laki-laki dari timurku. Ia menciumi pakaiannya sepanjang malam. Kadang ia mengenakannya, sesekali menidurinya. Perempuanku itu, murung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-berbulan.

Setiap malam, aku mendengar isaknya yang tertatih dan pedih. Hampir setiap malam, ia mendatangi kamarku dan mengamati wajahku yang kerap pura-pura terlelap. Sambil mengelus rambutku, ia pasti berkata, ”Malam yang sempurna gelapnya sudah berpamit, nak. Hari baru datang lagi. Namun tidak bagiku. Segalanya adalah kenangan, dan ayahmu masih terasa di sini, bersamaku,” Kemudian, bibirnya menyebut nama laki-laki dari timur berkali-kali, lalu mengecup keningku.

Begitukah cara perempuan mencintai laki-laki?

Seterusnya, perempuanku dan aku menjalani hari. Ia masih bertahan dengan kemurungannya. Kebiasannya itu, berdampak pada pribadiku. Aku semakin enggan bercakap dengan kawan sepermainan. Aku bosan dengan cerita-cerita kartun dan mainan-mainan.

Tapi, suatu hari, tiba-tiba saja, perempuanku itu bertanya padaku, “Apa kau mau, bila aku menikah dengan orang lain, nak?”

Pertanyaan itu mengejutkanku. Tatapannya sangat serius, cukup ambisius. Aku seperti tidak sedang melihat perempuanku yang lugu, yang tulus menunggu. Matanya yang lembab, terlihat kering.

Aku menerima lamaran laki-laki baru. Dia mencintaiku sejak dulu, sejak sebelum ayahmu. Ia memiliki satu istri dan tiga anak. Tapi, semua itu tak masalah bagiku. Sebab aku sangat mencintainya,”

Tenggorokanku menegang. Mencintainya? Lalu, malam-malam yang dilalui untuk mengenang kebersamaannya dengan laki-laki timur itu? Hari yang tak pernah baru itu? Kerinduan dan kenangan yang menjadi ruh, termasuk berbagai kalimat yang ia sampaikan padaku: cara perempuan mencintai laki-laki, kesetiaan yang tak lain adalah harga diri, penantian yang sulit namun sangat berarti? Apa arti semua itu?

Aku betul-betul tak sanggup melihat sepasang matanya. Tak kusangka, matanya yang bersahaja, telah membohongi kepercayaanku (atau, aku yang terlalu bodoh menangkap makna?)

Aku memeluk perempuanku seerat-eratnya. “Jangan lakukan apapun, ibu! Jangan membuat kebanggaaku padamu hilang hanya karena keputusanmu ini!” Aku menangis selayaknya bocah yang kehilangan kesempatan.

Tak ada yang tersisa dari kematian ayahmu!” jawabnya tegas. “Kisahku dengan ayahmu sudah sepenuhnya usai! Dan aku telah menemukan pengganti yang tepat! Lagipula, dia sudah mati, tak ada gunanya lagi aku menanti!”

Ibu pembohong besar!” balasku. “Bukankah ibu pernah bilang, di masa keabadian manusia berikutnya, kita bertiga akan bertemu kembali, asal kita setia dan berdoa?!” Kalimatku tertahan. Aku segera ingat, siapa sosok di depanku. Dia ibuku, perempuanku. Laki-laki timur tak pernah menyukai siapapun yang membentak perempuanku. Sungguh, tak seharusnya kukeraskan suaraku.

Tapi, pikiranku memang sedang kalut. Aku mengerami berbagai kemungkinan dan anggapan. Jangan-jangan, karena perempuanku tak tahan dengan jumlah makan kami yang kadang sekali kadang dua kali, pelanggan jahitan yang tak melulu datang atau dagangan yang membusuk, sehingga ia memutuskan menikah dengan laki-laki baru?

Diamlah, kamu!” Untuk kali pertama, aku mendengar nadanya yang sangat kasar. Tangannya memaksa melepaskan pelukanku. “Tahu apa kamu tentang cinta dan kesetiaan? Sudah merasa lebih tua kamu dariku sekarang, heh? Siapa yang mempola pikiranmu sampai jadi begitu melankolis?!”

Aku diam ketakutan. Kedua tanganku gemetar. Perempuanku beranjak pergi, setelah sebelumnya membanting pintu kamar keras-keras.

Sungguh, peristiwa ini terlalu mendadak.

***

Setelah perbincangan itu, sepulang sekolah, aku selalu melihat laki-laki baru duduk di pelataran rumahku. Laki-laki baru itu, adalah masalalu perempuanku sebelum dengan laki-laki dari timur. Ia dulu gagal mendapatkan hati perempuanku karena terlalu ambisius dan sombong.

Seperti hari itu, aku melihatnya sedang menghisap rokok, menggerak-gerakkan salah satu telapak kaki dan berbicara dengan suara sangat lantang. Lehernya bergelambir, matanya menyimpan bergram-gram lendir. Yang menyesakkan, mata perempuanku berbinar-binar mengimbangi percakapan dengan laki-laki baru. Sialnya, perempuanku memerintahkanku untuk segera mencium tangan laki-laki baru dan bersalam padanya. Pandangan mata perempuanku tiba-tiba sinis jika aku keberatan. Laki-laki itu hanya akan terbahak-bahak dan memuji kemanisanku. Bila sudah begitu, ia akan memasukkan lembaran lima puluh ribuan ke saku baju sambil berujar, “Belilah mainan yang kamu suka, nak!”

Bah, dia tidak tahu, aku sangat membenci mainan!

***

Katakanlah padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Keberadaanku sebagai bocah, memang sangat patut jika dipandang sebelah mata. Tapi, bukankah laki-laki dari timur pernah bilang, bahwa ada janji dari langit, bagi mereka yang terjaga setiap malam, mencintai dengan ketulusan, merenungi sejarah dan kenangan, akan dilindungi Penguasa subuh?

Aku berlindung pada segala keraguan. Bukakanlah untukku rahasia-rahasia. Aku tahu, aku bukan penafsir pertanda, juga ahli nujum atas sesuatu yang kasat mata. Tapi aku sedikit merasakannya. Aku merasa terluka, sebab perempuanku tak menyadari apa-apa.

Setan beranak pinak, belum satupun yang terkubur apalagi lebur. Sejak dulu, ia sudah ada dan menggoda manusia. Setaraf nabi pun mampu ia tundukkan, apalagi hanya manusia biasa? Kaum jahat itu akan terus menebar kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Dengan jaminan sesuai aturan main mereka sendiri, sudah digenggamnya ruh-ruh tolol manusia. Sangat mudah dan cepat. Tak terduga dan mengena. Zaman sudah dekat dengan penghabisan. Semakin luntur keyakinan dan pengabdian. Semakin hilang eksistensi dan substansi. Aih!

Lalu, bagaimana denganku? Dengan perempuan yang kucintai itu? Pertimbangan apa lagi yang diributkan? Sekuat apa aku, hingga harus kutembus lapisan-lapisan langit untuk sampaikan mauku? Seberapa lama lagi harus kubangun kepercayaanku pada kekuatan subuh? Dimana Penguasa subuh itu?

Manusia tetaplah manusia, bukan masalah ia besar atau kecil, laki-laki atau perempuan. Kalimat laki-laki Timur, tiba-tiba menelusup dan mengagetkanku. Aku mencari-carinya, namun tak ada. Aku kembali menenggelamkan kepala pada kedua lututku. Betapa kalah aku kali ini. Malam memelukku yang duduk mencangkung ketakutan di pelataran rumah. Aku tersedu, seperti pecundang tak tahu malu. Naifnya aku, karena tak bisa berbuat apa-apa untuk perempuanku.

