www.wikipedia.com

Sunday, June 21, 2009

Sudut Pandang 02

Euforia Sepakbola dan Musik
Tak bisa kita pungkiri lagi sepakbola dan musik telah menjadi pandemi global sejak puluhan tahun silam, malah sekarang telah menjelma menjadi sebuah industri yang prestesius, menghibur dan menghasilkan keuntungan luar biasa bagi pengelolanya entah itu negara, klub, maupun individu yang tentunya menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Demi melihat Manchester United yang akan bertanding dengan Timnas Indonesia Juli nanti, puluhan ribu suporter rela merogoh sakunya dalam-dalam demi memuaskan euforia dirinya. Belum lagi jika suatu saat Linkin Park, Muse ataupun Metallica manggung di Indonesia, atau bahkan Slank, Peterpan, Dewi Persik, Soneta tampil misalnya bisa dipastikan tumpah ruahlah jamaah musik tumplek blek dimanapun jagoannya unjukgigi.
Kita semua sepakat Brazil dan Italia sebagai kiblat sepakbola tradisonal-modern dunia dewasa ini, selain Jerman, Argentina, Prancis, Uruguay, dan Inggris. Didalam sepakbola dan musik terdapat cita rasa khas istimewa seperti budaya, aliran, kolaborasi etnik, bahkan lintas suku, agama, ras, dan golongan. Kalau di musik ada aliran dangdut, pop, rock, jazz, heavy-metal, punk, underground, melayu, etnik, country, alternatif dan sebagainya, sepakbola juga tidak hanya monoton menganut satu macam madhzab saja ada sepakbola indah Samba Brazil, Total Football-Belanda, Tango Argentina, grendel-cattenacio Italia, determinasi tinggi Panser Jerman, kelincahan-keluwesan Spanyol, pantang menyerah Korea-Jepang, tusukan-tusukan Afrika sampai kecepatan ala Negara ASEAN. 
Berbicara barometer sepakbola Indonesia, kita harus berhenti sejenak pada propinsi Jawa Timur sebelum menoleh ke Papua, Makasar, Palembang, Jakarta, Bandung maupun Semarang. Pun juga ngomong aliran musik cadas “rock” dan ragam aliran musik lainnya layaknya Boomerang, DEWA 19, Padi, dan setelahnya bisa kita jumpai di propinsi ini tanpa bermaksud narsis atau menomorduakan kota-kota lainnya.
Khusus di ranah sepakbola, dari Kediri ada Macan Putih Persik dengan Persikmanianya dan Persedikab, ke timur sedikit ada Arema Singo Edan Malang (Aremania) dan saudaranya Persema si Bledek Biru (Ngalamania), lalu Pasuruan dengan Persekabpas dan Sakeramanianya, ke utara ada Deltras-The Lobster dan Deltamania kemudian Bajul Ijo Persebaya Surabaya plus Bonekmania, di pantura ada titisan Petrokimia Gresik dan Persegres yang menjadi Gresik United si Laskar Jaka Samudra serta Laskar Jaka tingkir Persela Lamongan ditambah Persibo Bojonegoro, berturut-turut kemudian Mojokerto Putra, PSBI Blitar, Persid Jember dan lain sebagainya. Faktanya ditingkat nasional saja, Jawa Timur mampu mempertahankan medali emas PON tiga kali berturut-turut khususnya. Belum lagi raihan juara dari klub-klub asli Jatim sejak zaman perserikatan dan galatama hingga liga profesional Indonesia. 
Terlepas dari menurunnya prestasi klub Jatim di ISL tahun ini meski tidak merembet ke divisi utama dan satu, panasnya derbi Jatim sendiri, gesekan suporter, keributan antar pemain dan hal positif-negatif serta pro-kontra yang menyertainya. Sepakbola layaknya musik adalah media hiburan yang mampu melewati benteng SARA. 
Taruhlah Pato Moralesnya Arema, Ronald Fagundes Persik, Andik Vermansyahnya Persebaya, dan ikon-ikon klub lainnya. Mereka selalu dielu-elukan pendukungnya diseluruh penjuru Indonesia tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras dan golongannya. Contoh besarnya adalah Maradona, Pele, Roberto Baggio, Ronaldo, Figo, Zinedine Zidane, Kaka, Cristian Ronaldo, Frank Ribery, Lionel Messi, dan seterusnya. Mereka adalah figur-figur besar idola penggila bola di bawah kolong jagad raya, tanpa ada diskriminasi dan lontaran SARA yang menghadangnya. Andaikata ada, individu alias setiap pemain sepakbola telah dilindungi oleh undang-undang FIFA yang mengikat dan memiliki kekuatan hukum internasional.
Sepakbola dan musik ibaratnya adalah virus jinak yang menghibur dan mengundang decak kagum universal. Jika dipegang oleh tangan-tangan tangguh, profesional, inovatif, intertainer, dan bertanggung jawab, apalagi disuplai dana melimpah. Sebaliknya akan menjadi monster ganas yang akan membakar hati pemain, pelatih, manajer, suporter, stadion, wasit dan lembaga yang menaunginya disatu sisi sebab tidak fair play.
Bersamaan itu pula musik lewat panggung dan corong media massa akan menjadi sarana dahsyat yang menghipnotis dunia dari satu rumah ke rumah lainnya hingga antar benua karena pesan dan kualitas musiknya, namun bisa segera metamorfosis menjadi arena gladiator masal yang berujung kematian karena beda aliran musik, goyangan artis, mabuk alkohol-narkoba yang konon jadi sumber inspirasi bagi para pencipta dan fans setianya sebab saling senggol antar individu atau kelompok saat artis pujaannya beraksi dipentas, ironis memang.  
Setidaknya kita harus jujur sepakbola dan musik adalah obat gratis dan simbiosis mutualisme di dalam dan luar stadion bagi suporter khususnya untuk membangkitkan nasionalisme tim nasional hingga klub kebanggaan. Keduanya bisa kita lihat dan mainkan secara reguler lewat kerjasama tim maupun perorangan dimanapun dan kapanpun kita berada tanpa menafikan toleransi-tenggang rasa yang kuat satu sama lain. Sebelum kita temukan lagi obat-obat universal lainnya yang mampu melompati tak hanya ruang dan waktu tapi juga SARA ditengah-tengah himpitan permasalahan yang menghadang. Selamat berolah raga dan bermusik.  
Junaidi Abdillah


Sunday, May 10, 2009

Toriqot Sastra





Halimi Zuhdy


Kemaren saya menulis di Toriqot Sastra sebuah group yang ada di Facebook yang di dalamnya ada kata-kata “anti mati karya” yang terinspirasi dari salah satu iklan televisi “anti mati gaya” yang banyak ditanggapi oleh pembaca, yang akhirnya saya tergelitik untuk menulis karangan dengan judul tersebut.


Anti mati karya itulah yang membuat saya selalu tergugah untuk melejitkan mimpi-mimpi menulis dengan tulisan mahakarya, kalau saya baca sejarah betapa para intelektual zaman dahulu sebutlah madzahib al-arba’ah sangat kreatif, inovatif bahkan ratusan buku tertoreh dari tangan-tangan mereka, yang satu kitab saja berjilid-jilid. Sungguh luar biasa, kalau kita bandingkan dengan zaman yang lebih modern sekarang ini, tidaklah ada bandingannya. Yang pada zaman dahulu minim kertas, yang ada hanya tulang, pelepah pohon, dan dedaunan, namun tangan-tangan kreatif mereka setiap detik dapat menyelesaikan ratusan kalimat.
Sungguh, zaman penuh dengan karya, tak ada hari tanpa menulis, sehingga dalam hitungan hari karangan-karangan mereka terbit dengan mencengangkan. Selain madzahib al-arba’ah ada banyak bukti yang mencatat bahwa kebangkitan, perlawanan, pencerahan, dan perubahan dipicu ole ide mengalir dari sebuah buku misalanya David Namah, inilah karya sastra yang merupakan masterpiece Muhammad Iqbal, tulisanya ini sungguh menggemparkan dunia, diantaranya kalangan oreintalis seperti Annimarie Scimmel. David Namah diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Italia pada tahun 1946, kemudian secara berturut-turun David Namah terbit dalam bahasa Jerman (Munich, 1957), Perancis (paris, 1962), Inggris (Lohare, 1961). Ia telah membakar emosi kesusastraan orang Barat bahkan dunia Timur.”Iqbal datang bak Messiah yang menghidupka orang mati,” tulis R.A. Nichalson.
Masnawi kitab ini juga dapat menghipnotis dunia, ia mampu menggebrak pikiran-pikiran penulis Barat seperti William C. Chinttick, Yohanes Renard, Franklin D. Lewis dengan leterasi oleh lebih dari seuluh pakar (Redhouse, Whinfield,Wilson, Nicholoson, Gupta, Arberry, Turken, Schimmel, Chittick), bahkan orang-orang Asia juga terracuni oleh pikiran-pikiran Rumi yang tertuang di Masnawi. JK Rowling, yang dengan Harry Potter-nya, mampu mengesktase para penikmatnya yang tersebar di 200 negara dan sudah di terjemahkan ke dalam 61 bahasa. Barbara Cartand, ia penulis prolific yang telah menghasilkan 723 judul buku, yang terjual lebih dari satu miliar kopi dalam 36 bahasa di seluruh dunia. Saking piawainya menulis, Barbara dapat dengan tenang menulis dengan mendektekan bukunya pada sekretarisnya, sementara ia hanya berbaring dengan santai I atas sofa. Ia biasa mendektekan 6.000 sampai 7.000 kata dalam per hari dan biasa menyelesaikan satu novel dalam tujuh hari. Dahsyat.
Kalau mereka mampu melejitkan ide dengan dahsyat, dan mampu merubah dunia dengan aliran deras tulisan mereka, menghipnotis dan menggugah rasa manusia dengan tarian-tarian kata mereka, bagaimana dengan saya. Mampukah?sebuah pertanyaan, yang mungkin selalu menggelitik untuk selalu merenung, berpimpi, dan berkreasi. Bahkan membayangkan, seandainya saya seperti mereka, atau bahkan lebih. Mungkin sekarang saya sudah bersama bintang-bintang yang selalu menyinari langit kata. Atau mereka memang dilahirkan untuk menjadi penulis, sehingga pada waktunya mereka terbang dengan mudah menuju cakrawala karya. Atau mereka sama dengan saya, yang pada awalnya hanya mampu menulis sepatah dua patah puisi, dan segelintir opini, bahkan buku yang tercopy ratusan pun masih dalam file mimpi. Kemudian beranjak dan mendaki ke gunung Himalaya kata. Tidak ada kata tidak mungkin, mungkin saja!
Tapi memang, mereka mampu menggebrak dunia bukan dengan kepalan tangan kosong, mereka menulis dengan penuh kerja keras sebutlah Eudora Welty, yang baru menulis setelah berusia 40 tahun,bekerja pada dini hari, dan biasanya ia terus menulis sehari penuh. Mary O’Hara, yang menulis ulang My friend Flicka sampai Sembilan kali, tiap hari bangun lebih dini dari hari sebelumnya demi menyelesaikan novelnya. Honore de Balzac punya rutinitas mencengangkan. Dua minggu sampai dua bulan ia mengasingkan diri untuk menulis sebuah buku. Selama waktu kurun ini ia tidur pukul delapan setelah sedikit makan malam, pukul dua pagi ia bangun dan menulis sampai pukul enam, menyeruput kopi (yang selalu panas karena pancinya selalu ia taruh di atas nyala tungku). Lalu ia mandi selama satu jam, dan minum kopi lagi sampai orang dari penerbitnya datang untuk mengantarkan ketikan naskah hari sebelumnya sekaligus mengambil tulisan yang sudah Balzac edit dan naskah tulisan tangannya untuk hari itu. Beda lagi dengan Edna Farber belum pulih benar dari animia ketika ia menulis cerpen dan novel pertamanya. Peraih hadiah Pulitzer tahun 1924 yang dijuluki The Greatest American Women Novelist of her Day ini menulis dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Ia menulis sampai kelelahan dan pingsan ketika bekerja di harian Milwaukee Journal.
Memang tidak mudah menjadi penulis apalagi penulis yang dapat diperhitungkan dunia, ya..mungkin harus bermimpi, menari-narikan pikiran agar ide keringat mampu tertuang dalam lontar, dan mengalir deras ke dalam seluruh rasa sang pembaca, sehingga mampu bergelombang dalam samudera karya. Dan tidak ada kata untuk menyerah, apalagi dengan seabrak alasan untuk tidak menulis. Menulis dengan hati, menulis dengan pikiran, menulis dengan tubuh, bahkan menulis dengan seluruh jagat adalah saksi dari ANTI MATI KARYA. Minimal, kita mampu menulis satu kata tapi mengguncang dunia, dari pada tidak sama sekali.

