Berbicara barometer sepakbola Indonesia, kita harus berhenti sejenak pada propinsi Jawa Timur sebelum menoleh ke Papua, Makasar, Palembang, Jakarta, Bandung maupun Semarang. Pun juga ngomong aliran musik cadas “rock” dan ragam aliran musik lainnya layaknya Boomerang, DEWA 19, Padi, dan setelahnya bisa kita jumpai di propinsi ini tanpa bermaksud narsis atau menomorduakan kota-kota lainnya.
Khusus di ranah sepakbola, dari Kediri ada Macan Putih Persik dengan Persikmanianya dan Persedikab, ke timur sedikit ada Arema Singo Edan Malang (Aremania) dan saudaranya Persema si Bledek Biru (Ngalamania), lalu Pasuruan dengan Persekabpas dan Sakeramanianya, ke utara ada Deltras-The Lobster dan Deltamania kemudian Bajul Ijo Persebaya Surabaya plus Bonekmania, di pantura ada titisan Petrokimia Gresik dan Persegres yang menjadi Gresik United si Laskar Jaka Samudra serta Laskar Jaka tingkir Persela Lamongan ditambah Persibo Bojonegoro, berturut-turut kemudian Mojokerto Putra, PSBI Blitar, Persid Jember dan lain sebagainya. Faktanya ditingkat nasional saja, Jawa Timur mampu mempertahankan medali emas PON tiga kali berturut-turut khususnya. Belum lagi raihan juara dari klub-klub asli Jatim sejak zaman perserikatan dan galatama hingga liga profesional Indonesia.
Terlepas dari menurunnya prestasi klub Jatim di ISL tahun ini meski tidak merembet ke divisi utama dan satu, panasnya derbi Jatim sendiri, gesekan suporter, keributan antar pemain dan hal positif-negatif serta pro-kontra yang menyertainya. Sepakbola layaknya musik adalah media hiburan yang mampu melewati benteng SARA.
Taruhlah Pato Moralesnya Arema, Ronald Fagundes Persik, Andik Vermansyahnya Persebaya, dan ikon-ikon klub lainnya. Mereka selalu dielu-elukan pendukungnya diseluruh penjuru Indonesia tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras dan golongannya. Contoh besarnya adalah Maradona, Pele, Roberto Baggio, Ronaldo, Figo, Zinedine Zidane, Kaka, Cristian Ronaldo, Frank Ribery, Lionel Messi, dan seterusnya. Mereka adalah figur-figur besar idola penggila bola di bawah kolong jagad raya, tanpa ada diskriminasi dan lontaran SARA yang menghadangnya. Andaikata ada, individu alias setiap pemain sepakbola telah dilindungi oleh undang-undang FIFA yang mengikat dan memiliki kekuatan hukum internasional.
Sepakbola dan musik ibaratnya adalah virus jinak yang menghibur dan mengundang decak kagum universal. Jika dipegang oleh tangan-tangan tangguh, profesional, inovatif, intertainer, dan bertanggung jawab, apalagi disuplai dana melimpah. Sebaliknya akan menjadi monster ganas yang akan membakar hati pemain, pelatih, manajer, suporter, stadion, wasit dan lembaga yang menaunginya disatu sisi sebab tidak fair play.
Setidaknya kita harus jujur sepakbola dan musik adalah obat gratis dan simbiosis mutualisme di dalam dan luar stadion bagi suporter khususnya untuk membangkitkan nasionalisme tim nasional hingga klub kebanggaan. Keduanya bisa kita lihat dan mainkan secara reguler lewat kerjasama tim maupun perorangan dimanapun dan kapanpun kita berada tanpa menafikan toleransi-tenggang rasa yang kuat satu sama lain. Sebelum kita temukan lagi obat-obat universal lainnya yang mampu melompati tak hanya ruang dan waktu tapi juga SARA ditengah-tengah himpitan permasalahan yang menghadang. Selamat berolah raga dan bermusik.