Namun, suara laki-laki dari timur kembali terdengar. Semakin lama semain tegas. “Tengoklah langit pekat yang merentangkan sayap-sayapnya, nak! Itu sayap malaikat yang terbang bersamaan! Langit suka pada yang manusia yang tak pernah lelah. Pasti akan terbuka segala rahasia, akan datang jalan mulia. Semayamkanlah keutuhanmu pada yang satu, nak. Bilang pelan-pelan, aku berlindung pada Penguasa subuh, dari segala kejahatan yang tak pernah kusadari, dari kegelapan yang menakutiku, dari para peniup buhul, dari mereka, yang sibuk dengan kedengkian-kedengkian...”

Bibirku tertuntun. Aku mengikuti suara halus itu. Aku mengulang kalimat-kalimat itu berkali-kali, begitu seterusnya. Sorot mata perempuanku yang sebenarnya terluka bergelayut di atas kepalaku. Bukakanlah satir dan tabir yang menutupi hatinya. Akan kubacakan kitab suci atas namanya. Asal ia bahagia, asal ia terbebas dari marabahaya.

Dan tiba-tiba cahaya muncul dari utara. Bulat, seperti globe. Merah, seperti lampion. Pelan, seperti nenek renta. Mengendut-endut, melenggang dan bersolek. Air dalam sumur mataku hampir kering. Aku terbeliak melihat bola kecil itu menelusuri lajur langit yang kasat mata. Menyipit, menelisik, menyelidik. Aku berdiri, menaiki kursi. Benda itu semakin dekat. Aih, mau kemana bola api itu?

Langit lega, bisa memberikan sedikit jawaban. Alam memang tak diciptakan untuk mengumbar rahasia. Hanya sebatas memberi pertanda, tidak lebih, tidak kurang. Semakin lama, benda itu semakin dekat. Tapi, pemandanganku terhalang rimbun pohon. Berkali-kali aku beralih. Berkali-kali bola itu hendak sembunyi. Terakhir kali, aku melihat bola itu meletus sebelum sampai mendekat ke arah rumahku!

Subuh berkumandang. Penguasa telah mengambil keputusan.

***

Setelah keajaiban subuh itu, perempuanku terbangun dengan nafas terengah-engah. Ia mencari-cariku di kamar, tapi tak ada. Mulutnya berteriak memanggil-manggil namaku, namun tak juga ada sahutan. Ia baru merasa lega saat menemukanku duduk mencangkung di pelataran, dengan kepala tersembunyi di balik kedua lutut.

Tanpa berkata apa-apa lagi, diraihnya tubuhku. Ia memelukku sangat erat. Tangisnya berderai, membuatku kelabakan. Ia menciumi rambutku, sambil terus memelukku. “Aku merasakannya, nak, aku merasakannya!” Nafasnya terengah, “Sumur itu gelap dan bau amis. Di dalamnya, seikat rambut dan batu gelap. Ada juga sisir serta jarum. Api meletup-letup. Debu dan asap dimana-mana!”

Aku tercengang-cengang melihat kegugupannya.

Aku melihatmu berdiri di pelataran! Kamu menangis dan terluka parah! Kamu ketakutan dan menjerit mirip orang kesurupan! Kamu menuding mukaku, memarahiku habis-habisan. Kamu berlari menjauhiku, nak! Kamu terbang ke atas, bertemu ayahmu! Sedang aku, sedang aku... Aku tenggelam di sumur yang sangat dalam seorang diri...” Ia berhenti, lantas melepas pelukannya, “Tidak akan rela aku sia-siakan kesetiaanku, nak! Sampai matipun, aku berjanji! Demi Allah, tak akan kunikahi laki-laki manapun! Aku hanya milik ayahmu dan milikmu nak...” Bibirnya gemetar. Ia berdzikir lirih. Kudengar, ia menyebut berkali-kali nama laki-laki dari timur lagi.

Tanganku mencengkram tangan perempuanku kuat-kuat. Inilah jawaban itu! Aku mencintainya, sangat mencintainya. Jawaban itu, entah dari mana asalnya. Awal mula perubahan perempuanku terlalu cepat, kepulangannya pun sangat cepat. Perhelatan kemunafikan itu akhirnya sudah buyar. Perempuanku sendiri yang mengakhirinya.

Ibu...” Aku kembali tenggelam dalam pelukannya.

***

Siang harinya, aku dengar laki-laki baru meninggal di rumahnya. Kematiannya sangat tragis: tubuhnya meletus.

Malang, 4 November 2008








Buat Tamim

HARGAI PROSES, WALAU BELUM TUNTAS.

Aku terlalu sayang pada Tinta Langit…”

Saya ingat betul, bagaimana Tamim mengatakannya dengan suara begitu lirih dan dalam. Dia tidak menatap mata saya, melainkan menatap lurus ke udara di atas kepalanya. Saat itu, kami berdua sedang berada di masjid Tarbiyyah untuk membicarakan masa depan komunitas.

Kalimat itu membuat saya sangat malu. Tak tahu, mesti mengomentari bagaimana lagi saya saat itu. Saya cuma bisa tersenyum datar, sambil mengata-ngatai kebodohan saya dalam hati. Tamim membuat mata saya terbuka. Ketulusannya itu, membuka sejarah yang lama terlupakan. Ah, Tamim. Besar sekali khilaf saya padamu, pada kita semua: Tinta Langit.

Saya tak pernah melupakan apa saja yang telah terjadi di bawah bendera komunitas kita. Segala idealisme, sampai realitas yang rumit yang harus kita pecahkan bersama. Cita-cita akan lingkungan yang kondusif untuk menulis, membaca, berdiskusi, begitu berharga kita usung di atas kepala kita. Kita semua seperti pejuang yang sangat rela jika tak terbaca siapapun. Asal kita bisa menjadi generasi muda yang handal menulis, haus membaca, dan begitu gemar diskusi, maka apapun kita jalani. Walau tak ada biaya, tak ada tempat, tak ada dukungan, kita berusaha mewujudkannya sendiri.

Tamim menyimpan memori itu dengan sangat baik. Ia menjaga sejarah yang berdebu dan hampir tak berlaku bagi kita. Ia begitu menghargai kenangan dan segala proses yang telah dijalani, sekalipun belum tuntas. Benar, Tamim masih mencatat segala impian dan harapan itu dengan rapi di hatinya. Dengan sorot matanya yang pasrah namun sebenarnya sangat kuat itu, saya yakin, ia akan terus memegang erat Tinta Langit dalam genggamannya, selamanya...

Tinta Langit adalah kita, bukan siapa-siapa. Aku tak rela jika Tinta Langit menjadi milik orang lain selain kita...” Lanjutnya semakin serius.

Tapi, waktu kita semua sudah hampir habis, mim. Kesibukan kita menumpuk. Kita tak bisa andalkan apa-apa dari komunitas yang tak lagi berjalan ini,” saya menimpalinya “Kita harus rekrut anggota baru,” usulku kemudian

Tidak! Tinta Langit kita yang dirikan, biar dia menjadi milik kita! Bukankah dulu kita sepakat untuk tidak merekrut anggota? Mau mengingkari komitmen sendiri?” Sepasang matanya menghakimi saya.