Gasek, 09 Mei 2009


MenCintai BUMI


Armageddon alias kiamat besar jagad raya akibat ulah manusia tak mungkin bisa dihindari lagi jika otak, sikap dan perilaku kita masih dipenuhi sampah-sampah busuh-busuk yang biasa kita buang sembarangan dalam arti konotasi (amarah, iri, dengki dst) maupun denotasi (puntung rokok, limbah rumah tangga, plasti, kertas dst). Kongkrit kecilnya adalah seperti yang dilakukan oleh teman-teman UKM Mapala Tursina UIN Maulana Malik Ibrahim yang berbekal semangat Hari Bumi (D’Green Day/22 April) mengajak dan menghimbau seluruh civitas akedemikanya untuk meluangkan waktu sejenak menanggalkan egonya agar satu hari ini tanpa asap rokok, satu hari ini tanpa knalpot, dan satu hari ini tanpa klakson sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, sesuai yang tertuang dalam nomor surat kegiatannya (Un.3/PP.01.1/678/2009) demi hari yang cerah dan hening.


Meski terkesan mendadak dan tanpa ada rambu-rambu yang tertulis jelas di area universitas, setidaknya kegiatan ini bukanlah awal sekaligus akhir guna meraih simpati maupun empati dari pihak siapapun dan manapun juga untuk terus menyuarakan dan membuat terobosan nyata untuk menyelamatkan bumi yang semakin renta ini. Menurut salah satu koordinator lapangan (saudara Isnan), ide acara ini datang begitu saja (mendadak), kemudian karena dianggap positif maka segera ditindaklanjuti dengan koordinasi dan langkah gerak cepat. Dan lusa hari sabtu dan ahad akan dilaksanakan bersih-bersih sungai, selokan kampus dan dilanjutkan hari selanjutnya dengan penghijauan-penanaman pohon.


Sedikit bernostalgia saja, jika anda pengguna setia jalan Bandung, Veteran, Bendungan Sutami, Gajayana, hingga MT. Haryono setiap hari tentunya sangat kangen dengan udara kota Malang yang dingin, sejuk dan segar 24 jam sehari semalam. Namun hari ini situasi dan kondisi itu seperti sebuah mimpi, sebab kurang lebih 17 jam (06.00-23.00) jalanan tersebut dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan dari sepeda pancal yang selalu dan pasti termarjinalkan, angkutan kota, sepeda motor, truk segala jenis, bus pariwisata, terkadang becak hingga pejalan kaki tumplek blek di jalan yang sempit (kurang lebih 8-10 meter lebarnya) ini. Faktor keselamatan khususnya menjadi perhatian serius untuk para pejalan kaki dan pengguna sepeda angin, selain tiadanya trotoar yang memadai kecuali di jalan Veteran dan Bandung, ditambah kurangnya kesadaran para pengguna jalan untuk tertib dan tidak saling memacu kendaraan dengan kondisi jalan lurus terkadang menikung, menanjak, sempit, macet, dan penuh serta dihiasi dengan lubang disana-sini, tanpa perbaikan berarti, khususnya jalan Gajayana. Belum lagi polusi udara dan suara mendominasi, menjadi momok utama antar pengguna jalan, baik yang iseng dengan klakson anginnya maupun mereka yang tak mau mengalah satu sama lain saling kejar-kejaran. Tentunya harapan Kota Malang Ijo Royo-royo tidak cukup diwujudkan layaknya Malang Tempoe Doeloe di jalan Ijen saja, harus ada kesinambungan seluruh elemen masyarakat dan kesadaran nyata yang tinggi untuk mengantisipasi pemanasan global dan isu-isu lingkungan lainnya.


Waba’du firman Alloh SWT dan Hadis Nabi SAW yang berbunyi “Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh SWT merasakan kepada mereka, sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (jalan yang benar).”[QS. Ar-Ruum: 41]. “…dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Alloh SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[Al-Qashash: 77]. “Tiga hal yang menyeruak pandang, yaitu: menyaksikan pandangan pada yang hijau (asri), pada air yang mengalir jernih, dan wajah rupawan.”[HR. Ahmad], dengan makna seluas-luasnya bukan sekedar dalil maupun argumentasi belaka, tetapi kemudian bagaimana selanjutnya bisa benar-benar kita wujudkan untuk sekarang dan nanti. Guna menyelamatkan bumi kita satu-satunya ini, agar selalu kita rawat dan cintai sesuai fitrah kita sebagai khalifah bumi ini untuk diwariskan pada anak cucu Adam-Hawa selanjutnya.


Djibril Ahmad

Friday, May 8, 2009

SENARAI SASTRA...[01]


Oleh: Halimi Zuhdy


Dalam kehidupan kita sehari-hari pengalaman-pengalaman kita memasuki atau menciptakan berbagai peristiwa tidak pernah jelas. Artinya, pengalaman-pengalaman itu tidak pernah mencapai bentuknya secara kongkret: pengalaman hampir selalu dalam kondisinya yang in abstacto. Bagi seorang novelis atau cerpenis, membangun struktur naratif sebuah novel atau cerpen hampir sama dengan memberi bentuk pada pengalaman yang dimilikinya itu. demikian juga penyair, menulis puisi pada hakekatnya merupakan proses pemberian bentuk pengalaman lewat bahasanya. Oleh karena itu, mungkin ada benarnya tatkala Altenbernd mengatakan bahwa poetry as the interpretative dramatization of experience; atau Shelly yang mengatakan bahwa puisi merupakan rekaman detik-detik yang paling indah, paling menyedihkan, paling menyengsarakan dalam hidup; atau Sapardi Djoko Damono yang beranggapan bahwa puisi merupakan sebuah unikum atau hasil pengamatan yang unik seorang penyair.


Kali ini hadir dua puisi, puisi Slun yang berjudul “Ku Tlah Menjadi Bunga” dan puisi Dien Nur Ch “Biar Bubar”. Masing-masing dari kedua penyair ini memiliki pilihan sendiri-sendiri dalam mendramatisasikan pengalaman, memilih peristiwa yang direkam, atau dalam melakukan pengamatan.


KU TLAH MENJADI BUNGA


By : Slun


Aku terjebak dalam melintasi angan dan khayalku


Mencoba menafsirkan khayal dalam rasa


Terpintas bayanganmu indah gemulai merayu-rayu


Keindahan jiwamu menari-nari dengan apa yang kau gurat lembut dalam memori


Dirimu indah Sang Pencipta


Yang hembusan nafasnya tuk hiasi dunia


Namun nafas itu telah terenggut ….pahit


Tapi kau masih terpatri erat dalam anganku


Hingga kulupakan tak mampu menyapa


Aku tidak mengenalmu


Tapi dirimulah yang membuatku mengenalmu


Karena air susu yang mengendap di tubuhku


Bahasaku bukan rahasia


Tapi rahasiaku yang tersingkap oleh tingkahmu


Timanganmu


Wahai diri…..Mau dikemanakan rasa rindu ini?


Wahai dirimu….


Sebentar lagi ku kan jadi bunga


Bukan kuntum lagi


Sebagai bukti jiwaku telah tumbuh kembang dalam segala musim


Ibu….Keberadaanmu penuh agung


Ibuku….Rinduku..khayalku….Harapanku…


Kembalilah wahai dirimu


Tuk menyaksikan diriku yang telah menjadi bunga


Ku tlah Menjadi Bunga, Slun dalam puisinya mampu memberikan suasa haru yang mungkin berangkat dari kesedihannya atau gejolak yang ada dalam dirinya, kematian, yang mungkin baginya tidak pernah diharapkan. Dirimu indah karya Sang Pencipta/yang hembuskan tuk hiasi dunia/namun nafas itu telah terenggut …..pahit/tapi kau masih terpatri erat dalam anganku/hingga kelapukan tak mampu menyapa. Sebuah kematian yang bagi banyak orang menyisakan kesedihan dan mungkin juga kenangan, apalagi yang meninggal adalah seseorang yang benar-benar kita cintai, maka terkadang kenangan itu tidak mampu dilupakan dengan pergantian masa, dan membawanya pada dunia lain yang ada di luar dirinya, seakan-akan kematian baginya tidak pernah ada, karena dalam dirinya terpancar rona dan ruh lain Aku tidak mengenalmu/tapi dirimulah yang membuatku mengenalmu/karena air susu yang mengendap di tubuhmu/. Selama ia masih mengenangnya, maka kematian hanyalah sebagai perpisahan sementara, yang suatu saat akan dipertemukan, entah dalam hayalan, mimpi atau dalam imajinasi. Karena keyakinan akan pertemuan dan kehidupan lain itulah, Slun mengkhabarkan akan keberadaan dirinya /Wahai diri…/mau dikemanakan rasa rindu ini/wahai dirimu….sebentar lagi ku kan jadi bunga/bukan kuntum lagi/sebagai bukti jiwaku telah tumbuh kembang dalam segala musim/ ia mengkhabarkan bahwa dirinya telah berkembang, berubah, berproses, dan dewasa. Dengan pertumbuhan itulah, ia ingin ada orang yang memperhatikan, merindukan, dan mencintainya, terutama orang-orang yang berjasa besar dalam kehidupannya, yang sudah mengisi hari-harnya dengan temaram keindahan dan kesenangan, seorang Ibu, yang ia tunggu kehadirannya untuk menyaksikan keberadaan dirinya yang sudah menjadi bunga bukan kuntum lagi. Ibu…/keberadaannmu penuh agung/ibuku..rinduku…khayalku…harapanku…/kembalilah wahai dirimu/tuk menyaksikan diriku yang telah menjadi bunga.Slun dalam mengungkapkan kata-katanya dari bait ke bait sungguh menjanjikan sesuatu yang membuat pembaca ingin mengetahuinya, siapakah gerangan yang dimaksud “kamu” dalam puisinya itu/terpintas bayangmu indah gemulai merayu-rayu/keindahan jiwamu menari dengan apa yang kau gurat lembut dalam memori/dirimu indah karya Sang Pencipta/Aku tidak mengenalmu/ dari ketidakjelasan objek itulah sebenarnya di antara kelebihan puisi ini karena pembaca di giring untuk terus membaca dan menghayati puisinya, siapakah yang membuat si penulis sampai-sampai menampilkan kamu sebegitu indahnya dan mempesona, baru dalam bait ketiga, meskipun masih samar, ia ungkpakan bahwa kamu itu adalah /Aku tidak mengenalmu/tapi dirimulah yang membuatku mengenalmu/karena air susu yang mengendap di tubuhku/dan timanganmu/; “air susu” dan “timanganmu” pada baris di atas sedikit memperjelas maksud penulis, namun ia masih menyembunyikan identitas kamu itu, baru bait ke enam, ia benar-benar mengungkapkan bahwa yang membuatnya terpesona dan ekstase dalam kerinduan adalah Ibu/ibu /keberadaanu penuh agung/ibuku..rinduku…/khayalku…harapanku/kembalilah wahai dirimu/tuk meyaksikan diriku yang telah menjadi bunga..


Slun mampu menjaga keutuhan imaji, kepaduan isi, dan kesederhanaan metafor, hanya saja Slun kurang maksimal memainkan unsur bunyi, sehingga unsur musikal puisinya terasa kurang merdu. Dalam penentuan tema Slun sudah mampu menghadirkan dengan baik, namun dalam feeling, dan intention masih kurang maksimal. Dan terasa lebih nikmat didengar atau dibaca jika ia juga memaksimalkan bahasanya dengan kedalaman metafor.


BIAR BUBAR


Dien Nur Ch


Tak perlu air mata itu tumpah…


Tak perlu wajah ini menunduk


Lesu,


Kalah


Karena itu bukanlah kekalahan


Ini hanyalah kemenangan yang tertunda


Karena kekalahan adalah


Ketika keberanian telah berani ditukar dengan kekeliruan


Ketika suara-suara kebangkitan tak lagi menyala


Bergembiralah


Bersoraklah


Tepuk tanganlah


Tepuk pula dadamu


Dengan penuh kegagahanmu


Karena kemenangan kecilmu itu


Kecil….


Amat kecil….


Tapi kami tak akan pernah membalasmu


Dengan tangisan darah terperihmu


Bahkan kami akan mendekapmu hangat


Dalam kesyahduanKemuliaanDi tengah lindungan dan naungan


ISLAM


Yang dalam waktu dekat ini akan segera tegak berdiri


Menyongsong tegaknya adidaya baru


Yang telah dijanjikan oleh Rabb kami


Namun bila


Engkau kembali menghalangi


Perjuangan kami


Di tengah deru nafas kami


Kami kan siap menjadi tumbal inqilaby


Selain puisi Slun, hadir juga Dien Nur Ch dengan tema yang cukup membuat hati berdebar, bergolak, dan mendebarkan. “Biar Bubar” ia memulai kata-katanya dengan kekesalan, kemarahan, kegundahan yang mendalam, dan juga antara kepasrahan dan kebangkitan. kata “biar” , mengisyaratkan untuk meninggalkan, menghilangkan, bahkan metawakkalkan, seperti biarlah yang lalu berlalu, biarlah ia hancur, biarlah ia mati, biarlah kerinduanku bersama angan dll, meskipun tidak semua kata “biar” adalah ketawakkalan total, namun biar lebih mendekati untuk menghilangkan ingatan dan prasaan untuk tidak mengenang. Dan dalam kepasrahan (bukan fatalisme) sesungguhnya menyimpan seribu kekuatan dan hasrat untuk bangkit dan membangun, hal itu yang terdapat dalam bait-bait puisi Dien.Dien mampu menghadirkan pesan-kesan yang bernada menggugah tak perlu tetes air mata itu tumpah/tak perlu wajah ini menunduk/lesu/kalah/karena ini bukan kekalahan/ ini hanyalah kemenangan yang tertunda/karena kekalahan adalah ketika kebenaran tlah berani ditukar dengan kekeliruan/ketika suara-suara kebangkitan tak lagi menyala Jika kita yakini puisi sebagai bentuk intensifikasi dan konsentrasi pernyataan pesan-kesan, pada puisi ini kita temukan, puisinya menunjukkan adanya pertautan dalam yang erat untuk mendukung makna. hanya saja, Dien tidak mampu menghadirkan kata-katanya dengan penuh imaji, ia seakan-akan hanya ingin menumpahkan kesumpekannya, kegundahannya, kemarahannya tanpa memoles dengan kata-kata metafor. Dan juga ia tidak mengolah sajak kemilitansiannya dengan imajinasi agar sampai pada ungkapan puitik yang lebih menggugah. Kalau ia mengolah dan memolesnyanya dengan ketajaman imajinasi, apalagi ditambah dengan kemampuannya menjaga bunyi yang tanpak cukup baik, sajaknya pastilah lebih bermakna dan menggugah.Kalau kita perhatikan, kekuatan puisi Dien memang bukan pada diksi dan imajinasi, melainkan pada makna, pesan, amanah. Tapi bagaimanapun, karena puisi pertama-tama adalah bahasa dan imajinasi, maka makna pesan, amanat sejatinya dibungkus dengan diksi dan imajinasi yang menyaran. Dengan cara itu, makna akan sampai dan menghujam ke jantung kesadaran pembaca.Yang juga menarik untuk dicermati dalam puisi Dien adalah bagaimana ia bermain dengan perasaan, antara bait pertama dan ketiga cukup menggugah untuk bangkin dan melawan, namun bait kedua mengajak pembaca untuk menarik dari kegoisan buta, berlindung dalam hamparan keindahan dan kesejukan sebuah ajaran/tapi kami tak pernah membalasmu/dengan tangisan darah terperihmu/bahkan kami akan mendekapmu hangat dalam kesyahduan/kemuliaan/di tengah lindungan dan naungan Islam. dan puncak dari totalitas gerakan dan kegundahan itulah ia ungkapkan dalam bait terakhir yang menurut saya cukup mengesankan dan mampu menyisakan keharuan yang cukup mendalam/namun bila/engkau kembali menghalangi/perjuangan kami/di tengah deru nafas kami/kami kan siap menjadi tumbal inqilabiy.Kreativitas seorang penyair sesungguhnya tidak terletak pada kemampuannya dalam menciptakan nilai-nilai, tetapi lebih ditentukan oleh kapasitas kemampuannya dalam menangkap berbagai gelagat dan isyarat yang terjadi disekelilingnya seperti peristiwa budaya; menyeleksi dan menafsir sesuai dengan visinya untuk kemudian mengukuhkan dan mengutuhkannya dalam bentuk keindahan bahasa yang disebut puisi. Melalui karya puisinya itulah seorang penyair mencoba berbagi nilai dengan para pembacanya.


*)Pengamat Sastra dan penulis puisi dibeberapa media lokal dan nasional. Pembina komunitas sastra Tinta Langit Malang.

Sunday, March 29, 2009

Aku, Cintaku, dan Cinta Kita

Oleh: UmarRojana

Tinta Langit, Aku Mencintaimu, Tidak Ada Seseorang yang Mencintaimu Seperti Aku Mencintaimu.

Hari ini hari Senin, tanggal 23 Februari, kata Zizie, kamu Ulang Tahun.(ini nulisnya kemaren. Tapi baru sempet ke post sekarang)
Selamat Ulang Tahun yang ke 3, jangan pernah berhenti mencintaiku, dan jangan pernah pergi dari hatiku. Karena kaulah tintaku setiap aku menulis, dan engkaulah langitku saat aku merindukan hujan di hampir setiap malam.

Mungkin saat inilah waktunya aku mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Perasaan yang terlalu lama aku pendam, perasaan yang terlalu besar, yang tidak pernah aku katakan karena aku tidak mengerti bagaimana mengatakannya, yang selama ini tidak pernah aku tunjukkan karena aku tidak tahu dengan apa menunjukkanya, tapi aku mencintaimu, sangat mencintaimu, bahkan tidak ada seseorang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu.

Dengan engkaulah aku menulis, dan dibawahmu aku berteduh.
Engkaulah yang mengajariku cemburu karena aku tak pernah mampu menaklukkan Jawa Pos, Surya, Annida, Sindo bahkan sekedar Koran Pendidikan sepertimu, engkaulah yang mengajariku bagaimana menemukan Ide karena setiap berkumpul denganmu aku selalu menemukan hal baru.

Engkaulah yang pernah membuatku berteriak-teriak, engkaulah yang berani membuatku ngesot di gedung IKA Brawijaya, egkaulah yang suka mentraktir Sandwich atau sekedar molen ketika tulisanmu dimuat, engkaulah yang membuatku iri karena memajang karyamu di seAntero UIN dan aku belum bisa.

Namamu begitu anggun di antara nama-nama yang pernah aku kenal. Aku begitu ingin memenuhi harapanmu untuk menulis diatas langit yang begitu luas, menumpuk hasil karyaku sampai memenuhi jarak antara bumi dan langit. Aku ingin menulis tanpa batas, tanpa jeda, seperti langit yang tak pernah ada batasnya dan tak akan pernah tertemu batasnya.

Tapi sampai hari ini aku masih saja disini, belum bergerak dari jarak awal aku berpijak. Aku belum bisa mengikutimu yang terus berlari dan meneriakiku untuk mengejarmu. Engkau, kalian, terlalu hebat bagiku. Sementara aku masih belajar menumbuhkan sayap, kalian sudah terbang bebas menghinggapi media demi media, Koran demi Koran, bahkan penerbit demi penerbit. Dan aku masih disini masih belajar mengepakkan sayap.

Aku malu, tapi aku terlalu mencintaimu untuk meninggalkanmu. Dan cintamu, cinta kalian membuat aku tidak bisa pergi. Kau terus memanggilku, kau terus meneriakiku, kau memberi semangat dengan setiap senyummu. Karena kau juga mencinatiku, aku tau kau mencintaiku. Kalian mencintaiku.
Atas nama cinta, karena cinta dan untuk cinta. Itulah kini yang akan aku lakukan. Hidup terus berjalan. Hanya ada satu kata yang pantas aku ucapkan, “JANGAN BERHENTI, TITIK!”