Saya kaget bukan kepalang.

Rekruitmen anggota itu, apa kamu yakin sebagai alternatif agar Tinta Langit agar tetap berjalan? Atau, usulan itu hanya untuk melempar tanggungjawabmu saja sebagai anggota Tinta Tangit?”

Kalimat tamim sangat mempermalukanku. Ia bicara sangat tegas, sehingga pusat jantung saya seperti diremat-remat. Saya menunduk pelan-pelan, membawa malu saya yang semakin berat rasanya.

Teman-teman boleh sibuk, zi. Tapi, tidak seharusnya mereka lupa pada perjuangannya sendiri, pada berbagai harapan dan cita-cita yang mereka rintis sendiri. Bila tak ada yang mau mempertahankan Tinta Langit, biar aku seorang saja yang mengusung namanya! Sampai kapanpun, aku akan hidupkan Tinta Langit, sekalipun hanya di hati dan pikiranku saja!”

Tamim menghembuskan nafas panjang. Kepalanya ia sandarkan ke tembok masjid, dan sepasang kakinya ia selonjorkan. Ia seperti kelelahan. Mungkin, lelah menghadapi saya yang tak juga menyadari betapa berharganya Tinta Langit, atau mungkin lelah pada kenyataan yang terlalu pahit untuk ditelan Tinta Langit.

Tamim menyadarkan saya, bagaimana cara mencintai dan setia pada sesuatu. Tamim memberikan pelajaran berharga pada saya, tentang bagaimana cara memperlakukan impian yang dilupakan waktu. Tamim benar. Tak seharusnya saya (dan lainnya) menyerahkan Tinta Langit pada selain kami. Tinta Langit adalah kami bersebelas. Tak ada selain itu. Selalu.

Saya ingin menangis. Tapi saya malu melakukannya di depan Tamim. (zizi)

Malang, 27 November 2008

Wednesday, November 26, 2008

PSIKOLOGI LIRIK 3


Sarjana Muda

Cipt. Iwan Fals

Berjalan seorang pria muda dengan jaket lusuh dipundaknya

Disela bibir tampak mengering terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak

Wajah murung semakin terlihat

Dengan langkah gontai tak terarah

Keringat bercampur debu jalanan


Reff 1

Engkau sarjana muda resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu

4 tahun lamanya bergelut dengan buku tuk’ jaminan masa depan

Langkah kakimu terhenti di depan halaman sebuah jawaban


Tercenung lesu engkau melangkah dari pintu kantor yang diharapkan

Terngiang kata tiada ada lowongan untuk kerja yang didambakan

Tak peduli berusaha lagi namun kata sama kau dapatkan

Jelas menatap awan berarak

Wajah murung semakin terlihat


Reff 2

Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja

tak berguna ijazahmu

4 tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya


Setengah putus asa dia berucap: “maaf ibu.”


Hari ini, Sabtu 3 Mei 2008 kakak, saudara/I dan teman, pacar, tetangga kami dinobatkan menjadi Mahasiswa-mahasiswi Strata-1 dan Strata 2 di gedung Sport Center UIN Malang. Dengan nilai beragam, ekpresi bermacam-macam dan dari fakultas berbeda bersama-sama menatap masa depan, entah apa yang ada dalam benak mereka dan juga kami tidak tahu apakah nanti seluruh civitas akademika angkatan kami bisa juga mengecap hari dimana topi toga disematkan oleh bapak rektor Imam Suprayogo tercinta atau rektor selanjutnya.

‘Ngobrol’ hari-hari penting bin spesial di bulan Mei, layaknya seperti melewati bara panas sejarah panjang bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, diawali dari tanggal 2 Mei-nya Ki Hajar Dewantara bapak Hari Pendidikan Nasional dan fakta bersaksi bagaimana kualitas pendidikan Indonesia keseluruhan dari masa ke masa lebih didominasi kebijakan politik yang ‘semelekete’ minim keberpihakan pada kulaitas SDM anak bangsa. 2 Mei 1998 platform ‘Reformasi’ total gencar di suarakan putra-putri bangsa seantero Indonesia. 12 Mei 1998 Kerusuhan Mei anti Orde Baru disamping 9 Harga pokok tak terjangkau rakyat kecil yang berakhir Chaos dimana-mana. 10 tahun lalu atau 13 Mei 98 Tragedi penembakan Mahasiswa Trisakti dan dirangkai dengan peristiwa Semanggi I dan II. 14 Mei 98’ Almarhum Presiden Soeharto lengser ke prabon alias mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan setelah 32 tahun berkuasa bada’ didesak mundur jutaan rakyatnya dan anehnya diserahkan kepada produk orde baru juga, sang jenius Indonesia, BJ. Habiebie. Dan 20 Mei 1908–2008 atau 100 tahun lalu Kebangkitan Nasional di deklarasikan oleh 3 serangkai.

Bidikan kami hari ini adalah sang “Sarjana Muda”, agent of change & agent of control. Mengapa? 2 minggu lalu kami mendapat mata kuliah konstruksi tes, dosennya membahas ada 3 macam tipe Mahasiswa-i, pertama, Mahasiswa/i yang benar-benar menikmati dan menguasai matakuliah terlepas dari nilai yang keluar nanti A/B/C/D hingga menjadi Master atas bidang yang digelutinya. Kedua, Mahasiswa/i yang mengikuti mata kuliah agar segera lulus dengan ukuran nilai yang didapat dari dosen, dengan cara beragam. Ketiga, Mahasiswa/i yang penting kuliah alias menggugurkan kewajiban belajar sepanjang hayat.

Jujur, hari ini kami pun takut, bingung, cemas tak berdaya mau jadi nanti kami sesudah diwisuda nanti berbekal ijazah ditangan kanan dan toga di atas kepala berhiasakan baju kebesaran. Melihat bagaimana tingkah laku kami yang sembrono, slengekan, gendakan, awut-awutan, sekarepedewe dengan tugas yang begitu menggunung di depan mata untuk “FORMAT MASA DEPAN” Indonesia secara makro dan menyeluruh, menyentuh segala lapisan masyarakat.

Malu, pada diri, orangtua, kerabat, sahabat apalagi kepada Dzat Yang Maha Bijaksana Alloh SWT dengan label tertinggi yang telah diberikan untuk ‘para pendulang ilmu’. Terlepas ini khayalan tingkat tinggi ataupun kerja dimana saya nanti, gajinya berapa, fasilitasnya apa, wiraswasta atau karyawan berdasi di belakang meja, terserah!.

Tulisan ini hanya mencoba mengajak kita semua untuk re-fikir tentang apa sebenarnya yang kita cari dan tuju di bangku kuliah ini, selebihnya bisa anda lanjutkan kembali di fase berikutnya hingga Izroil as menjemput satu detik dari sekarang.

Mengaitkan sebuah teks lagu dengan kenyataan di lapangan kehidupan tidaklah mudah. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Iwan Fals, individu yang mampu menghipnotis jutaan OI (orangnya Iwan) untuk setia mendendangkan sekaligus mematri bait-bait Iwan Fals didada, untuk kemudian berusaha mengaplikasikannya di ranah kehidupan langsung.

Bukan untuk menyindir siapapun, atau menyudutkan individu, kelompok bahkan pemerintah dan birokrasi manapun. Sarjana muda detik ini langsung/tidak telah menjadi masalah akut bagi pemerintah khususnya, setiap setengah tahun sekali antara bulan maret-mei dan September-oktober jutaan Mahasiswa/i diwisuda oleh lembaga pendidikan formal atau non formalnya masing-masing dengan tujuan untuk mencerahkan arah kehidupan Indonesia. Namun yang terjadi luar biasa terbalik, pengangguran, kejahatan, korupsi, dsb semakin merajalela di Buser, Sergap, Borgol ataupun diparodikan ala Tangkap di ANTV setiap hari, bahkan seringkali di depan mata kita sendiri jebolan lembaga pendidikan bonafide melahirkan koruptor kelas kakap/paus.

Mengapa semua itu terjadi? lemahnya mentalkah, salah niat, miskin motivasi, tak ada lapangan pekerjaan, jauh dari agama atau tanpa ideologi pasti, fakir kreatifitas. Tak tahulah, yang jelas Iwan Fals menciptakan lagu ini, jauh sebelum acara wisuda ini dilaksanakan. Jadi marilah kita berdoa dan berusaha agar Alloh SWT selalu memberikan detik demi detik hujan rohman-rohim-Nya pada kita wisudawan-wisudawati dan calon wisudawan-wisudawati di masa mendatang Indonesia & Pelestina serta Dunia. Wa’allahu A’lam Bisshowab

3 Mei 2008

Djibril Ahmad

PSIKOLOGI LIRIK 2

KEMBALI KE TIMUR

oleh: Ahmad Band

Datanglah Sebagai Dirimu Bawa Jiwa

Sanubari Yang Tak Terasa Butakan Hati

Iblis Berbentuk Manusia Butakan Hati

Mengajak Kita Untuk Berdansa Lewat Nada

Sejatinya Jiwa Tak Mati Dimakan Zaman

Kembali Ke Timur

Bukan Barat Yang Selalu Dituju

Pemadat Dijadikan Panutan

Bukan Al Gazali

Idiologi Setan Disebarkan

Menghimpun Massa Yang Lapar

Datanglah Sebagai Dirimu Bawa Nilai

Rasa Nurani Yang Hilang Tuntaskan Hati

Datanglah Sebagai Dirimu

Timur Yang Selalu Dituju

Jujur, kita sebagai mahasiswa hari ini layaknya jasad tanpa nyawa alias mati. Sebab pasca era aktivis mahasiswa 98’ yang sukses memperankan dirinya sebagai agen perubahan dan pengontrol kepincangan-kepincangan seluruh aspek kehidupan bangsa yang dimotori oleh rezim Orde Baru. Taji mahasiswa detik ini seakan tumpul digerogoti ulahnya sendiri yang lambat-laun kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa, anak bangsa, generasi penerus atau harapan terdepan masyarakat Indonesia.

Lirik diatas subyektif kami munculkan, itu lebih kepada bagaimana cara kami menawarkan solusi ringan kepada diri saya sendiri untuk mengawali sebuah langkah kecil untuk kembali ke trek sebenarnya yakni gerakan perubahan sosial nyata bagi diri, keluarga, lingkungan dan bangsa Indonesia khususnya.

Album yang bertitle “Ideologi, Sikap, Otak” karya Ahmad Band, yang digawangi oleh Ahmad Dhani (vocal/keyboard), Pay (Gitar), Bongki (Bass), Bimo (Drum) yang rilis saat reformasi 1998 ini terang-terangan menyerang kebijakan rezim Orde Baru dan ketimpangan-ketimpangan lainnnya. Dari tema dan cover album pun kita bisa menebak bahwa isi materi lagu yang dinyanyikan adalah kritikan tajam terhadap pemerintahan presiden Soeharto yang perkasa dan otoriter (32 tahun) membungkam kran kemerdekaan berpendapat rakyatnya sendiri yang berujung tumbangnya rezim ini oleh pendudukan mahasiswa dan rakyat Indonesia di gedung DPR/MPR 1998, sesuai dengan pendapat .

Namun kedikdayaan ilmiah mahasiswa lewat ide segar, karya cemerlang, akhlaqul karimah, serta kontribusinya seakan luntur, manakala kita lihat sekeliling kita sekarang. Dalam konteks UIN Malang, Mahasiswa baru selalu berkobar semangatnya saat OSPEK berlangsung hingga beberapa bulan kemudian, setelah itu mereka akan mulai terkontaminasi oleh lingkungannya yang miskin Ideologi, Sikap, dan Otak.

Miskin ideologi sebab ia gadaikan idealismenya dengan segudang fasilitas yang didapatnya dari orang tua, berupa uang berlimpah, pulsa full, kongkow atau cangkruk tanpa tema yang jelas namun, spesifiknya mendahulukan urusan perut daripada ngeces (Jawa: Mengisi) kognisi dan hatinya dengan teguk demi teguk pengetahuan dan agama. Akibatnya pengetahuan yang masuk terkadang hanya lewat begitu saja, ironisnya kita lebih barat dari orang barat sendiri, seperti saat wacana filsafat modernisme telah usang di Eropa ataupun Amerika, malah kita masih sibuk berdebat tentang hal basi itu. Padahal kita punya ideologi pribumi sendiri, entah manuskrip-manuskrip terdahulu yang masih relevan, layakanya Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, Fihi Ma Fihi Ar-Rumi, Ilmu kedokteran Ibnu Sina, kitab-kitab Fiqih Imam Syafi’i, karya-karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang lebih cocok di adaptasi di dunia Timur pun juga tak menutup kemungkinan di Barat. Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah (memuliakan/mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik), dimana Islam datang sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Artinya, ketika masuk UIN Malang dengan embel-embel Islamnya kajian tentang karya-karya abad pertengahan hingga penghujung abad 20 harus digalakkan, agar jurang pemisah peradaban tidak semakin melebar. Sebab, bagaimanapun juga, Barat sampai kapanpun tak akan mengakui Al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama yang mereka yakini kelimiahannya secara terang-terangan, kecuali mereka yang telah mendapat hidayah. Dan bukan berarti kita menutup mata dari karya-karya tokoh Barat, tetapi obyektiflah, jangan silau dengan Barat yang baru berumur satu abad lebih, dan bukan pula kita bernostalgia dengan zaman Islam berjaya di Bagdad, Andalusia, India, Turki, dan seterusnya. Namun lebih bagaimanapun Timur adalah Timur dengan berjuta mutiara tak tersentuhnya yang sesegera mungkin untuk digali, ditemukan, diangkat, dibersihkan, disepuh, disebarkan ke seantero jagad keindahannya, layaknya berlian termahal yang pernah ada. Apalad ked ked ked ked ked ked ked ke karena trauma atas monopoli gereja yang sewenang-wenang kepada ilmuwan yang berjasa menemukan teknoligi baru, dimana agama dijadikan kedok untuk memberangus arus yang melawan ketetapan gereja. Dan hal itu tidak pernah terjadi dalam sejarah peradaban Islam.

Miskin Sikap terjadi, karena panutannya bukan Al-Ghazali kata Ahmad Dhani, faktanya poster Bob Marley lebih menghiasi kamar kita dari pada Bung karno, Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro ataupun tokoh lokal daerah kita. Pokoknya yang berbau luar negri kita anggap The Best dan Perfect dari pada produk bumi pertiwi, entah mengapa?. Akibatnya, kita ataupun saya juga lupa apa isi sumpah pemuda 1928 yang menggegerkan dunia itu. Dan kita tak perlu marah ketika keris, batik, reog, tempe diklaim milik negara lain, lha wong pemudanya malu pakai batik sendiri atau menunjukkan pada dunia identitas sosial bangsanya, kasep!. Padahal kita pun tahu, bahwa ujung tombak perubahan zaman adalah pemuda-pemudi bangsa itu sendiri.