Tinta langit, karena aku mencintaimu aku tidak akan berhenti, karena mencintaimu aku akan terus bernyanyi, dalam kesendirian maupun kesepian. Karena mencintaimu aku ingin menanamkan janji pada diriku sendiri, aku tidak akan berhenti, sampai pada akhirnya aku berani berteriak,
“INILAH AKU, UMAR ROJANA!”
“HALAH… TAI KUCING!”

Wednesday, March 25, 2009

TINTA LANGIT (MET ULANG TAHUN)



TINTA LANGIT, TERBANGLAH…………..!!!! 


Dari Lubuk Jiwa Sang Guru Kami....... Halimi Zuhdy


Biarkanlah sebatang pena mengukir langit

Membingkai kata, bernostalgia dengan frase

Menikmati makna


Biarkanlah tinta itu,

Terbang mengejar awan

Menyusuri bintang-gemintang kalimat

Menemukan lipatan-lipatan hikmah


Biarkan tinta itu

Menari-nari, di altar kata-kata

Melambai, berlenggok tuk menemukan rasa

Rasa sensasi, seksi, dan bernarasi


Biarkanlah tinta itu,

Bergelombang

Dibahtera puisi

Dengan nahkoda sajak-sajak

Menemukan samudra sastra dibalik dermaga prosa


Jauh…jauh

Kau berlayar, terbang, menari-nari

Tuk memoles kata menjadi kalimat agar kau bebas berkarya

Tapi, ingatlah

Kau akan terjatuh bahkan hancur

Dalam debur

Jika tintamu tergelincir dalam bulir dosa


di sana ilalang bercengkrama

melantunkan nyanyian sorga

tinta terjaga dalam tidurnya

noktah yang tergeletak

kini membuat baris-baris dalam hidup

dan berkata.

kata milankolis, kata yang tak akan

pernah berujung. Kata pun ditelan frase

sehingga membetuk klausa-klausa.

malam itu, tinta bersama kalimat

yang penuh dengan wacana

kini wacana berbaring bersama realita dunia.


Selamat ulang tahun, selalu berkarya


Malang , 25 Maret 2009




WWW.Halimizuhdy.blogspot.com
1. halimizuhdy81@gmail.com
2. imilah_Zudn@yahoo.com
http://ibnuzuhdy.multiply.com/journal/item/7










Wednesday, February 25, 2009







Dari Oshin, Si Doel hingga Para Pencari Tuhan






Tayangan audio visual layaknya televisi, yang sederhana temanya, mendidik dan syarat akan nilai, moral serta teladan positif tampaknya sulit terealisasi dan direalisasikan dalam waktu dekat ini di Malang Raya ataupun Indonesia umumnya. Karena hampir tiap jam kita selalu dan selalu dicekoki berbagai macam tayangan yang dulu dianggap tabu dan tak layak dikonsumsi segala umur (usia) dan publik, perlahan tapi pasti tayangan tersebut merangkak menggapai puncak rating tinggi di industri pertelevisian Indonesia dewasa ini. Lihat saja mulai dari pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi infotaimen gosip selebritis tak kalah durasi waktunya dengan berita-berita terkini nasional, belum lagi reality show pacaran, cinta muda-mudi belasan tahun, detektif-detektifan, humor tanpa bobot, sinetron garing dan cengeng sampai acara musik yang berlebihan terus mendominasi program-program televisi tanah air yang kesemuanya mengaburkan identitas asli bangsa Indonesia yang luhur berkarater kuat, dan agamis selama berabad-abad.



Kilah para produser sekaligus stakeholder, itu semua adalah permintaan mayoritas pemirsa pada Production House (PH) maupun Stasiun Televisi lewat survei dan polling yang masuk. Benarkah faktanya seperti itu? Apalagi mental-mental para pembuat program televisi dalam negeri kita cenderung latah dan mudah iri hati, jika satu program di stasiun televisi tertentu sukses, maka serta merta mereka akan menyontek dan mempermaknya habis-habisan agar mendapatkan pemirsa baru.



Aneh, miskin kreativitas dan malas berinovasi, lalu dimanakah idealisme para sutradara? Masak kalah dengan segepok uang, padahal langsung ataupun tidak, merekalah salah satu mata rantai yang berkubang dalam lingkaran bisnis audio-visual ini, dan berandil besar membuat bangsa ini mudah termehek-mehek, mental-mental instant-deadline tatkala menjalani hidup lewat produk dan program TV-nya. Khusus di tangga rating dan kualitas sinetron seharusnya para produser belajar dan bercermin dari masa lalu hingga kini, taruhlah sinetron berseri ‘Oshin’ yang impor Jepang itu terus menunjukkan taringnya, dari sejak saya masih kecil hingga mahasiswa. Sudah berulangkali Oshin ditayangkan di TVRI sebagai embah-nya TV nasional, bukan karena tekanan pemerintah RI/Jepang atau stabilnya ratingnya ataupun hal-hal lain semacam cari untung saja. Namun lebih dari itu, karena kuatnya tema dan daya sihir hikmah-pesan yang ingin disampaikannya itu begitu sederhana dan mengena bagi seluruh manusia (universal sifatnya), yakni pantang menyerah untuk maju guna meraih cita-cita walaupun situsi-kondisi tak memungkinkan mendera diri-keluarga. Logika gampangnya masih banyak celah dan aspek-aspek kehidupan yang tersaji di jagad nusantara yang bisa disulap menjadi sebuah acara yang memikat, dengan budget kecil, magnet tinggi dan beruntung besar jika memang itu tujuannya, tanpa harus menafikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Artinya ketika sebuah produk tayangan dalam bentuk apapun mampu meraih simpati, menggugah jiwa bagi yang menontonnya, otomatis, pemirsa membludak dan berbanding lurus dengan antrian iklan yang masuk, nah!.
Contoh kongkritnya adalah produk aseli sineas muda dan senior anak bangsa melalui ‘Si Doel Anak Sekolahan’-Anak Gedongan (Karnos Film) yang diadaptasi dari film laris manis si Doel versi jadul (jaman dulu) yang diperankan apik (Jawa: baik) oleh Rano Karno dan lainnya, disusul kemudian ‘Para Pencari Tuhan’ yang terus menerus merebut hati para pemirsa dalam serta mancanegara arahan sutradara plus aktor kawakan H. Dedy Mizwar. Mereka adalah sedikit dari ratusan publik figur yang telah matang dan berkomitmen penuh memberikan guna men-servise penuh bangsanya dengan karya dan tayangan ‘supermewah’ yang bermetomorfosa menjadi vitamin sehat-menyehatkan akal-pikiran, hati, dan jiwa bangsa yang sedang kehilangan arah ini. Supermewah ini dengan denotasi bahwa apa yang mereka sampaikan tidak jauh terjadi disekitar atau malah diri kita sedang mengalaminya, entah itu himpitan ekonomi, masalah jodoh, rizki, agama, budaya, filsafat, pendidikan, psikologi, dan segala bentuk permasalahan dalam berbagai scene dan sudut pandang bahkan kematian, disuguhkan dan dikemas secara ciamik (bagus-mengena), serta sangat-sangat khas Indonesia yang pelangi.
Tanpa bermaksud menggurui atau merasa lebih menguasai permasalahan tersebut bagi siapapun dengan segala kekurangan dan kelebihan tentunya. Dari karya-karya mereka kita bisa berkaca, menelaah dengan baik, dan alhamdulillah jika kemudian bisa mengamalkan apa yang ingin diinformasikan lewat sinetron ataupun film-filmnya. Selain itu kita juga punya sosok perfilman layaknya Garin Nugroho dengan Rindu Kami Pada-Mu, Opera Jawa, Daun Diatas Bantal dsb, lainnya Mira Lesmana feat Riri Reza dengan Kuldesak, Gie, Laskar Pelangi dan masterpiece-masterpiece mereka selanjutnya yang sejalan intinya.
Semoga saja, media audio-visual sebagai salah satu satelit dan mercusuar pendidikan tercepat, luas jangkauan jaringan serta terjangkau untuk seluruh kalangan ini, bisa benar-benar menjadi televisi pendidikan berfaedah yang bisa mengatrol psikologis anak bangsa yang sedang terpuruk. Tanpa mengesampingkan dukungan penuh dari pemerintah, guru dan orang tua, lingkungan masyarakat, media massa-elektronik serta seluruh elemen bangsa-negara ini. Bukan malah menghancurkan dan meracuni mutiara-mutiara generasi muda Indonesia yang selalu juara di olimpiade-olimpiade dunia tapi kalah telak di negerinya sendiri.



Kitab Kuning’ diantara Jamaah Kopi & Rokok
(Al-Kitab Baina Jam’iyah Al-Qohwah Wa Ad-Dhuhon)
2 Februari 2009 (Warteg-SURYA)