Miskin otak, sangat nampak, bisa kita lihat buktinya di perpustaan pusat kampus, mahasiswa-mahasiswi berbondong-bondong masuk perpus jelang UTS dan UAS atau tugas harian. Apalagi cara lebih instan telah ada, alias browsing depan kampus. Akibatnya, kelompok kajian diskusi-diskusi berjalan seperlunya, tidak istiqomah, cenderung cepat bubar ditengah jalan. Sebab yang kami ketahui, tokoh besar lahir karena sewaktu menjadi pelajar atau mahasiswa mereka memiliki kelompok kajian kecil plus berbakti pada orang tua dan gurunya, hmmm, tips ringan yang langka dilakukan.

Tidak perlu termehek-mehek jika Indonesia dianggap sebelah mata oleh dunia Internasional, jika semakin hari kita hanya terlena dengan keperkasaan Majapahit, Sriwijaya, Demak dan sebagainya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tinggi peradaban karya sastranya. Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akhlaq mulia.

Keberadaan OMIK (organisasi mahasiswa intra kampus) dan OMEK (organisasi ekstra kampus) adalah wahana terstruktur yang sejak dulu lahir dan melahirkan tokoh-tokoh ndepen nasional dan intenasional, tanpa mengecilkan peran organisasi ndependent lainnya. Semuanya akan memberikan kontribusi kongkrit jika kita kembali membaca, menghayati dan mengamalkan visi serta misi ataupun ­khittah (hakikat) berdirinya suatu organisasi. Jika itu tidak dilakukan, kita akan semakin teralienisasi oleh keputusan dan kebijakan yang kita ambil sendiri, karena kita sedang berjalan ke Timur bukan ke Barat.

J. Abdillah

RESENSI BUKU


Ledakan “Laskar Pelangi”

Andrea Hirata: “Seorang sastrawan itu haruslah seorang ilmuwan.”

Dalam tulisannya Sain, Sastra, Keraguan. Nirwan Ahmad Arsuka [Esei-esei Bentara Kompas, hal 337-349, 2002] menulis, bentuk hubungan paling menakjubkan antara sains dan sastra, terbentang pada karya-karya Jorge Luis Borges. Penulis Argentina ini mendapat perhatian dari komunitas ilmiah bukan karena ia bermain-main dengan sains, tetapi karena ia suntuk menggeluti sastra. Sambil terus-menerus berupaya menemukan (dan menciptakan) kembali sastra bagi dirinya, Borges bercerita tentang haptakptakptakptakptakptakptakptakikirkan dan diimpikan manusia. Di hampir seluruh karyanya, Borges terasa betul seperti ilmuwan sejati manghadapi diri dan dunia. Skeptisisme menjadi salah satu penuntun kerjanya. Dalam seri ceramah di Harvard yang dibukukan dengan tajuk This Craft of Verse, Borges mengaku bahwa selain kebingungannya, ia hanya menawarkan keraguan. Ia terus-menerus meragukan pencapaian mediumnya, sebagaimana ia meragukan alam semesta dan dirinya sendiri. Keraguan Borges yang kekal adalah keraguan yang terkendali, yang tak terlalu boros hingga melumpuhkan imajinasi.

Ada banyak hal yang ditawarkan oleh karya sastrawan buta yang punya wawasan luas dan tajam ini. Pusat studi Borges di Universitas Aarhus, Denmark, mencatat sejumlah mutiara yang tersimpan dalam naskah-naskah Borges. Selain ontologi-ontologi bahasa utopia, sejarah semesta yang beraneka ragam, deskripsi binatang-binatang khayal yang logis, etika naratif, matematika imajiner, thriller teologis, bentuk-bentuk geometris noltagis, dan ingatan-ingatan yang diciptakan. Diatas semua itu adalah filsafat yang diterima sebagai kebingungan, pemikiran sebagai konjektur, dan puisi sebagai bentuk terdalam rasionalitas.

Karya-karya Borges menunjukan bahwa sastra yang bermutu, seperti juga karya-karya besar cabang seni lain, bukan hanya dapat melampaui penciptanya. Karya-karya besar itu juga bisa mendahului jangkauan dahsyat pengetahuan ilmiah.

Sebenarnya yang ingin saya tuliskan sebelum meresensi inti cerita dalam novel Laskar Pelangi adalah, persis ungkapan Andrea Hirata diatas dan jalan yang dipilih oleh Jorge Luis Borges. Intinya siapapun dia, dari mana asalnya menulislah, ilmuwan disini juga bermakna luas dan dalam sekali hakikatnya, karena saya sendiri yakin, manusia yang belum mengecap bangku pendidikan formal bukan berarti dia bukan ilmuwan yang menemukan sesuatu. Contoh kongkritnya adalah Bob Sadino, Mahar dan Lintang, ataupun mereka-mereka yang belum terekspose media masa. Subyektif memang, namun pendidikan formal dan non formal bukan momok besar apakah seseorang pantas disebut ilmuwan atau tidak. Terpenting adalah apakah dia mampu menuliskan atas apa yang telah ditemukannya itu menjadi bait-bait indah yang dibungkus sains dalam bentuk sastra hinga bisa di apresiasi generasi seangkatan atau sesudahnya untuk menunjukkan bahwa dia ada. Terserah orang menyebutnya ilmuwan atau pecundang

Pada sebuah kesempatan di Kampus Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya, Sabtu (2/3). Andrea Hirata sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, mengemukakan, sebetulnya menulis karya sastra yang laris itu kuncinya adalah: isinya kontekstual, bukan tekstual. Karena itu, orang yang menekuni ilmu di luar sastra memiliki peluang banyak untuk menghasilkan karya yang bisa dibaca banyak orang.

"Karena itu, seorang sastrawan itu haruslah seorang ilmuwan. Untuk menghasilkan karya yang bagus itu kita juga harus melakukan riset dan riset. Rhoma Irama saja membuat lagu memakai riset kok," kata lulusan S2 sebuah universitas di Sorbone, Perancis, itu seraya mendendangkan lagu Rhoma Irama yang menceritakan jumlah penduduk Indonesia itu.

Selanjutnya Andrea mengemukakan, kisah dan hal-hal yang ada di dalam novel Laskar Pelangi tidak hanya hal-hal yang ia pikirkan, melainkan juga banyak hal yang ia rasakan. Hal itu, menurut dia, merupakan bentuk komunikasi penulisnya dengan pembaca.

Membingkai isi novel super bestseller tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, hemat kami bukan suatu perkara yang mudah. Butuh berjam-jam bahkan berhari-hari atau lebih untuk mengukirnya menjadi sebuah pesan yang begitu berharga dalam akal-hati-jiwa kita. Karena saat kita mulai membuka gerbang lembar demi lembar halaman mozaik Laskar Pelangi, seolah-olah kita baru saja menginjakkan kaki di dunia lain yang penuh dengan metafora kehidupan yang dibungkus ilmu pengetahuan.

Sangat setuju sekali saya dengan komentar Ahmad Tohari dan tokoh-tokoh Indonesia yang menjuluki Andrea Hirata: Seniman kata-kata yang mampu menyihir jiwa pembacanya. Sebab setiap jengkal kata-kata yang dipakai Andrea adalah ilmu pengetahuan yang disenergikan dan divisualisasikan dengan diksi sastra yang luar biasa.