“Saya lebih baik tidak makan ketimbang tidak menghisap rokok seharian”, kalimat itu kira-kira yang sering kami dengar jika memasuki tanggal atau hari paceklik (akhir bulan) dari teman-teman mahasiswa dan alumni pesantren penggila rokok. Satu sisi memang dianggap kurang waras mungkin dan irrasional barangkali, tapi dibalik itu semua mereka sebenarnya sedang mengoptimalkan fungsi tembakau, cengkeh dan rempah-rempah dalam bungkus rokok guna membuka lebar mata lahir mereka untuk kemudian berjibaku, larut dan tenggelam dalam samudera kitab kuning/putihnya yang berujung (cita-cita) terbukanya mata batin mereka atas kebenaran hakiki.Tatkala makin gencarnya tarik-ulur antara pemerintah, pengusaha rokok, petani tembakau, konsumen rokok, Ulama’, organisasi kesehatan dan seluruh elemen yang melingkupinya, pasca kontroversi Fatwa Haram Rokok MUI Pusat yang digelindingkan ditengah-tengah masyarakat. Jauh dari hiruk-pikuk itu semua, tepatnya di pinggiran kota Malang, telah lama berdiri, banyak sekali warung-warung “kopi” plus teman spesialnya yang bernama “rokok”.
Beberapa diantaranya yaitu warung kopi-rokok WARNING (warung kuning) yang terletak Jl.Bendungan Sutami jelang pertigaan UM (IKIP) Malang sebelah kiri jalan dari perempatan ITN Malang, kemudian warung PANGGUNG Jl. Gajayana (sebelah kanan perumahan Istana Gajayana), lalu warung AGP (arek Gresik punya) Jl. Mayjen MT. Haryono sebelah kiri jalan dari arah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan warung ASNGOJA (asyiknya ngopi aja) dibelakang bangunan Masjid Al-Mukhlis (termasuk kawasan Jl. Mayjen MT. Haryono) serta puluhan warung kopi-rokok yang lain, layaknya jamur dimusim hujan diportal-portal jalan (Surya, 2/2/2009). Konsumen utama dari warung kopi dan rokok diatas, mayoritas adalah mahasiswa dan mahasiswi kota Malang. Terlepas dari fatwa haram MUI Pusat, budaya merokok dan menyeruput kopi telah mengakar akut dan kuat di segala level lapisan masyarakat Indonesia. Faktanya bisa kita tengok di Surabaya, Jogjakarta (angkringan), Tulungagung (kopi nyete), Gresik, Jakarta, Bali dan dipusat-pusat kota Santri di pulau Jawa. Daya tarik warung-warung kopi-rokok di kota Malang pun bermacam-macam, ada yang menarik minat pengunjung dengan kekhasan cita rasa kopi dan penyajiannya, arsitektur serta strategis tempatnya, fasilitas hot spot, remang-remang lampunya, terjangkau kantong mahasiswa harganya alias murah-meriah, full kajian diskusi (sastra, filsafat, politik, musik/band, fotografi hingga film dokumenter dan indie dsb) serta dilengkapi tv-perpustakaan, serta yang terakhir adalah pengajian kitab kuning ala pesantren sembari ­ngopi dan ngerokok untuk mengkaji-mengaji ilmu tauhid, fiqih, tasawuf dan seluruh isu-isu terbaru agar tidak ngantuk serta tanpa bermaksud keluar dari niat inti untuk menggapai ridho-Nya.
Budaya Al-Kitab Baina Jam’iyah Al-Qohwah Wa Ad-Dhuhon (Arab: kitab kuning diantara komunitas kopi dan rokok) yang disebutkan belakangan merupakan potret nyata kehidupan mahasiswa kota Malang yang coba dihembuskan secara persuasif dan datang dengan damai tanpa paksaan kepada seluruh masyarakat, khususnya kalangan insan perguruan tinggi. Dengan mayoritas konsumennya adalah alumni pondok pesantren yang berbaju mahasiswa, otomatis euforia romantisme sebagai santripun berbaur didalamnya, seperti pepatah konyol mengatakan; "Sambil menyelam (ilmu), minum kopi" dan rokokan. Atau slogan warung kopi Blandongan Jogja: "(bangkitkan jiwa & raga [by] kopi priboemi) Selamatkan anak bangsa dari kekurangan kopi". Mantap dan pas tenan sasarannya untuk kawula muda bahkan bagi siapapun juga yang ahli begadang dengan berbagai macam alasan dan aktivitasnya. Meskipun kami sendiri tidak merokok alias perokok pasif dan hampir setiap hari bergaul dengan para perokok aktif, tetapi kami bisa enjoy dengan lingkungan yang menurut sebagian orang membahayakan kesehatan. Sebab harga yang harus kami bayar untuk mendapatkan lingkungan mboiz (Jawa-Malang: bagus, oke) yang fokus mendalami kitab kuning itu langka sekali di antara kepungan lingkungan hedonis semacam kota pelajar seperti Malang.
Tanpa bermaksud mendeskritkan siapapun juga atau melawan mainstream umum, namun untuk kami, kitab kuning tidak bermakna hanya sebagai kitab klasik dan usang yang telah ketinggalan gerbong zaman postmodernisme, tetapi lebih dari itu, bagi kami kitab kuning adalah hidayah yang tak bisa dibeli dan didapat dipasar, mall, stadion, bangku kuliah, gedung DPR/MPR, rumah dan tempat-tempat tertentu kecuali Pesantren dan turunannya atau simpatisannya yang menyimpan beribu-ribu sejarah, pengetahuan, kearifan lokal-universal, hikmah-hikmah, barokah, rumus-rumus kehidupan ringkas padat yang dinamis tak lapuk dimakan dimensi, dengan syarat utamanya harus memahami kaidah bahasa dan sastra Arab tentunya. Namun berkat kebijaksaan Walisongo akhirnya perkawinan Jawa-Arab (huruf pego) atau kitab kuning di bumi Jawa mampu menetralisir kesulitan demi kesulitan untuk memahami kitab kuning dulu, sekarang maupun yang akan datang. Dus, seperti memakan buah simalakama fatwa haram rokok MUI memang, jika dijalankan ataupun dibatalkan pun serba salah bagi masyarakat awam sekalipun, maju kena mundur kena. Sama-sama kuat dalil dan argumentasi yang dipakai oleh masing-masing kubu terkait. Namun bagi para penikmat kopi dan rokok dengan kitab kuning-holicnya, senyampang Indonesia masih bisa diselamatkan dengan melek-nya dan kuatnya generasi muda bangsa untuk terus belajar dan berkarya di bangku pendidikan by sruputan kopi dan hembusan rokoknya. Mengapa tidak? Tentunya dengan toleransi tinggi kepada para anti rokok ataupun kopi dimanapun dan kapanpun dia berada.



MAHASISWANISME = PREMANISME
(Psikologi Marah)

Mahasiswa sebagai simbol mata tombak kebenaran kaum intelektual muda bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang mengedepankan diplomasi persuasif, toleran, damai, dan bersahaja ternyata semakin hari semakin kehilangan arah dan tujuan hakikinya untuk menegaskan jati dirinya pada republik ini. Hampir tak ada bedanya antara mahasiswa yang jago tawuran dengan para preman yang hari-hari ini terus diciduk polisi di pasar, terminal, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya, karena ulahnya yang meresahkan rakyat. Aksi tak simpatik (premanisme) mahasiswa dijalanan diberbagai daerah, semakin mengukuhkan stigma negatif masyarakat awam (baca: orang tua) yang ingin memasukkan putra-putrinya di perguruan tinggi, sebab ditengah carut-marutnya perekonomian dunia yang imbasnya ke dalam negeri, langsung ataupun tidak membuat para orang tua berpikir ulang untuk mendaftarkan anaknya di universitas. Dan ini dikhawatirkan karena kebrutalan segelintir oknum mahasiswa yang tak bertanggungjawab, mengatasnamkan solidaritas ‘semu’ rela melakukan tawuran dengan mahasiswa, masyarakat, aparatur pemerintahnya sendiri, aneh dan ironi. Padahal kita memiliki senjata ampuh yang bernama ‘musyawarah mufakat’ yang terbukti tokcer turun-temurun dalam menjernihkan permasalahan kecil hingga besar, dan seringkali hal itu tak diindahkan, malah amarahnya yang didahulukan. Potensi kemarahan sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir. Sebelum bayi belajar bicara, emosi yang sudah berkembang di dalam dirinya adalah perasaan gembira, takut, malu, heran, dan marah. Marah merupakan reaksi dari perasaan kesal yang memuncak ketika dia temui hal-hal yang tidak selaras dengan keinginan dan pandangan-pandangannya. Orang bisa marah karena alasan konflik, penghinaan, cemoohan, ancaman, maupun tekanan rasa sakit (Abdullah Gymnastiar, 2006). Imbasnya fakta tersebut semakin mencoreng dunia pendidikan nasional yang masih tiarap, disisi lain pekerjaan rumah bangsa ini terus bertambah, disamping kemiskinan, pengangguran, penegakan hukum, ekonomi, sosial, moral, dan seterusnya.Benang merah ’marah’ sebenarnya tidak hanya menghiasi dunia pendidikan saja, hampir seluruh lapisan masyarakat kita mudah saja termotivasi untuk menggerakkan lidahnya untuk mengumpat, memukul, menendang sampai membakar ataupun membunuh dirinya atau orang lain demi mengekpresikan marahnya. Dalam kehidupan manusia dikenal ada tiga emosi dasar yang dimiliki sejak bayi dan dibawa terus sampai meninggal dunia. Emosi tersebut adalah marah, senang, dan takut. Hanya saja manifesti emosi-emosi tersebut akan tidak sama, tergantung pada usia, tahap perkembangan dan situasi serta kondisi saat emosi tersebut muncul (Sartini Nuryoto, 2006).Marah berarti perubahan internal atau emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang ada dalam hati. Perubahan yang lebih keras dari marah disebut "al-ghaizh" (Yadi Purwanto, 2006: 7). Menurut Wayne M. Dyer (1977), marah adalah sutu reaksi terhadap frustasi yang terlatih dimana seseorang berbuat dengan cara-cara yang sesungguhnya ia tidak menginginkannya.Alhasil, jika sewaktu-waktu mahasiswa demontrasi ada baiknya jika dibekali dengan ’manajemen marah’ di lapangan, agar tidak mudah terprovokasi dan bertindak anarkis di tengah-tengah masyarakat. Karena bagaimanapun juga masyarakat adalah tim penilai pertama segala tindak-tanduk agen perubahan dan pengontrol ini. Dan sangat manusiawi tatkala para polisi bertindak represif jika mahasiswa berlebihan dalam setiap aksinya. Setidaknya tarik napas dalam-dalam dan hitung pelan-pelan sampai 10-20 detik, saat marah muncul, segera duduk jika sedang berdiri, segera telentang jika sedang duduk, kemudian segera wudlu.Label mahasiswa bukanlah segala-galanya tatkala masyarakat yang notabene keluarga si mahasiswa telah jenuh dan muak dengan arogansi mahasiswa itu sendiri. Tak salah jika iklan mengatakan; "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan, dan mati jelas akan datang menjemput", karena mahasiswanisme bukanlah premanisme. "Siapakah yang kalian anggap perkasa?" Kami menjawab: "Orang yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun." Nabi Muhammad SAW bersabda, "Bukan itu, tetapi orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah." (HR. Muslim).

J. Abdillah

Monday, February 23, 2009

SEKOTAK CINTA

SEKOTAK CINTA UNTUK ‘TINTA LANGIT’
Juned, sebab kamu, aku menuliskan surat ini.


(Malang) Minggu, 23 Februari 2009

......
Kita tersesat pada keterasingan yang tak pernah kita mengerti. Ini fase, adalah episode yang tak terduga, namun harus diterima. Sebab kita manusia, yang mau tak mau harus siap dengan segala peristiwa...
.....

Kita saat ini, bukan lagi manusia yang baru mengenal satu sama lain. Sudah kita tanggalkan banyak masa, banyak usaha, banyak cinta. Kita saat ini, adalah kita yang memiliki seribu satu rencana. Sudah merekah kuncup dalam pribadi dan otak kita. Sudah pula lebih cepat langkah dan lari kita.

Agaknya kita harus mengakui, bahwa kita sedikit lebih dewasa dari pertemuan kita silam.

Mampirlah pada kehidupanku saat ini, kawan. Dan jangan larang aku untuk mampir pada kehidupanmu saat ini, atau kapan saja. Bukankah, hidup kita ada satu: berusaha dan bercita-cita? Maka, tak ada alasan untuk menutup diri antara satu dengan yang lain. Sebab, kita berangkat dari sejarah yang panjang, dan sangat tak patut dilupakan. Kebersamaan yang terlalu manis, juga berbagai peristiwa yang memilukan, sekaligus membahagiakan.

Indah, ya?

Hm, ya, dulu, memang sangat indah. Kita merdeka, sangat merdeka. Kita meraba-raba jati diri, meraba-raba tempat mana yang cocok untuk kita tinggali secara bersama-sama. Kita bebas melakukan apa saja, merencanakan apa saja. Kita merangkai bahagia dan tawa setiap saat. Kita membakar semangat sesuka kita.