Membaca Laskar Pelangi seperti belajar kembali tentang Filsafat, Fisika, Geometri, matematika, tafsir, fisika, biologi, bahasa, sastra, humaniora, psikologi, sosiologi, sejarah, kesenian, aqidah akhlaq, ekonomi, antropologi, botani, kimia, pendidikan, petuah bijak, hasil observasi, kontemplasi pribadi dan sebagainya secara bersamaan, dalam satu buku yang diungkapkan dengan begitu sederhana, tidak menggurui dan mengalir, karena kita akan belajar serta berpetualang dengan hal-hal baru yang selama ini kita lewatkan, subyektif memang pendapat ini. Tapi itu bisa Anda buktikan lewat catatan ringkas tak sistematis ini dalam bentuk argumen, pertanyaan, pernyataan, celoteh, teori sederhana. Dan tentunya dengan pemaknaan versi Anda sendiri setelah membaca novelnya. Seperti; “…And to every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction…/Isaac Newton/1643-1727”. “Pelajaran moral pertama, jika tak rajin sholat maka pandai-pandailah berenang [kisah kaum Nabi NUH As], nomor dua; jangan tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal dikebun [A Kiong-M. Jundullah Gufron Nur Zaman]”, Pelajaran moral no.4 adalah ternyata nasib yang sangat misterius itu adalah seorang pemandu bakat. Pelajaran moral no.5; jangan bersahabat dengan orang gila perdukunan [Mahar]”. “Dilarang masuk bagi yang tidak memiliki hak”. “Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat, tapi jangan khawatir banyak orang yang akan mendoakan. Tidakkah ananda sering mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucap doa: ‘Ya Alloh lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita mendengar doa: Ya Alloh lindungilah anak buah kami..”.


Tokoh-tokoh Utama Laskar Pelangi: Lintang, Mahar, Borek/Samsons, Sahara, Trapani, Keriting/Ikal, A kiong, Harun, Kucai, Syahdan, Florina tomboi, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, dan Ibu Muslimah Hafsari.

Ledakan kisah ini bermula saat Ikal diantarkan ayahnya ke SD Muhammadiyah di Belitong. Demi mendapatkan sesuap ilmu yang mahal untuk anak-anak kuli tambang, Ikal disekolahkan disana. Berbekal revolusi semangat dan mimpi-mimpi mahal yang harus dibangun dan dibuktikan di masa depan.

Pertemuan anggota laskar pelangi yang menjadi lakon novel realita plus bumbu imajinatif ini yang membuat suguhan dahsyat dalam kenyataan sebenarnya dan khayalan pembaca novel yang seakan hanyut, larut, seolah-olah menjadi bagian dari salah satu anggota laskar pelangi dengan beragam karakter uniknya. Sekaligus pembaca bisa bercermin atas fakta yang ditulis dalam talian huruf demi huruf yang ditorehkan Andrea Hirata.

Layaknya tokoh ‘Mahar’ sang jenius otak kanan yang selalu membuat debutan-debutan baru seni dan metafisika diluar pembelajaran ibu Muslimah ataupun ajaran pak Harfan. Seperti saat Mahar menemukan tarian suku Afrika beserta tetabuhannya ketika kondisi keuangan SD Muhammadiyah yang tak mampu memanjakan para siswanya dengan fasilitas memadai guna menaikkan wibawa serta prestise mereka ditengah-tengah kepungan SD-SD mapan lainnya di belitung. Atau saat Mahar melakukan ekspedisi nekat bersama Flo ke pulau Lanun untuk menemui dukun sakti agar dapat lulus ujian.

Ada satu tokoh keren lagi menurut saya selain Lintang, yakni Bodenga si pawang buaya. Dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, ia memberikan pada kita potret bahwa masih ribuan Bodenga-bodenga yang lain tersebar dari Sabang-Merauke yang mencintai alam dan seisinya tanpa pamrih. Tanpa melihat apakah Bodenga menyembah buaya, Islam, Katolik atau seterusnya. Ketulusan jiwanya tanpa batas untuk melindungi makhluk Tuhan yang bias kita renungkan dan tiru selamanya, karena Bodenga punya taste atau soul disbanding kita yang menganggap dirinya beradab, anti kemapanan, anti global warming dsb.

Yang bisa saya rangkai dari kisah novel ini berpijak pada tokoh-tokoh utama Laskar Pelangi. Dimulai dari ibu Muslimah yang menjadi inspirator seluruh anggota Laskar Pelangi, khususnya Ikal si Andrea Hirata. Bu Muslimah yang begitu pantang menyerah untuk memberikan the best of the best seluruh kemampng mng mng mng mng mng mng mng mihi dirinya menembus zaman dan impiannya masing-masing. Seperti saat beliau menunggu Harun si anggota Laskar Pelangi terakhir, kunci masa depan SD Muhammadiyah.

Kemudian Pak Harfan yang berwibawa, pemimpin sekaligus bapak sejati dan panutan seluruh elemenSD Muhammadiyah dari masa ke masa. Ketiga adalah Lintang, murid yang luar biasa, entah stoknya masih ada apa tidak atau menunggu ratusan tahun lagi untuk memunculkan siklus generasi ajaib kemudian diseluruh SD/ MI Indonesia. Ikal alias Andrea Hirata, sang penerus dan pengemban amanat panjang laskar pelangi, SD Muhammadiyah dan Belitung Island tentunya. Borek atau Samsons Belitong, Sahara bidadari hiperaktif yang baik hati sebenarnya, Trapani si ganteng anak mama, A kiong cinta dan format masa depan Sahara, Harun anak kecil yang terjebak pada tubuh orang dewasa sekaligus the savior of lascar pelangi, Kucai sang politikus idealis, Syahdan pemalas yang setia kawan, Florina tomboy yang realistis dan anti kemapanan.

Kelemahan novel ini adalah klise dan subyektif memang, menurut saya latarbelakang budaya Andrea Hirata yang asli Belitong, kental dengan bahasa melayu yang membuat novel ini mendayu-dayu dan terkesah berlebihan. Tapi itupun telah tertambal dengan diksi kata demi kata yang dipilih sehingga pembaca tak merasa bosan untuk menuntaskan membacanya.

Menarik novel ini ke dimensi psikologi yang bisa saya potret adalah, upaya Andrea Hirata untuk memacu semangat pembacanya untuk menggapai cita-cita masing-masing secara optimal melalui syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Sang Maha Alim, khususnya lewat dunia pendidikan [membaca & menulis yang bermanfaat]. Sebagaimana kita ketahui novel ini terlahir sebagai bentuk persembahan dan ungkapan terimakasih tak terhingga seorang murid pada gurunya, Ibu Muslimah, Bapak Harfan dan para anggota Laskar Pelangi yang begitu melekat dan menjadi inspirator nyata perjuangan meraih mimpi-mimpi Ikal dari tanah Belitong ke Sorbone Prancis, terutama untuk sahabat jeniusnya, Lintang. Hirata mampu me-recall memori-memori masa kecilnya hingga dewasa, dari sudut pandang anak-anak menjadi novel bertenaga/beryoni/berdaya magis seperti Laskar Pelangi sampai Maryamah Karpov yang ditunggu. Dari sebuah realita yang dilukis dengan cantik menjadi mahakarya imaji yang membuat orang lain menangis, tertawa, bersyukur, terenyuh sekaligus iri dengan kisahnya secara bersamaan. Dengan bahasa yang penuh warna sastra-saintifik menurut Hernowo. Terakhir, jangan lupa meskipun secara fisik dan mental kita telah dewasa, tapi kadangkala kita seolah-olah lupa bahwa kita juga pernah menjadi dan melewati masa menjadi manusia-manusia kecil dengan langkah-langkah ringan yang bahagia disetiap detiknya, sehingga seringkali kita memaksa adik, sahabat, anak atau pun orang lain menjadi seperti kita yang sok dewasa.

13/14 April 08 Rumah Teduh Tinta Langit

DIBUANG SAYANG:

“…And to every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction…/Isaac Newton/1643-1727”.

“Pelajaran moral pertama, jika tak rajin sholat maka pandai-pandailah berenang [kisah kaum Nabi NUH As], nomor dua; jangan tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal dikebun [A Kiong-M. Jundullah Gufron Nur Zaman]”, Pelajaran moral no.4 adalah ternyata nasib yang sangat misterius itu adalah seorang pemandu bakat. Pelajaran moral no.5; jangan bersahabat dengan orang gila perdukunan [Mahar]”.

“Dilarang masuk bagi yang tidak memiliki hak”.

“Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat, tapi jangan khawatir banyak orang yang akan mendoakan. Tidakkah ananda sering mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucap doa: ‘Ya Alloh lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita mendengar doa: Ya Alloh lindungilah anak buah kami..”.

Ini tentang keteguhan, pendirian, ketekunan, dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita; “bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama”.

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”.

“Ibu adalah pusat gravitasi”[Trapani-kota pantai di Sisilia].

PENGECUALIAN DARI SISTEM [HARUN] GA PUNYA RAPOT karena keterbelakangan mental, dan selalu bertanya, “KAPAN KITA LIBURAN LEBARAN ibunda guru?”.

“GILA ITU ADA 44 MACAM, ”kata ibuku seperti seorang psikiater ahli sambil mengunyah gambir dan sirih. “Semakin kecil nomornya semakin parah gilanya, beliau menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatapku seperti sedang menghadapi seorang pasien rumah sakit jiwa. Maka orang-orang yang sudah tidak berpakaian dan lupa diri di jalan-jalan, itulah gila no.1, dan gila yang kau buat dengan bola tenis itu sudah bisa masuk no.5. Cukup serius! Hati-hati, kalau tak pakai akal sehat dalam setiap kelakuanmu maka angka itu bisa segera mengecil.”

Fisika tidak mempertimbangkan “psywar” ketika bertemu denganBUAYA ganas.

Beliau terkagum-kagum, bagaimana bisa baca tulis mengubah masa depan seseorang?.[ibu Lintang yang buta huruf].

“Kebodohan berbentuk seperti asap, uap air, kabut, dan ia beracun. Ia berasal dari tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari tempat dimana saja planet biru ini dengan menggunakan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekalipun berhenti”.

“Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan-bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi samudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan meteor sampai tiba di eksosfer-lapisanpaling luar atmosfer dengan bentangan selebar 1.200 km, dan teruslah melaju menaklukan langit ketujuh. Diatas langit ketujuh, disitulah kebodohan bersemayam. Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cangklong, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka jika kita tanyakan sesuatu pada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragam alasan, atau membelokkan arah pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya terngaga, ia diselubungi kabut dengan tatapan mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka. Langit ketujuh adalah metafora dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan Dzat-dzat Alloh. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri, dimana Arasy-disitulah tergelar Lauhul mahfuzh”.

“Kelemahan lintang sang jenius otak kiri, aku tak yakin apakah hal itu bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, tentu karena mekanisme motorik jemarinya tak mampu mengejar pikirannya yang berlari sederas kijang”.

“Tafsir surah Ar-Rum tentang Adnal ardli: tempat yang dekat atau negeri yang terdekat dalam arti harfiah, dan tempat yang paling rendah itu di bumi adalah Byzantium atau Konstantinopel, Roma Timur”.

“Ternyata jika hati kita tulus berada didekat orang berilmu, kita akan disinari pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran pun sesungguhnya demikian mudah menjalar”.

“Orang cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar yang tak dikenal di lokus-lokus antah berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh didalamnya, sendirian”.

“Godaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala-kepala orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada dosen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam”.

“Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pengertian. Ditambah sedikit saja dengan sikap inrovet, maka orang-orang cerdas semacam ini jarang berakhir disebuah kamar dengan perabot teduh dan musik klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari mereka amat menderita”.

“Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tentram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa disitu, kosong. Jika ada suara memasuki telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembali melalui mulut mereka”.

“Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus”.

“Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras-keras takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira”.

“Aku pernah mengenal berbagai orang cerdas. Ada orang jenius yang jika menerangkan sesuatu lebih bodoh dari orang yang paling bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal fotografis, namun tanpa kemampuan analisis. Ada orang yang cerdas tapi berpura-pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura-pura cerdas”. [Laskar Pelangi: 113-Langit ketujuh]

Keriting [A Hirata] bingung dengan 16 tenses Bahasa Inggris kemudian dia curhat pada Lintang, masalahnya adalah ketika Keriting atau Ikal sudah berada dalam sebuah narasi, dia kehilangan jejak dalam konteks tenses apa ia berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, Keriting bingung. Jawab Lintang: “Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal, tidak lebih dari hanya akan merepotkan diri sendiri. Sadarkah kau bahasa apapun di dunia ini, di mana pun, mulai dari bahasa Najavo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa Gaelic yang amat langka, bahasa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulan kata-kata”. “Nah, kata apa pun, pada dasarnya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Ini bukan masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berfikir. Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat Inggris. Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa”. Itulah paradigma belajar bahasa Inggris versi lintang.

Argumenatsi lintang tentang teoeri Darwin: “Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang darwinian, atau sekedar oportunis? Pilihan sesungguhnya hanya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih adalah opurtunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai situasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu seharusnya menentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika Anda seorang Darwinian, silahkan berperilaku seolah tak ada tuntutan akhirat, karena bagi Anda kitab suci yang memaktub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda tak kunjung mempersiapkan diri untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati, maka dalam hal ini Anda tak lebih dari seorang sekuler oprtunis yang akan dibakar di dasar neraka”.

Bakat laksana Area 51 di Gurun Nevada, tempat dimana mayat-mayat alien disembunyikan: misterius! Jika setiap orang tahu dengan pasti apa bakatnya maka itu adalah “utopia”. Sayangnya utopia tak ada dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi, dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan.

Banyak orang yang berusaha mati-matian menemukan bakatnya dan banyak pula yang menunggu seumur hidup agar bakat atau dirinya ditemukan, tapi lebih banyak lagi yang merasa dirinya berbakat padahal tidak. Bakat menghinggapi orang tanpa diundang. Bakat main bola seperti Van Basten mungkin diam-diam dimiliki seorang tukang taksir di kantor pegadaian di Tanjong Pandan. Seorang Karl Marx yang lain bisa saja sekarang sedang duduk menjaga wartel di sebuah kampus di Bandung. Seorang kondektur ternyata adalah John Denver, seorang salesman ternyata berpotensi menjadi penembak jitu, atau salah seoarng tukang nasi bebek di Surabaya ternyata berbakat menjadi komposer besar seperti Zubin Mehta. Bakat layaknya mutiara yang tertelan kerang, tak pernah seorang pun melihat kilaunya, karena bakat seringkali harus ditemukan.