Kita—seolah-olah—menyepakati bersama, bahwa tempat kita adalah pada kata-kata yang indah, pada bahasa-makna yang bisa dibaca banyak manusia: Sastrawan. Penyair. Cerpenis. Novelis. Esais. Pemikir. Kritikus. Kreator...

Aih, indah betul harapan kita itu!

Asal kalian tahu, obsesi itu masih sangat kuat tertanam dalam diriku, hingga detik ini. Entah, apakah masih ada dalam diri kalian. Ataukah, sudah ada pilihan rencana lain yang dirasa lebih baik dari rencana semula kita.

Tapi tak masalah. Kita sudah dewasa. Kita merdeka. Kita berhak menentukan apapun yang baik dan tepat menurut kita.

Rozi, sudah nyaman kau rupanya dengan politikmu? (Asal kamu tahu, aku ikut bahagia mendengar ikhtiarmu terwujud. Lebih membahagiakan, saat aku melihat sepasang matamu yang berbinar mengabarkan sepak terjangmu padaku). Berjanjilah untuk kuliah tepat waktu dan tidak menggalang demo anarkhis. Kita terpelajar, kita beragama. Apalagi kamu pemimpin yang diharapkan bisa memberi pengaruh positif. Kendalikan massa-mu. Tugasmu adalah membuat maju kampus, serta memperluas jaringan untuk aset masa depanmu kelak. Ingat, jangan lupa makan dan istirahat ya, sayang?

Wafi, bagaimana kabarmu? Jangan terlalu sibuk. Ingat, kau harus makan dan istirahat cukup. Jangan sampai, sebab terlalu sibuk menciptakan demokrasi di kampus kita, kau lupa hak-hak tubuhmu. Demokrasi tidak sekejam itu memforsir tenagamu. Tersenyumlah selalu. Aku snagat rindu dengan senyummu itu.

Ili, pendiam betul kau padaku? Ada yang salahkah? Atau, ada yang telah terjadi? Kukira, sesuatu telah membuatmu jadi pemalu dan pendiam. Tapi apa itu? Jujur, aku sedikit tak terbiasa dengan kebiasaan barumu itu. Tapi, bila itu membuatmu tenang dan nyaman, aku tak akan protes lebih jauh. Sebab, kau tetaplah Ili-ku, yang selalu tersenyum dan jail padaku.

Durroh, rupanya akademik membuatmu sibuk kesana kemari, ya? Ah, Durroh, tidak capek kau? Kau memang mahasiswa teladan dan rajin! Kau sangat tekun dan penuh semangat. Pasti ada seribu target dalam otakmu, sehingga setiap langkahmu harus tepat dan berhasil. Tapi, kenapa kau lebih cantik sekarang? Maksudku, lebih feminin. Lucu memang. Ah, rindu betul aku padamu!

Tamim, bagaiman dengan pencarianmu? Apa yang sudah kau temukan? Sastra yang indah, apa sudah mampir ke kediamanmu? Kau memang calon filusuf (Ehem!). Selalu berfikir dan resah terhadap sekitarmu yang tak sesuai. Asal imanmu kokoh, dijamin renunganmu tak akan keluar dari lajur semestinya. Sebab hanya itu kuncinya. Dan mengenai gadis pujaanmu? Sudah kau dapatkankah? Oh, iya, aku ingin kau tidak pemalu dan sentimen lagi pada perempuan. Semoga saja, bisa kau pertimbangkan (he2).

Slenger, rambutmu bagus. Kau masih saja aneh dan suka cari perhatian, ya? Apa sudah kau kirimkan tulisanmu ke media? Si BJ sudah sampai ke langit tujuh, bagaimana denanmu? Jangan suka bermain perempuan, kau akan semakin lama sampai pada tempat yang kau idamkan : seniman berbakat dan fenomenal. Kau berpotensi besar, percaya dirimu luar biasa. Manfaatkan anugrah itu. Tapi, semakin aneh penampilanmu, semakin aku sayang padamu.

Juned, kenapa kau selalu membuatku rikuh? Aku selalu malu padamu, merasa tak enak padamu. Ini karena kharismamu sebagai sahabat yang tak bisa ditandingi siapapun. Komitemenmu yang tinggi, membuatku sangat malu pada diriku sendiri. Kau bukan sembarang teman. Kau merangkulku, juga teman-teman lain, sebagai saudaramu. Dan kau mengajari kita, khususnya aku, bagaimana memperlakukan saudara dengan seharusnya. Aku tahu, aku memang sangat memalukan. Maafkan aku, Jun. Jangan abaikan aku, teruslah membuatku malu. Agar pikiranku semakin terbuka dan aku bisa dewasa sepertimu.

Cimud, siapa muhrim barumu? Mengakulah...Seseorang mengabarkannya padaku. Jangan rahasiakan apapun padaku. Bukankah selama ini, aku selalu bercerita apa saja yang menimpaku? Kita kerap bertemu, dan aku senang kau selalu tersenyum padaku. Seingatku, tulisanmu pernah mampir di media. Tidakkah ingin kau teruskan sepak terjang itu? Kau berbakat, cerdas, dan ramah. Tak boleh ada yang melupakan sifat dasarmu itu. Ingat, aku menunggu kabar muhrim itu, lho!

Umar, tak lelah kau rupanya menggodaku? Puisi romantis serta celetukan mempesonamu itu tak pernah tak menghiburku. Kau lucu, sangat jail, dan romantis. Pacarmu pasti sangat betah denganmu. Tapi, kau hanya berani lewat sms. Bila bertemu denganku, kau hanya tersenyum alakadarnya, lalu pergi begitu saja. Mau jadi pujangga misterius maksudnya? Hahaha, gemas aku!


Habibah, nyonya cantik yang baik hati. Sehatkah kamu? Sudah kau temukan rupanya kbahagiaan hidupmu, yang dulu sempat kau tangiskan padaku--sebab tak kunjung kau temui. Aku dengar, aku sudah punya keponakan? Dia harus memanggilku 'Bu Lek Zizi'. Aku benci panggilan Tante. Bukan budaya kita, hehehe. Sehatlah selalu, bib. Jangan putuskan silaturrahmi kita. Aku senantiasa rindu kabarmu. Juga tulisan-tulisanmu itu.

Muttaqin, aku kangen kamu. Bagaimana tanah kelahiran menyambutmu? Aku kehilangan kontak, jahat sekali kau melupakan aku! Kamusmu masih di aku. Juga sejuta kenangan dan pengorbananmu tertinggal di sini bersamaku. Kau sedang apa? Jangan-jangan, tanah kelahiran tak menghendakimu kembali ke ranatuan? Lalu, bagaimana dengan pertemanan kita?

Dan aku, zizi. Tak ada yang berubah dariku, kawan. Aku tetap sayang pada kalian semua. Aku tetap ada untuk kalian, percayalah. Obsesiku masih sama dengan yang dulu: cerpenis. Tidak keluar dari ranah itu. Dan aku perlahan mendapat titik terang. Dari ketetapan 20 cerpenis muda Indonesia 2009, ada namaku nyangkut di situ. Aku pun akan menikah dalam waktu dekat, kawan. Doakanlah supaya semua lancar dan berkah. Aku menikah awal Juni, Insyaallah. Jadi, datanglah. Aku akan menanti. Setelah menikah, aku akan hijrah dari Malang, ke Jogja. Babak baru akan dimulai. Perubahan besar, dalam bentuk apa saja, akan terjadi padaku. Tapi jangan takut, aku tetap ada untuk kalian. Tak akan lekang dimakan waktu....

Aku sayang kalian semua.

Selamat ulang tahun untuk kita. Ini, sekotak cinta dari hatiku untuk Tinta Langit (Rozi, terimakasih, nama komunitas kita bagus sekali). Aku rindu, sangat rindu. Dan air mataku ini, adalah saksi dan menjadi bagian terpenting dari sejarah perjalanan kita. Kalian adalah teman kreatif terbaikku, sampai kapanpun. Tinta Langit adalah jalan awal, inspirasi pembuka, serta motovasi terbesar bagi perjalanan cita-citaku.

Terimakasih, terimakasih...

Mampirlah ke rumahku jika kalian lapar dan tak punya uang. Tinggallah ke rumahku jika kalaina kesasar atau kemalaman atau diusir. Aku, rumahku, segala yang kupunya, terbuka untuk kalian semua.

Selamat Ulang Tahun yang Ketiga, Tinta Langit, sayang...


Azizah Hefni
(zizi)






Tuesday, February 3, 2009

Memilih Calon Istri

Oleh Umar Rojana


Maaf beribu maaf kalo tulisan ini diluar jalur sastra yang seharusnya. Alasan pertama kenapa tulisan nista ini bisa terpampang disini karena “paksaan” si Juned, katanya Ayo! segera berpartisipasi dengan nulis disini, jadi ya “terpaksa” saya nulis, dan yang ingin saya tulis saat ini ya ini ini!

Yang kedua, gak bermaksud membuka luka lama, dari dulu dan pada awalnya saya ingin komunitas ini bukan sekedar komunitas sastra, tapi Komunitas Baca Tulis (dan itulah kalimat yang tercantum dalam”Piagam Tarbiyah”) Jadi gak ada salahnya dong kalo saya nulis apa aja, yang penting tulisan! Titik!

Akhir-akhir ini saya suka inget Zizi, Azizah Hefni, penulis idola saya. Mungkin temen-temen disini ada yang kenal? Baik saat sendiri di WC, setiap mau tidur, bangun tidur, maupun rame-rame waktu ujian, shalat maghrib, dll. Tapi tulisan ini gak ada hubungannya sama dia.

Bektudepoin, tulisan ini judulnya Memilih Calon Istri. Sebagai lelaki yang punya naluri, menururt saya gak salah kalo saya gak bisa berhenti/cukup mencintai satu cewek. Jujur, itu naluri lelaki, semua lelaki, dan kebetulan saya adalah lelaki. Tapi seiring berjalannya waktu dan usia, akhir-akhir ini saya juga merasa semakin dewasa dan bijaksana. Hidup dengan banyak perempuan bukanlah hal yang baik dan bermanfaat. Saya kadang sudah berfikir mencari sosok perempuan yang ideal, satu saja, untuk menjalin hubungan yang serius, satu kehidupan di bawah ridha Allah. Kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Iya gak Bibah? dan beberapa hari ini saya lagi dilemma tentang masalah tersebut.

Dari sekian banyak cewek, gadis, tante yang saya kenal dan ingin saya pilih untuk menjadi calon Istri saya, bagi saya bisa dibagi menjadi 2 spesies. Pertama, cewek yang belum begitu saya kenal, (mungkin) gak punya potensi untuk dukung masa depan saya, tapi saya sudah suka sama dia. Dan yang kedua, cewek yang sudah saya kenal, memiliki kelebihan dan potensi yang saya idamkan, tapi saya tidak memiliki perasaan apa-apa padanya

Untuk memperjelas masalah ini saya ingin mengambil masing-masing satu dari 2 spesies itu. Katakan Luna Maya (bukan nama sebenernya) mewakili gadis pertama. Luna maya adalah adik kelas saya, anaknya cantik, pinter, supel, aktif, suka nulis, musyrifah lagi, wajar kan kalo aku bener-bener suka sama dia. Hanya saja dari beberapa temennya yang saya interogasi bilang dia tidak/kurang/belum dewasa dalam menghadapi hidu, Ini yang mbingungin. Sayangnya sama gadis ini saya juga sudah benar-benar memiliki “perasaan.”, perasaan yang lahir saat pertama ngelihat dia, sebelum aku memintanya.