Kecerdasan spasial; cepat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-gerakan dalam variabel derajat seperti geometri multidimensional, dekomposisi modern menggunakan teknik poligon geometri Euclidsian. Kecerdasan experiental; piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas dengan kapasitas metadiscourse layaknya para jenius. Kecerdasan linguistik; mudah memahami bahasa, efektif berkomunikasi, punya nalar verbal, dan logika kualitatif. Kemampuan descrtiptive power; skill menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Kecerdasan seni; berlimpahnya amunisi kreativitas, kapasiatas estetika yang tersimpan dalam lokus-lokus di kepalanya, imajinatif, aneh, lucu, ganjil, menggoda keyakinan. memberontak, segar, unik, menerobos dengan ide abstraknya.

Pada sebuah kesempatan, Andrea mengemukakan; “Sebetulnya menulis karya sastra yang laris itu kuncinya adalah: isinya kontekstual, bukan tekstual. Karena itu, orang yang menekuni ilmu di luar sastra memiliki peluang banyak untuk menghasilkan karya yang bisa dibaca banyak orang”.


CORET MORET 1


Menurut Karen Amstrong, Ali Syariati, secara menarik, mengaitkan Tuhan dengan Ka’bah. “Mengapa Ka’bah hanya berupa kubus sederhana, tanpa dekorasi dan ornament? Karena, kata Syari’ati, Ka’bah mewakili rahasia Tuhan di alam semesta: Tuhan tak berbentuk, tak berwarna, tanpa keserupaan, sehingga bentuk atau kondisi apapun yang dipilih, dilihat atau dibayangkan manusia, itu bukanlah Tuhan”.

Martin Buber [1878-1965] menyatakan bahwa hidup adalah dialog tanpa akhir dengan Tuhan, yang tidak membinasakan kebebasan atau kreativitas kita. Ini karena Tuhan tidak pernah menyatakan kepada kita tentang apa yang dituntut-NYa atas diri kita.

Ernst Bloch [1885-1977] menyatakan bahwa Tuhan sangat dibutuhkan bagi kondisi yang melingkungi manusia. Dia memandang Tuhan sebagai cita-cita manusia yang belum terwujud. Dalam bahasa P. Hernowo, karena kita harus hidup di masa depan, kita pun memerlukan Tuhan.

Max Horkheimer [1895-1973], apakah Tuhan ada atau tidak, atau seseorang “beriman kepada-Nya” atau tidak bukan merupakan persoalan. Tanpa ide tentang Tuhan takkan ada makna, kebenaran, atau moralitas mutlak: etika hanya menjadi soal selera, rasa, atau perilaku.

E.F Schumacher sang ekonom pro rakyat kecil, bilang bahwa “apabila ‘ruang spiritual’ yang ada pada diri kita tidak diisi dengan dorongan yang lebih tinggi, pastilah ruang itu akan penuh dihuni oleh sesuatu yang lebih rendah-sikap hidup yang kerdil, keji, dan kikir, yang ditutup-tutupi oleh kalkulus ekonomi”, aku sadar betapa butuhnya aku akan Tuhan.

“Take doubts and mockery as a leverage to strengthen our will and fight with our best ability. Prove to people that all dreams can come true”.

Hati adalah gudang kekayaan dimana misteri 4jj1 tersimpan, carilah manfaat kedua dunia melalui hati, karena memang disitulah intinya [Lahiji].

Bu Ira 031-8202219 [jawapos]. Gus Mus 081565200097, pak Zainul Arifin 0341-7327809, Mas Romi 08990358919, PP Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahman-Sananrejo-Turen [0341-828106], Kyai Bahru Mafdloluddin. Tyas Jufoc [081334713403].

Sang Pemimpi, I shall return to sky take cassanova Muhammad in The Heaven, Shollu Alannabi Ya Habiba4jj1.

Ijtanibussab’a almuubiqooti; as-syirkabillah, wasichra, wapotlannafsillatii charomallahu illa bilhaq, wa aqlariba, waaqlamaallilyatim, wattuwalli yaumazzachfi, waqodzfalmuhsonaatil ghoofilatil mu’minaati.

Menurut neorolog dan antropolog biloogi Harvard, Terrance Deacon, jika kita mampu menggunakan SQ , maka kita akan menumbuhkan otak manusiawi kita. SQ telah “menyalakan” diri kita untuk menjadi manusia seperti adanya sekarang dan memberi kita potensi untuk “menyala lagi”-untuk tumbuh dan berubah, serta menjalani lebih lanjut evolusi potensi manusiawi kita.

“Otak adalah alam semesta seberat hampir setengah kilo,” kata Marian C. Diamond, ahli neuroanatomi di Department of Integrative Biology, Universitas California.

“Otak Anda bagaikan raksasa tidur,” kata Tony Buzan.

“Manusia memiliki 3 macam otak yang disebut ‘triune brain’, yaitu neokorteks, otak tengah/sistem limbik, dan otak primitif”, kata Paul Maclean.

Salah satu produk hebat otak manusia adalah bahasa. Hanya makhluk bernama manusia yang dapat menunjukkan rasa bahagianya lewat bahasa. Dan manusia, sepertinya, hanya mampu mendapatkan Tuhannya melalui bahasa.


IQRA 1


Mengapa Harus Membaca?

Seorang tokoh Yahudi mengatakan; Kami tak akan pernah takut kepada umat Islam, karena mereka bukan umat yang membaca. Sepenggal cuplikan dari isi buku Spritual Reading[Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca] karya monumental Dr. Raghib As-irjani-Amir Al-Madari, BUKANLAH SESUATU YANG DIBUAT-BUAT ATAU MAIN-MAIN, dulu-sekarang-nanti, penguasaanteknologi-informasi”pengetahuan”, mutlak dibutuhkan atau selamanya kita akan terus dijajah lewat ideologi, pemikiran, budaya asing yang menyesatkan. Pertanyaannya adalah mampukah kita menaklukkan diri kita untuk segera berdiri tegak diatas kaki sendiri, mulai dari membaca diri sendiri dan realita dunia seisinya sampai bisa membaca dalam arti yang sebenar2nya. Tips mudah membaca; merasa senang-nikmat dengan membaca”kunci”, temukan intisarinya belajar dari pengalaman pribadi-oranglain kemudian tulislah, mamfaatkan daftar isi, rujukan ide pengarang sekaligus mengetahuiseluk-beluk buku tersebut. 10 cara menumbuhkan minat baca; apa 7an anda membaca, menyusun perencanaan dalam membaca, mengatur waktu, step by step, totalitas membaca, teratur mengikat makna’menulis, buatlah perpustakaan dirumah, sampaikan apa yang anda baca, bantu orang lain membaca, ambillah ilmu dari ulama’pakarnya.. ”Bacalah dengan menyebut nama Rabb―mu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darh. Bacalah dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[Al-Alaq1-5). Artinya bukan fanatisme agama, ras, suku, bangsa, golongan yang ingin kita capai namun seyogyanya jika kita ingin membangun puing-puing moral bngsa Indonesia kembali berarti pertama yang harus dirombak adalah diri kita masing-masing, melalui bacaan-pembacaan yang tepat sebagai pengetahuan sekaligus tameng utama..060507 by Junaidi Abdillah