Dan yang kedua, Revalina S Temat (nama samaran juga) yang mewakili gadis kedua. Reval adalah temen satu kelas saya sendiri. Saya sudah merasa mengenal dia karena kita temen deket, dia suka curhat kesaya, walaupun saya gak pernah curhat sama dia. Dia tidak cantik, tapi juga gak jelek. Tidak putih, supel iya, pinter lumayan, dan suka nyambung kalo ngobrol (sama si Luna saya jarang ngobrol,) kita memiliki banyak kesamaan, saya merasa dia bisa mendukung harapan-harapan saya, rencana-rencana jangka panjang saya, dan sebagainya, tapi sayangnya saya tidak/belum memiliki perasaan apa-apa padanya.

Inilah yang menjadi dilemma bagi saya, sebaiknya yang manakah yang saya tembak (atau dalam bahasa halus Khitbah?) Walaupun saya sebenernya sadar sepertinya saya suka Luna Maya pertama kali karena pada apa yang saya lihat secara Fisik (tapi gak salah kan?) Sedangkan kalo sama Revalina S Temat adalah apa yang dia miliki yang tidak bisa langsung saya lihat. (sifat, karakter, kepribadian)

Kekhawatiran yang menggelayut dalam diri saya adalah, jika saya memilih Luna, mungkinkah saya akan mendapatkan segala yang ada dan ditawarkan sama Reval? Saya takut menyesal dikemudian hari. Tapi jika saya memilih Reval, bisakah saya mencintai dia (seperti saya mencintai Luna) dukemudian hari? Saya juga takut menyesal dikemudian hari.

Saya khawatir kondisi (perasaan) begini berlangsung sampai menjelang waktunya (target saya 27-28 setelah keliling Eropa, atau kalau udah mepet mungkin 26 atau bahkan 25 aja, yang berarti 2 tahun lagi.) Jika situasi seperti ini yang saya hadapi, menurut temen-temen, bagaimana memikirkannya? Walaupun sebenernya dalam do’a sama Allah, saya seringkali tidak sungkan-sungkan meminta,


“Ya Allah….

Karuniakanlah kepada saya Istri yang solihah, taat, selalu mendukung sekaligus cantik, seksi dan menggairahkan setiap saya memandangnya

Amin…..”


Bibah, boleh kan berdo’a begitu?

Tuesday, January 27, 2009

SUDUT PANDANG 2


"New"UIN Malang

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Presiden No.50 tanggal 21 Juni 2004. bermula dari sebuah Fakultas Tabiyah, cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berdiri pada 1961, lembaga ini beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang pada pertengahan 1997, bersamaan dengan beralihnya status kelembagaan semua fakultas cabang di lingkungan IAIN se-Indonesia yang berjumlah 33 buah melalui Surat Keputusan Presiden No.11 Tahun 1997. Sejak saat itu pula STAIN Malang lepas dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ketika menjadi STAIN pernah diberi nama UIIS (Universitas Islam Indonesia Sudan) yang diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Sudan1. Dan pada 27 Januari 2009 kemarin siang , UIN Malang bermetamorfosa menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan diresmikan langsung oleh Presiden ke-6 RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka "Peresmian Gedung dan Pemberian Nama" yang berlangsung khidmat dan meriah digedung Sport Center UIN Malang.
Sebagaimana tercantum dalam Statuta Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Nomor 137 Tahun 2008, Universitas ini memiliki visi menjadi universitas Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional, dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang bernafaskan Islam serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat2.
Peresmian gedung universitas ini tidak hanya sekedar penyerahan simbolis antara Presiden RI kepada Rektor UIN Malang semata (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo), namun tantangan besar yang tak dapat diprediksi telah siap menghadang tanpa disangka-sangka sedang dan akan datang. Dan untuk mewujudkan idealisme itu semua, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah mentahbiskandirinya sebagai kampus integrasi, antara kedalaman spiritual dan keagungan akhlak (Islam) dengan keluasan ilmu serta kematangan profesional jauh-jauh (IPTEK) hari, harus benar-benar membuktikan pada dirinya bahwa ini bukanlah perkara yang mustahil diraih dan dicapai kedepan guna menjawab tantangan zaman yang berlandaskan ajaran Islam yang rohmatallil’ alamin (tak lapuk dimakan dimensi ruang dan waktu).
Disisi lain, nama Maulana Malik Ibrahim (w.1822/1419) Sang Sunan Gresik, Jawa Timur bukanlah nama yang asing ditelinga Umat Islam di Indonesia, beliau adalah sosok Ulama’ Agung generasi pertama yang telah berjasa besar menyebarkan agama Islam di Jawa Timur khususnya bersama para Wali Songo di bumi Jawa. Apalagi jika dikaitkan dan disematkan pada sebuah lembaga pendidikan tinggi, layaknya UIN Malang yang berusaha sekuat tenaga untuk mencetak dan mempertahankan kader-kader muda yang tidak hanya jenius dibidang ilmu umum tapi juga dahsyat di bidang agama, artinya secara khusus UIN Maulana Malik Ibrahim berusaha merubah dan meluruskan kembali dikotomi keilmuan sekuler yang memisahkan ajaran agama Islam dengan ilmu pengetahuan yang harus ilmiah (empiris) agar kembali pada sirkuit hakikat ilmu pengetahuan sesungguhnya, sebaliknya malah UIN Maulana Malik Ibrahim ingin menegaskan bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang bermanfaat di dunia guna menuju akhirat.

Junaidi Abdillah
27 Januari 2009


DEMI SANG PRESIDEN 
(MENTAL-MENTAL DEADLINE)


Hampir satu bulan ini di UIN Malang khususnya seluruh civitas akademikanya pontang-panting menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya masing-masing laksana Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang, tanpa kenal henti mengejar deadline jelang kunjungan presiden SBY ke Malang (27 Januari 2009).
Panitia penyambutan telah dibentuk, seluruh gedung telah dipermak habis-habisan, rumput dan taman-taman dirapikan serta dipercantik disudut-sudut tertentu dan tempat-tempat strategis. Lembaga kajian mutu terus berbenah mengoreksi kekurangan dan kelebihan masing-masing fakultas hingga rektorat, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa-mahasiswi berprestasi dikumpulkan dan dilibatkan sebagai tamu kehormatan sang presiden, datang, duduk diam memakai jas almamater kebanggaan guna mendengarkan visi-misi beliau.
Andaikata Presiden SBY datang tanggal 5 Januari 2009 lalu, tentunya akan sangat lain, mungkin saja jin Aladin yang akan disewa oleh pihak Universitas. Sebab banyak sekali detail-detail bangunan kampus yang belum selesaikan dengan baik dan hal-hal rumit, yang khusus jadi konsumsi pejabat kampus. Alhasil, sangat tidak mungkin jika tiba-tiba menyewa ribuan tukang bangunan atau pakar untuk menyelesaikannya dalam semalam.
Sampai kemarin siang, pasca turun hujan lebat di kawasan kampus, gladi resik dan hal-hal kecil terus berusaha diselesaikan dengan sempurna. Puluhan aparat Kepolisian, TNI, dan Satpam Universitas saling koordinasi dan berjaga-jaga menyiapkan langkah tepat dan waspada demi keamanan dan kenyamanan mantan jendral sekaligus presidennya di titik-titik penting.
Pertanyannya adalah apakah saat ada kunjungan resmi presiden semata, kita berlari kencang, beringas, teliti, spontan, kerja keras, obsesi, antusias, takut, ambisi, total, semangat, pantang mundur berikan yang terbaik dari yang terbaik untuk orang nomor satu republik ini?. Setelah itu, kita seperti manusia yang kekurangan darah dan oksigen, terbujur kaku dan lemah disudut atau posisi yang kita pijak, lemes, belajar dan bekerja sekedarnya saja, miskin motivasi dan impian berarti, mengawali membangun negeri dari diri sendiri, keluarga, masyakat, bangsa dan negara yang sedang kusut ini.
Tidak bermaksud menyerang atau menyindir siapapun atau apapun yang ada bahkan yang telah tiada. Senyampang mental-mental kita adalah mental-mental takut dealine yang biasanya serampangan dan sedikit-banyak ngawur dalam menunaikan tugas, lambat-laun negeri ini akan menjadi negeri yang selalu sibuk setiap harinya tapi nol hasilnya, sebab dalam proses penggodokannya dikerjakan asal-asalan, dan sebelumnya hanya berleha-leha dan berpangkutangan, sambil berkata: "Santai, Belanda masih jauh, tak mungkin kembali ke Indonesia lagi", nah!.
Dan sudah seharusnya kita menjadi Sriwijaya dan Majapahit yang pantang menyerah menjadi bangsa yang tangguh dan berkarakter, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bukan suatu yang mustahil kita kembali menjadi negara yang lebih beradab dan berbudaya dari segi akhlak dan bhinneka tunggal ika-nya serta memiliki visi misi tajam kedepan yang brilian dan damai untuk Indonesia serta dunia. Bukan malah, sungkan atau takut inspeksi resmi presiden karena bangunan kampusnya belum mboiz (Jawa: bagus, baik) dan tetekbengek-nya, dan sudah sewajibnya kita lebih takut lagi kepada Raja Di Raja yang telah menciptakan presiden.

25 Januari 2009
Djibril Ahmad

Thursday, January 15, 2009

Heaven In The Earth


…I AM PALESTINA…

Halo Zionis-Israel how’s life today?
Are you tired?
Are you stress?
Are you frustration?
What a pity u are, Fucking Gun!
Where is your bomb, tank, F-16, and everything u have?

Come on baby, slowly but sure…
Listen…me
Go to hell now!
If Bush die, if Ehud Olmert suicide, if Obama can’t help u
Come to Indonesia
I wanna give u something
What is that?
Peace, love, unity, respect, and freedom and than…more
Hmm..but I can’t believe you ker!
Because Musa Alaihissalam never believe u too…

14 Januari 2009-J.Abdillah

Puing II
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 & Mata Dewa 1989 )


Perang perang lagi
Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan
Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa
( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
( Tentang ibunya yang mati )
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar


Friday, January 2, 2009

GHAZAL-GHAZAL 3




FUCK ISRAEL !!!

Kenapa kau langgengkan sebutanmu sebagai bangsa jenius-biadab yang banyak bertanya, banyak berdusta? jawab...!
Kau bunuh Nabimu yang diutus khusus untukmu
Kau ingkari Firman-firmanNya demi sepotong bumi Baitul Maqdis
Kau bombardir rasa kemanusianmu layaknya Hyena-hyena buas tuk singkirkan manusia-manusia kecil, ibu yang seperti ibumu, mereka yang ingin terlelap tidur dibuai fajar Gaza


Israel, kau tabuh genderang peperangan yang tidak seharusnya dan selayaknya terjadi dengan alasan apapun dengan nafsu liarmu
Lupakah kau? tanah yang kau klaim dan kau pijak akan runtuh karena kebengisanmu sendiri Bani Isroil!
Tunggulah atom CINTA-NYA
kan hujami Tel Aviv-mu
Sabarlah sejenak Hai pengecut!
balatentara Ababil neraka kan lumat renyah mulutmu yang terkunci rapat

Memang Salahuddin Al-Ayyubi telah pergi

Memang Yaser Ar-Rafat telah mati
Namun bukan berarti kami tak akan kembali

Hijrahkan jiwa, ragamu untuk-Nya wahai Saudara-saudariku Palestina

Karena Surgalah Orchestra nyata hidupmu
Abadan-abadan...amin
1 Muharrom 1430 H

J.Abdillah


"SANG DRUPADI"


Masehi kan tutup tirai ke 2008 nya
Namun belum ku temukan juga Sang Drupadi
Senyampang Indonesia tegap berdiri diantara beling-beling ataupun ranjau
Kami akan terus berlari mengejar montase di ufuk timur hingga ke barat Nusantara
tuk satukan tabib-tabib cinta sebenarnya guna lobati luka-lukaku

Tak terbilang terbayang tarian SEMA Rumi selalu memenuhi otakku yang bangsat!
Arif bijak takkan mampu tombaki jiwamu yang membatu jika kau masih Malin Kundang pada MAHADEWI Sesungguhnya yang datang langsung sebagai PERSEMBAHAN DARI SURGA (maafkan aku Ummi)

25 Desember 08

J.Abdillah

Friday, December 12, 2008

sajak IKa Mudrika

Sajak-sajak IKA MUDRIKA


IBU DAN SENYUMNYA

Senyumnya serupa rembulan yang purnama
Seumpama matahari di titik kulminasi
Layaknya bumi yang tak henti berotasi

Hanya damai yang kurasakan
Tak ada yang bisa menggantikan
Saat senyumnya mengembang
Dari bibir yang penuh kearifan
Dari mata yang memancarkan kehangatan

Malaikat diutus Tuhan untuk senantiasa menjaganya; menjaga Ibu
Menyimpan senyumnya yang pualam
Agar tak sampai kehabisan
Tuhan titipkan kedamaian
Pada tiap-tiap harapan 

Sidoarjo, 4 Februari 2008 

MAAFKAN AKU IBU,,,,,

Aku tak tahu
Apakah lebaran kali ini ku masih bisa menyentuh
Telapak tanganmu yang selalu ku rindu
Telapak tangan yang penuh haru
Haru oleh juangmu
Haru oleh pengorbananmu
Haru oleh tegarmu

Maafkan aku ibu,,,,,,,
Aku tak faham 
Apakah aku masih dalam gelimang dosa?
Karena kali ini ku ulang lagi
Aku tak bisa menjumpaimu
Karena waktu
Karena jarak dan
Karena aku tak bisa menemuimu

Malang, 2007
CATATAN DIPERBATASAN ;
Episode I

Kerang-kerang hanya diam
Bersembunyi dibalik kokoh tiang jembatan
Ikan berenang tak menawan
Pada lautan yang tak dalam

Sementara itu……
Jundi-jundi kecil berlarian 
Telanjang dada dan tanpa alas kaki
Bekejaran, berebut mainan
Tak peduli terik mentari
Lemparkan penat pada alam

Keangkuhan Tidar, Kalimutu, Tirtasakti, Mayang dan kawanannya
Serupa, elok bidadari yang tak tertandingi
Diam, tepekur menunggu para pengantri…..

Kemana mereka akan dibawa pergi
Melewati samudra luas yang tak bertepi?
Mereka….para pengungsi, TKI, penjual roti, anak Bupati dan para pengais rizki?

Sidoarjo, 4 Februari 2008 


PULANGLAH LELAKIKU

Biar mentari yang mengantarmu; aku diam
Biar bintang yang membimbingmu; aku diam
Biar awan yang menemanimu; aku diam
Biar lautan yang menunjukkanmu; aku diam

Malam ini kau pulang
Menerjang aral yang menghadang
Aku tak akan mengantarkanmu
Walau hanya ditepian

Ku hanya bisa bertitip salam
Pada bintang yang mengiringimu
Semoga selamat sampai tujuan 

Malang, 5 Maret 2008 

Monday, December 1, 2008

UNTUKKU BERTUHAN

Tamiiiiiim

Rembulan yang Kini Hadir

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini terbait
Di sela-sela puji-pujian para pujangga yang hilir-mudik
Mewarnai kidung-kidung yang setiap saat singgah
Di medan-medan percintaan
Manusia dan manusia

Merengkuh, mengepal dan menembus batas jiwa
Membungkam setiap peluh yang tertinggal
Dalam nuansa kepedihan yang sengaja dikorbankan

Menanam seribu symbol kerinduan yang terajut
Di awal perjalanan hati
Yang mewarnainya dengan berjuta khayalan
Di setiap jengkal angan-angan
Membuatnya dekat mendekat dalam setiap kenangan

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini terkurung
Di ujung hasrat sebagai kuasa kodrat
Membuat manusia mengulurkan tangan demi
Sebaris makna…cinta

Termasuk juga aku
Yang tiada mampu berbeda dengan mimpi-mimpi
Para pemegang asa
Di gedung-gedung kerinduan
Sampai tiang-tiang mahligai yang sekian lama membendung diri
Menyampaikan beberapa risalah hati
Untuk para rembulan
Yang tiada tahu apakah masih terlelap
atau telah lama pergi membuana menyinggahi para pecinta abadi

Rembulan yang kini hadir
Adalah sebuah nama yang selama ini sulit disebutkan
Terlalu tinggi hingga pujanggapun akan menangis
Jika kekasihnya jadi rembulan


Malang, 2007

Sebersit Kasih Saat Pagi

Hujan pagi ini
Menuntaskan batas kegelapan yang telah berpamit
Meninggalkan peraduan yang membuat satu perjalanan hari terlewati
Oleh dinginnya kesyahduan malam
Oleh derasnya kerinduan mentari

Melintasi sepenggal demi sepenggal jarak
Yang terbentang sebagai awal persembahan waktu
Di pelataran rembulan dan mentari
Jadi saksi atas persalinan hari

Hujan pagi ini
Mengaburkan sepenggal kemesraan
Yang kiranya tak tersadari oleh hati
Antara percik dan embun
Antara ada dan tiada

Maka lingkarilah sepenggal kemesraan itu
Dengan sedikit kata hati
Hingga dapat Kau lihat seberkas kasih
Yang menyelimuti dengan samar
Di balik tajamnya penglihatan

Hujan pagi ini
Membingkai keindahan basah
Yang belakangan ini hilang dari pandangan


Malang, 2007


Karena Debu Ini
Ku ingin menyentuh-Mu

Debu ini menghalangi sepasang mata
Di balik sajadah
Yang tergolek lusuh merayap perlahan
Mengitari tubuh yang memohon syahadah

Pun tiada kata terucap
Menyangga keperihan penyesalan
Yang membuatnya tertancap pasih
Hanya satu tetes dua tetes tiga tetes dan banyak tetes
Yang saling berpelukan
dan menyatu
dan tersungkur

Matanya merah
Merejam riwayat yang membuatnya jadi sampah
Hitam putih
Bertabur aroma kamboja

“Hai Kau yang membuat tubuh
aku mohon padamu
sapihlah air mataku yang jatuh ini
dengan tanganMu
agar kubisa menyentuhMu”


MalanG


DI BALIK AKU DAN DIA

I
Di balik keindahan yang terlahir
Dari dunia yang rapuh
Ku sapa setapak jejak tangis
Kering sepah dalam sejarah dan hati
Mengorek luka dari serpihan kaca yang tercecer

II
Setiap luka terbisik duka
Yang tersuling atas pesan-pesan
Masa depan yang diharap bersih
Menandingi luka yang selama ini diderita

III
Dan pada setiap luka
Tergambar sebuah mahligai
Yang sewaktu-waktu datang
Membawa dua gulungan perban dan sedikit alkohol
Untuk menutup luka
Dan berharap tertutup selamanya

IV
Bila harapan itu tiba
Seusai pelarian sirat
Lembaran-lembaran yang dulu hilang
Pun akan terlebur jadi dua
Aku dan Dia


Malang, 30 April 2007


ANDAIKAN KAU BENAR TENTANG INI

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk mengulang apa yang Kau katakan
Menghafalnya dalam kata
Sambil menutup mata
Dan tersenyum ringai
Tanpa ragu

Menyebutnya berkali-kali
Hingga tak kuingat lagi sampai mana jalan ini kutapaki
Hanya cinta
Hanya pasrah

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk berpikir tentang apa yang Kau katakan
Memilah-milah makna abadi
Dari gambar kebenaranMu
Yang seringkali menunduk malu
Atau hanya tak punya waktu untuk membuka mata

Ia terlalu lugu
Hingga untuk menampakkan diri dalam
Kaburnya petuah beliau, beliau dan beliaupun
Ia masih menunduk

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk melakukan apa yang Kau katakan
Sambil membaca basmalah
Ku buka mata perlahan
Dan ku coba injak duri yang selama ini menjilati kakiku
Agar ku tahu sakitnya
Atau ku tahu senangnya menginjak
Walau mataku terus berair

Andaikan Kau benar tentang ini
Maka izinkanlah aku untuk menganggapmu benar
Dan menunjukkannya pada waktu


Malang, 02 Mei 2007



SENYUM
Andai dunia menganggapmu


Kalau saja singgasana keindahan manusia
Terpenuhi sejumput senyum “tulus”
Maka dunia tak ‘kan kehilangan damai
Dari alamat tuan hingga gubuk tua sang pedati
Segala niscaya akan terukir dalam benak
Yang mungkin bukan mengadu, tapi mengaku
Pintu-pintu pun dan apapun akan senang hati
Membuka diri pada semua abdi

Tak ‘kan ada hati yang mati
Tak ‘kan ada diri yang tersakiti
Bahkan mungkin tak ‘kan ada yang bunuh diri
Seisi bumi akan menyanyi lagu-lagu hati
Di sela-sela keluhuran nurani dengan mahkota mungil
Yang siap menyapa setiap pejalan kaki
Yang mungkin lewat di depan imaji

Kilau jari-jari embun di sekujur perjalanan waktu
Pun tak ‘kan menari ragu
Dengan bekal-bekal keindahan,
Bahkan keharuan syahdu-syahdu yang termangu
Di balik keabadian rindu.

Wahai senyum yang rekah
Abadikan damai dalam bingkai cinta
Tampakkan surga di dua sisi mata
Hingga “mereka” tertarik
Hingga “mereka” tak sabar masuk ke duniamu
Hingga suatu saat tak tersisa “mereka” tanpamu



Malang, 13 November 2006